Batari Durga: yang Dihukum, yang Dipuja

Seorang kawan berkata bahwa kesan pertamanya terhadap saya adalah mengerikan dan tidak bersahabat. Iapun mengidentifikasi saya sebagai Batari Durga. Beberapa lama kemudian ia mengirim foto patung Durga Mahisasuramardini, dengan keterangan pose menjambak anak kecil itu mirip kamu. Meski akan lebih bangga jika dilihat sebagai Saraswati, saya mengambil kesempatan untuk mengenal Durga lebih dekat.

Menurut bahasa Sansekerta, Durga (dur + gam) berarti benteng (Kumar: 1974, dari The Goddess Durga in the East-Javanese Period oleh Hariani Santiko) yang bisa juga diterjemahkan sebagai tidak tersentuh atau terisolasi. Sementara itu Ensiklopedi Wayang Purwa I mengartikan gelar Durga sebagai kecewa / jelek / tidak menyenangkan. Ia adalah jelmaan dari Dewi Uma (Parwati) yang cantik jelita. Mengenai bagaimana Durga berubah wujud dari wanita cantik menjadi raksasi, ada beberapa versi cerita. Versi pertama, ia dikutuk oleh suaminya, Batara Guru, karena menolak bercinta di atas lembu Nandi. Versi kedua, ia dikutuk suaminya karena ketahuan selingkuh dengan seorang pemerah sapi (padahal pemerah sapi itu sebenarnya merupakan jelmaan dari Dewa Siwa sendiri yang tengah menguji kesetiaan Dewi Uma. Dewi Uma memutuskan untuk tidur dengan sang pemerah sapi demi mendapatkan susu sapi yang sangat dibutuhkan oleh suaminya). Semenjak kutukan itu, Dewi Durga berubah tampilan menjadi mengerikan dengan mata dan hidung besar serta bertaring. Ia hidup terisolasi di Setra Gandamayu, kuburan paling mengerikan di seantero bumi.

Durga memang kecewa. Kekecewaannya disebabkan karena kesetiaan dan dedikasinya yang sangat besar kepada Siwa diacuhkan. Siwa masih merasa perlu mengetesnya dengan berbagai cara, hingga akhirnya ujian itu menjerumuskan dirinya, dan ia harus mendapat hukuman. Hukuman, seperti kata Foucault, memang bukan hanya perkara yudisial, tapi lebih dari itu, adalah ritual politik. Karena itulah hukuman yang diberikan terhadap Uma bersifat fisik, ia diubah menjadi Durga yang berpenampilan mengerikan. Harapannya, orang lain akan melihat Durga sebagai tokoh yang berperilaku menyimpang, dan karena itu menghindari perbuatan yang sama (tentu banyak yang beranggapan bahwa peristiwa ini bermuatan patriarki. Mungkin saja). Bagaimanapun, menurut Foucault juga, hukuman memang akan membuat tubuh menjadi pesakitan, namun jiwa yang ada di dalamnya dapat memberikan kemungkinan lain. Hukuman yang diterima Durga tidak membuatnya mengaku salah. Alih-alih, ia menunjukkan resistensi. Malah dalam beberapa versi, ia dikisahkan balik mengutuk Batara Guru yang ia anggap memperlakukannya secara tidak pantas. Yang pasti, resistensi ini membuatnya bertransformasi dari dewi lembut yang tidak berdaya, menjadi penguasa Setra Gandamayu. Bersama para pengikutnya yang berwujud raksasa dan dedemit, ia menunjukkan kekuasaan serta kekuatannya. Dikisahkan, sebelum Perang Bharatayudha dimulai, Dewi Kunti meminta Arjuna untuk terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Durga agar bisa mengalahkan Kurawa. Kisah ini rupanya menginspirasi Raja Airlangga yang dikenal menjadi raja yang sangat memuja Durga untuk bisa memenangkan perang melawan musuh-musuhnya.

