Perang Melawan Semuanya ala Sosmed

Pernah nonton Where Do We Go Now? Film festival asal Lebanon yang menceritakan sekelompok perempuan di suatu desa terpencil yang berusaha menjaga stabilitas dan perdamaian di desanya, yang dihuni oleh warga Muslim dan Kristen. Bukan tugas yang mudah. Di pekan pertama, Amal, Yvonne dan teman-temannya harus membakar surat kabar. Pekan berikutnya mereka harus merusak radio dan televisi- satu-satunya radio dan televisi yang dimiliki oleh penduduk desa. Selanjutnya, perempuan-perempuan ini masih harus siaga untuk melihat tanda-tanda perpecahan, lalu segera memutar otak untuk mencari solusinya. Mereka harus gerak cepat. Sebelum terlambat. Seolah-olah, setiap satu ‘misi’ selesai, mereka menghela nafas dan langsung bertanya pada diri sendiri, “Where do we go now?”, “Ke mana kita sekarang?” atau, “Opo meneh saiki jal?”

maxresdefault
Tokoh Amal dalam Where Do We Go Now? – sumber: Youtube

Hal ini karena tampaknya, pemicu kemarahan manusia itu tak ada habisnya. Selalu ada saja hal-hal yang menyebabkan darah kita mendidih, membuat segalanya jadi tampak hitam-putih, dan kita hanya boleh menyukai salahsatunya saja. Sisanya harus kita benci, tidak bisa biasa-biasa saja. Dan karena benci, maka kita harus menjauhi, menghina, kalau perlu memukul.

Usai menonton film itu, yang terpikirkan di benak saya adalah: Mereka belum merasakan yang namanya media sosial. Di desa yang terisolasi saja, Amal dan kawan-kawannya sudah kalang kabut menjaga kedamaian. Entah bagaimana jadinya jika mereka berada di kawasan yang penuh sinyal, sehingga provokasi dan hoax hanya berjarak dua ibu jari. Pasti mereka akan menyerah. Fuck this shit. Terlalu sulit. Social media is such a riot.

Kata orang, kita harus toleran dan terbuka. Kata orang juga, perkembangan teknologi saat ini memudahkan kita untuk melihat berbagai sisi yang berbeda. Such an ideal thought of technology and social media, yes? Yang mungkin kita tidak tahu adalah, media sosial seperti facebook tidak memberikan ruang yang sebebas yang kita bayangkan untuk melihat “sisi lain”. Facebook punya sistem tersendiri yang mempengaruhi informasi atau iklan apa saja yang masuk ke timeline kita, termasuk diantara yang mempengaruhi pengalaman kita saat scrolling timeline ini adalah interest, advertisers we’ve interact with dan informasi personal. Saya mencoba mengecek bagaimana aktivitas online saya mempengaruhi timeline facebook. Hasilnya, facebook ternyata memasukkan saya dalam kategori berikut ini: Away From Family, All Frequent Travelers, Smartphone Owners, 3G Connection (Cih, gak tau dia saya baru punya hape 4G dibeliin suami! *pongah*), Close Friends of Expats, dan Family-based Households. Facebook juga mengidentifikasi website yang sering atau pernah saya buka, antara lain: Traveloka, The New York Times, Comedy Central, Rainforest Action Network, The Guardian, The Body Shop, Buzzfeed dan Kumparan. Dari situ, sedikit-banyak saya sudah bisa mahfum tentang alasan di balik sponsored pages yang muncul di timeline saya, yang rata-rata progresif, pro keberagaman, feminis, dan biasanya pro Jokowi dan Ahok. Hasilnya tentu berbeda jika mereka memasukkan saya dalam kategori: Meninist, Anti-Semitics, Islamophobic dan Chinese-haters (LOL just kidding, saya nggak tahu apakah kategori-kategori itu ada). Atau jika saya lebih sering membuka situs panjimas, eramuslim, gemaislam, kiblat.net, atau situs-situs lainnya yang juga diajukan oleh BNPT untuk diblokir. Intinya, facebook sudah secara automatis mengatur agar kita sebisa mungkin hanya membaca dan mendengar apa yang kita mau dengar. (Jika kamu ingin mengecek bagaimana facebook memasukanmu dalam kategori-kategori yang kemudian mempengaruhi timeline, ikuti langkah-langkahnya di sini atau baca penjelasan dari facebook di sini).

Lalu, bagaimana dengan hal-hal yang tidak bisa diatur secara otomatis oleh facebook? You know, seperti om yang homophobic, atau teman SMP yang bersikeras bahwa perkosaan disebabkan oleh pakaian yang seksi? Untuk kasus ini, facebook menyediakan fitur unfollow, unfriend hingga block. Dan mari kita akui bersama, kita sudah sangat sering menggunakan fitur-fitur tersebut. Alasannya karena ingin mengurangi negativitas di facebook, daripada pahala puasanya berkurang yekan? Atau bahkan, demi menjaga silaturahmi. Daripada jadi enggan datang ke arisan keluarga, lebih baik kita block si om X di dunia maya.

Apapun motivasinya, akibatnya sama. Timeline kita berisi berita dan orang-orang yang sependapat, satu pola pikir. Saat ada yang masih belum di-unfollow, rasanya mengganggu, karena kita begitu terbiasa dengan lingkaran yang berpersepsi sama, hingga persepsi itu terasa seperti kebenaran. Kebenaran yang menyenangkan. Padahal kebenaran biasanya tidak menyenangkan.

Saya pernah memutuskan untuk tidak mengakses media sosial selama beberapa minggu. Hal ini saya umumkan di facebook karena yaa.. sok ngartis aja sih, publisitas gitu. Waktu itu, ada juga teman yang tidak sepakat dengan rencana saya dengan alasan yang cukup idealis, “justru karena banyak racun di media sosial, maka kita harus melawan racun-racun itu dengan berada di medan pertempuran.”

Teman saya memang benar. Terutama tentang racun. Racun-racun. Banyak racun. Berbagai macam racun, dan media sosial memaksa kita untuk bertempur dengan semuanya. Hari ini kita menulis petisi untuk membebaskan Ahok, esok hari kita mengomentari kriminalisasi LGBT, sorenya menyempatkan diri menulis kata-kata simpati untuk Afi yang kena rundung orang dewasa bodoh, malamnya membagi link tentang tragedi di konser Ariana Grande, lusa pagi mengutuk Donald Trump karena mencabut komitmen Amerika Serikat dari Piagam Paris, siangnya memblock dan unfollow teman-teman yang menyebalkan, lalu menghias profil picture dengan tulisan Aku Pancasila. FIUH. Minggu yang sibuk!

Saya sendiri bukan superhero yang bisa memerangi semua kebatilan, bahkan jika alat perangnya hanya berupa keyboard yang berada di depan mata. Bahkan sejujurnya, kadang-kadang saya merasa lebih buruk dengan menulis status di