Chamundi di Museum Trowulan. Photo taken by Ahlul Amri Buana

Selain Airlangga, Kertanegara juga dikabarkan memberi perintah pada keluarga kerajaan untuk melakukan pemujaan terhadap Chamundi demi melanggengkan posisinya di tampuk kepemimpinan. Chamundi adalah bentuk persatuan sakti (kekuatan) dari para dewa yang bertransformasi menjadi pasangan wanita mereka. Termasuk di dalamnya adalah Kali (Durga) yang merupakan sakti dari Dewa Siwa. Chamundi, karenanya, dikenal sebagai bentuk terkuat dari Batari Durga. Pemujaan Chamundi diidentikkan dengan ritual Tantrayana yang memang dipraktekkan oleh Kertanegara setelah ia mendengar bahwa Kubilai Khan menganut aliran tersebut yang membuatnya selalu memenangkan perang (akhirnya Kertanegara justru terbunuh dan Singasari runtuh akibat Kediri yang menyerang di saat Kertanegara dan keluarga kerajaan tengah melakukan ritual seks Tantrayana).

Di sisi lain, Durga juga digambarkan sebagai dewi penyebar penyakit dan kematian. Hal ini dikisahkan dalam lakon Calon Arang, seorang penyihir yang murka karena anaknya yang cantik, Ratna Manggali, tak kunjung menerima lamaran. Alhasil Calon Arang mengadakan ritual pemujaan pada Durga dan memintanya menyebarkan penyakit mematikan di seluruh desa. Sementara itu, masyarakat di beberapa wilayah di India melihat Durga sebagai dewi pelindung, bahkan dewi yang memberi kesuburan pada sayuran! Meski sebagian dari mereka juga memuja Durga karena takut akan kutukan penyakit mematikannya ketika sang dewi merasa tidak puas.

Meski begitu, lakon Durga yang paling terkenal tetaplah kisah heroiknya yang berhasil mengalahkan Mahisasura, raja raksasa berbentuk banteng besar yang telah lama mengganggu kehidupan para dewa. Tokoh anak kecil dalam patung Durga Mahisasuramardini yang dikirim oleh kawan saya itu sebenarnya adalah sosok asura, raksasa dalam bentuk manusia, hanya saja ukuran tubuhnya memang masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan Durga. Jadi, kalau saya adalah Durga, saya sebenarnya menjambak rambut raksasa.

Durga Mahisasuramardhini. Photo taken by adrian
Durga Mahisasuramardhini. Photo taken by adrian

 

Durga adalah dewi yang terhukum karena kesetiaannya.Karakternya memang berubah bersamaan dengan wujud fisiknya (entah kenapa tidak seperti Anoman yang, justru karena menyadari wujudnya yang seperti kera, atau memang kera, berusaha untuk selalu berbuat baik dan bersifat kesatria untuk membuktikan jiwanya yang sama baik, bahkan lebih baik, dari manusia biasa). Namun sebenarnya, seperti tokoh epos Mahabharata lain, Durga tidak hitam atau putih. Ia garang, tapi ia juga pelindung. Ia korban, tapi ia juga bertahan.

Yogyakarta, 15 Mei 2013

 

Dalam Kenangan Chavez

Suatu hari di tahun 2006, saya terkesima membaca berita di surat kabar tentang seorang presiden bernama Evo Morales. Ia adalah presiden Bolivia—rupanya presiden pertama yang merupakan penduduk asli—yang di hari tersebut, bersamaan dengan Hari Buruh sedunia, menasionalisasi seluruh perusahaan minyak dan sumber daya alam di negaranya. Perusahaan asing masih diperbolehkan berpartner dengan Bolivia, dengan syarat bahwa mereka tidak boleh menguasai lebih dari 18 persen royalti perusahaan. Saya ingat bahwa saya begitu kagum, dan cemburu. Menurut data yang diutarakan Ricklefs lewat bukunya, sejak tahun 1920 sudah ada sekitar limapuluh perusahaan asing yang ada di Indonesia untuk mengeksplorasi kandungan minyak bumi yang ada di sepanjang Aceh hingga pesisir timur Kalimantan. Bahkan perusahaan Shell yang terkenal itu sengaja didirikan untuk membiayai pengeboran di Kalimantan Timur. Pada tahun 1930, ia memproduksi sekitar 85 persen dari keseluruhan produksi minyak bumi Indonesia (Ricklefs: 2005). Royal Dutch Shell masih bertahan hingga kini, omzetnya hanya 0.8 juta dollar lebih rendah dibandingkan pendapatan Turki, dan jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan perkapita Portugal dan Hongkong, dan entah berapa milyar lebih kaya dibandingkan Indonesia.

ImageEvo Morales, presiden yang membuat saya terkagum-kagum ini, mendapatkan inspirasinya dari presiden lain, namanya Hugo Chavez. Chavez menjadi Presiden Venezuela selama limabelas tahun dan ia menginspirasi Morales untuk menasionalisasi perusahaan sumber daya alam di negaranya.

Chavez bukan orang favorit Amerika Serikat dan Eropa. Chavez juga bukan fans berat keduanya. AS dan Eropa mungkin menjadi kiblat bagi kebanyakan masyarakat. Kita semua ingin pergi ke AS dan keliling Eropa. Kita menghargai demokrasi dan menyukai ide-ide kebebasan individu. AS kita pandang sebagai bangsa demokratis yang dewasa, dan kita sudah melupakan penjajahan berabad-abad yang dilakukan oleh bangsa Eropa di seluruh dunia, mereka kini jadi ikon keadilan. Tapi di saat yang bersamaan, AS dan Eropa juga menjadi ikon kapitalisme, dan di sinilah citra itu berubah. Kebebasan itu menjadi penjajahan, keadilan itu berubah menjadi ketidakadilan.

Pasca nasionalisasi perusahaan, setidaknya perusahaan tidak semata berorientasi kepada profit. Karena ia adalah milik negara maka prioritasnya adalah memenuhi kepentingan rakyat. Manfaat dari perusahaan tidak hanya didapatkan oleh segelintir orang, melainkan lebih banyak orang. Namun hal yang lebih penting lagi dari nasionalisasi perusahaan adalah munculnya kebangaan dan harga diri. Indonesia dan negara-negara Amerika Latin mengikuti strata yang diterapkan tatanan internasional, dan di situ mereka ditempatkan sebagai negara dunia ketiga; tingkat literasi rendah, demokrasi yang belum dewasa, merebaknya penyakit menular, dan fakta-fakta lain yang menunjukkan impotensi negara. Hal ini dipertegas dengan ketidakmampuan kita dalam mengurus sumber daya alam sehingga harus diserahkan di tangan asing. Ketidakberdayaan itu membuat kita membiarkan perusahaan-perusahaan kaya melenggang masuk dan pergi membawa kekayaan, tidak meninggalkan apapun kecuali tanah yang rusak pasca pengeboran minyak.

Chavez mengubah ketidakberdayaan itu. Ia mengangkat posisi tawar negaranya, dan menanamkan kepercayaan diri pada bangsanya untuk mengontrol sumber daya alamnya sendiri. Kepergiannya menyesakkan hati dan memunculkan kegelisahan tentang apa yang akan terjadi kemudian. Chavez tentu pergi sebagai sejarah. Itu artinya, sosoknya akan dikenang, namun perjuangannya belum tentu mampu dilestarikan.

Saya menghibur diri dengan masih adanya Morales dan Ahmadinejad. Orang bilang Ahmadinejad gila. Tapi memang perlu kegilaan untuk bisa menantang strata tertinggi dalam tatanan internasional. Lagipula dalam keadaan seperti apapun, kita selalu butuh ikon perlawanan. Terutama saat kekayaan negara Anda sudah dikuasai oleh tangan-tangan asing sejak tahun 1920, dan belum berubah hingga sekarang. Chavez. Semoga sosokmu akan selalu dikenang dan api perjuanganmu terus berkobar.

Image

Yogyakarta, 12 Maret 2013

Cruel Male Dominated Culture

If I were to borrow Galtung’s theory on structural imperialism, then man is the centre in our society while woman is the periphery. Woman has to perceive that they live in a society where norms were made by the man and through their perspectives. This has been going on for centuries. And now that human right issues were praised, and women’s rights were highlighted, the word of “emancipation” was introduced, women are still living in a dilemma.

I found this cartoon and I found it ironically true.

male dominated culture

In Saudi, women are obliged to cover themselves from head to toe, they are not allowed to drive or to leave the house without the company of their husband or male relatives.  These regulations intended to protect women, they said. Meanwhile sexual assaults are continuously happening throughout the country. It turns out that the head-to-toe cover is not enough to protect the women from being abused. The particular clothe does not prevent them from being looked down by men.

Others believe that these regulations are only extensions from patriarchy ego wanting to limit the rights of women to express and articulate themselves. So they decided to reveal. Show as much skins as possible, and trying to prove that jumping to one bed to another is not only guy-thing, and so on. These behaviors fail to lift their dignity, now woman is a sex object, for men. Even more ironic, sometimes “the revelation” is undertaken not with the spirit of self-liberation—like when the women burn their bras in the 60s—but on the contrary, they do so because they were craving for male attention.

Dammit, it becomes all about men again.

The year of 2012 is closed by an outrage. A medical student in India is passed away recently. 10 men took turns to rape her in a moving bus, beat her after they finished, then threw her out of the bus. I feel like crying everytime I think about it. But she was not the only one. Many other women experience the same thing in my country. Interestingly, both officials reacted almost in the same way. An Indian official urged miniskirts to be banned, remind me of Foke. People were in rage to hear these statements. Some argued that one of the ladies who got raped and killed in Jakarta was wearing polite clothes when the tragedy happened, she just came back from thesis defense, obviously she didn’t wear hot pants, but she still got raped. Others arranged slut walk in the city holding the sign: “You raped her because her clothes provoked you? I should break your face. Your stupidity provoked me.”

india

Maybe clothes do not matter, maybe we should avoid too much argument around it. It’s the guy’s problem who has no respect. But why don’t they? Maybe because they are also the victim of social construction. They grew up knowing that they have privileges, something the female doesn’t. I said we should pity them. Thank goodness there are more men who are aware with the issues of women’s rights and equality nowadays. But we can’t keep yelling to ask the rest of them to change their perspectives right away. Maybe, instead of asking them the favor, we can do ourselves the favor.

It doesn’t matter how we look. If you choose to wear veils due to religious beliefs, it is very admirable. If you choose not to because you feel comfortable that way, that too is okay. If you like to show your sex appeals then go ahead. Woman wants to look attractive. But physical appearance is not the only thing we have, we have so many other things to prove.

May 2013 gives bless and courage to all women in the world.

 

31/12/2012

Goodreads Badreads

Goodreads is an application I recently use. It feels good to share what have you read and what did you think about it, what are you reading and what will you read, to people who actually care. It feels good because I found it hard to find people who can share their thoughts on books with me. I started to realize it when I was in an airport, waiting for a flight to take me from Detroit Michigan to Pennsylvania. I was with three other Indonesian girls and 4 American girls. The American started to talk about Shakespeare, casually. They were like, “My favorite is Romeo and Juliet.” // “Are you kidding me? It was just about stupid teens who made bad decisions because they had crush on each other!”/ And then about Othello and other Shakespeare’s I could not remember. I remember that I felt jealous, though. I thought, “Should I start a conversation with my Indonesian friends about Indonesian classics’? Like Siti Nurbaya? Oh no, never mind. I never really read that book. Hmm what about first wave poets? Oh but I didn’t read theirs either. I just learned about their names, not their works, in high school. Okay then let’s talk about Pramoedya’s! I read Pramoedya’s. Oh but they didn’t. What about Remy Sylado’s? Oh never mind!!”

Okay I might exaggerate a little bit, but the frustration is real.

Maybe the first frustration is because we Indonesian young people don’t have the same basic knowledge about Indonesian classic literature. When we were in high school, teachers made us memorize who wrote what, and who belongs to which generation. Some teachers are probably good enough to ask the students read the book, and ask them to re-tell. But not in my school, memorizing name and title was the best I could ask for, and I think the same thing happened in many other schools. Now this is unfortunate because without actually reading the books, we wouldn’t know the story (obviously), we wouldn’t know the message the writers were trying to deliver, we wouldn’t know the literature trend in Indonesia and how it transforms, and we never learn to appreciate and to enjoy literatures. That’s why nowadays you’ll see more people tweeting and facebooking, instead of reading, while waiting for bus.

Second, I was unhappy because there are only limited group of people that I can talk about Pramoedya’s or Goenawan Muhammad’s with. Until I realized that this is not necessarily a bad sign. It’s not like people doesn’t like to read, but probably they just read different books. For example, I like reading history. A wise man said that we only live for a short time, but if we learn history, it’ll feel like we live for hundreds of years. But I don’t read self-help or motivation books like Chicken Soup for whomever souls, or how to be rich, or how to get married in 3 weeks. It simply because most of the time I can’t relate with the situation described by the writers, and because different people give different advices. For instance, now I’m confuse which one is right, “When you love someone you shall let him go” or “If you love someone you have to fight for him no matter what.”

People read because they need what’s inside it. I need to read Sophie’s World because I want to get to know world’s philosophers, The Africans because I want to learn Africa through a person who experienced the continent directly, and Harry Potter because I need some adventures. Others read Chicken Soup for the souls because she wants to fix her relationship with her mother, or How to be a Success Entrepreneur because he is about to start his own business. Who knows, someday, I’ll carefully read Why Men Marry Bitches? because I’m too exhausted failing in relationship.

A(R)Photo0077

We can still estimate qualities of books though, I believe; which one is good book and which one is not. I’m going to use my father’s theory in it. My father is a curator and an art critic, he told me that good paintings are the one fulfilling the two aspects: the power of attracting, and the power of intruding. By attraction, it means the painting looks good, eye-appealing. It should also be painted in certain techniques to show your expertise and that you’re mastering art. Last but not least, the painting should tickes you with a meaning. Beautifully painted and awesomely scratched, a painting will not be valuable if it does not deliver any strong and meaningful messages. I think the theory can be applied to books too. Therefore I can argue that Goenawan Muhammad’s Catatan Pinggir is a good writing, or a collection of good writings, in the case of Kumpulan Catatan Pinggir. Goenawan Muhammad tells you attractive story, for example in one his text titled El Cambio (Catatan Pinggir 9, p.229, Tempo August 10 2008), even the title makes you wonder. He wrote about the newly elected US President Obama, and how the man who once called out for change, will finally go with the flow of power and politics. GM wrote beautifully. He own rich dictions, process them perfectly into poetic, seducing, yet straightforward sentences, “Akhirnya, Obama kembali ke dalam kisah yang biasa: sejarah politik adalah sejarah kembang api. Pada suatu hari yang gelap, sebuah partai atau seorang tokoh politik dengan cepat terlontar bercahaya ke angkasa, bak bintang luncur dengan suara riuh. Tak lama kemudian, ia tak tampak. Ia malah mungkin jatuh sebagai arang yang getas.”  Finally, each of his writings makes you stunned, think, contemplate…

I like to find people grading books, now we can start a conversation. We can talk casually, why you read those books and why I read these. Or, when we start to grade them, we can skip our personal tastes and discuss what aspect takes to make it a good read or a bad read.

Yogyakarta, 27/12/2012

Bingungnya Afrika

Ini semua gara-gara David Lamb yang lucu. Sungguh saya tidak bermaksud menertawakan nasib ribuan orang Afrika yang sakit dan kelaparan, sementara Jean-Bedel Bokassa dari Republik Afrika Tengah bangun di pagi hari, kemudian memutuskan untuk mengubah negaranya menjadi kerajaan setelah terinspirasi Napoleon Bonaparte. Atau menertawakan ribuan orang Uganda yang dibuat menderita lalu mati oleh Idi Amin, yang menyatakan dirinya bergelar Doctor of Philosophy dari Universitas Makarere. Saya tertawa saat membaca The Africans, karena gaya menulis Lamb yang dinamis dan humoris. Meski bisa jadi tawa itu juga muncul karena kisah-kisah yang didapatkan oleh Lamb melalui empat tahun pengembaraan di Afrika itu memang lucu. Lucu, karena tidak masuk akal.

Semester ini saya mengambil kelas Politik dan Pemerintahan Afrika, dan setiap minggunya saya hanya merasa dijejali dengan cerita-cerita aneh, yang semakin menunjukkan betapa anomalinya benua Afrika; kudeta bukan peristiwa yang luar biasa, pemimpin korup menggantikan koruptor lainnya, kemiskinan merajalela, HIV/AIDS menjadi penyakit umum, perang saudara dan genosidapun merupakan bagian dari sejarah. Keadaan-keadaan ini tidak cukup membuat rakyat Afrika bersatu untuk menuntut atau membuat gerakan perubahan. Ketika ditanya apa alasannya, kelompok-kelompok yang melakukan presentasi biasanya menjawab, “Karena masyarakat Afrika tidak memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa, mereka masih sangat terikat pada kesukuannya.” Karenanya, bagi mereka, memiliki masalah yang sama dengan suku lain tidak menjadikan masalah tersebut sebagai masalah bersama, yang harus dihadapi secara bersama-sama pula. Menurut saya ini masalah yang sangat mendasar: masyarakat Afrika tidak bisa mengubah nasib negaranya, simply karena mereka tidak memiliki ikatan dengan obyek yang hendak diubah itu. Ironisnya, ketidakmampuan orang Afrika untuk mengubah nasibnya sendiri ini mengakibatkan orang-orang asing datang untuk mencoba mengubahkan nasib mereka. Kata mereka, orang-orang asing ini, “Afrika butuh demokrasi.”

Demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan di mana orang-orang yang menempati posisi pemerintahan bertanggungjawab untuk membuat keputusan yang mengakomodasi kepentingan rakyatnya. Supaya kepentingan rakyat ini bisa diketahui dengan jelas, pemerintah berkewajiban untuk menciptakan lingkungan yang membebaskan masyarakat untuk bisa menyatakan pikiran dan keinginannya. Pola ini terdengar sederhana, akan tetapi tidak semudah itu di Afrika. Bahkan jika pemerintah mengakomodasi kepentingan rakyatnya, ia hanya akan mengakomodasi rakyat yang bersuku sama. Selebihnya akan cukup beruntung untuk diperbolehkan hidup. Karenanya, asumsi bahwa “Afrika membutuhkan demokrasi” menjadi asumsi yang melompat terlalu jauh. Pendapat ini tiba-tiba muncul sebelum pertanyaan “apakah demokrasi bisa diterapkan?”, bahkan “apakah Afrika bisa menjalankan pola negara-bangsa seperti tempat-tempat lain di dunia?”

africa_africa_457075

Jauh sebelum orang Eropa datang untuk membagi-bagi tanah Afrika seperti roti, Afrika adalah tempat bagi kerajaan-kerajaan. Masyarakat Afrika tidak terikat secara wilayah, kebanyakan dari mereka tergabung dalam suku-suku nomaden yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saya membayangkan cara hidup yang fluid dan laid back. Saya tidak bisa membayangkan keterkejutan mereka ketika mendadak dihadapkan pada konsep negara-bangsa. Tiba-tiba, suku-suku nomaden ini tidak bisa pergi ke semua tempat yang mereka inginkan begitu saja. Mereka dikelilingi oleh batas negara. Mungkin kata mereka, “Apa itu negara?”

Berdirinya negara di tanah Afrika juga menyebabkan tercerai-berainya suku. Salah satu akibatnya adalah kemunculan gerakan iredentisme, alias upaya mengakuisisi sebuah wilayah di bawah bendera suku tertentu. Dari sini darah mengalir, dan lebih banyak lagi darah yang mengalir karena negara menjadi tempat bagi orang-orang untuk berebut kekuasaan dengan cara saling menyingkirkan.

Bagaimanapun, percakapan saya dan seorang kawan di hari itu berhenti di sini. Berhenti pada keluhan akibat terbentuknya negara-bangsa di Afrika. Kami hampir saja merasa jenius dengan menemukan sebuah alternatif bagi Afrika, “Mungkin kita harus menghapus negara-negara di Afrika!”, sebelum akhirnya kami sadar bahwa ide itu amat kekanak-kanakan dan mustahil. Dunia kita sudah berjalan di atas konsep yang kokoh ini, di mana setiap jengkal tanah dan setetes air adalah bagian dari sebuah negara, bukan entitas lainnya. Afrika tanpa negara mungkin menjadi Afrika yang semakin terisolasi.

Akhirnya saya melanjutkan membaca buku David Lamb tanpa mencoba mencari jalan keluar. Saya hanya mengikuti petualangannya, kadang-kadang tertawa, terkesiap karena ketidak-percayaan. Terbersit keingintahuan apakah The Africans tahu bahwa peradaban manusia tertua ditemukan di benuanya. Tapi apa bedanya kalau mereka tahu?

21/12/2012, Yogyakarta

Arjuna

My 9 months old nephew, Arjuna, just learned to walk. He liked to put everything inside his mouth- cup, jelly..

Arjuna

His eyes was full of curiosity and he would crawl toward anything that attracts him.

He laughed cheerfully when his brothers shouted his name.

Said his father, he used to put Arjuna on a frying pan, then he would spin the pan until Arjuna roared with laughter.

Thursday morning, a car accident took the life of Arjuna, as well as his father’s and his brother’s Krisna. They were on their way back home from our big–and happy–family gathering, a day before that. His oldest brother Bima and his mother survived.

I miss him.

Goodbye Arjuna, Mas Anjar and Krisna. Rest in peace in the arms of God.

The 17 of August

Yesterday my father asked me whether it was possible for me to talk about independence day from youth perspective in the neighborhood meeting (some places have the tradition of tirakatan a night before August 17, taken from the root word of tirakat which means to suffer, or to concern? In tirakatan, people will contemplate, in this case, about the meaning of independence). Eventually my brother would do it, because first, he is a male (I know, I know, hate me, Feminist. Our tirakatan this time was located in our new mushalla. So the speaker will be speaking where imam is usually spotted), and second, because I think he is a better speaker than I am. But anyway, thinking about my dad’s request, I had the difficulties to talk about independence day, what am I going to contemplate about? Of course I think about being grateful, like, without the sacrifices from all the patriots, we would’ve been still under the Dutch or Japan colonialization, I wouldn’t be able to go to school and my dad and my brother would probably be taken as romusha. But what is beyond that?

my girlfriend asty and i celebrated the independence night by having an iftar in red-white dress code

I don’t know if I can talk behalf of my generation, but as a person who was born 45 years after the independence, I have the difficulties to contemplate about the meaning of independence. Why? Because I was born with it. When I was a baby, I and everyone else were already granted the Indonesian citizenship and full rights as citizens. We use Indonesian currency, Indonesian man sitting as a president, we didn’t try to take this land from other countries’ hand. This is our land, our nation, and our country, and I take it just like that, for granted.

Youth, through the history of Indonesia, or probably the history of many other civilization, has been playing a very important role within the society. Our independence, for example, would not be achieved without the ‘reckless act’ of the youth. Chairul Saleh, Wikana and Soekarni ‘kidnapped’ Soekarno and Hatta to protect them from Japan’s influence and at the same time to persuade them to proclaim the independence as soon as possible. We also know Soe Hok Gie, whom the thoughts were very critical, original and bright. Soeharto regime was thrown, one of them was because the movement of university students. I am a young woman and I go to university. I should’ve meant something. I am one of the very few who is fortunate enough to go to college. It should’ve led somewhere.

Since I went to college, I no longer have the responsibility to join a flag ceremony. So I guess I have no symbolical activities to value the independence. But August 17 itself is a reminder, no matter how apathy I am, this date will always come around every year and it will make me, at least, thinking about how am I going to value independence. It will remind me on what steps should I take as an independent person who has the absolute bless, to be born 45 years after the patriots took huge and risky steps to create an independence nation.

August 17 2012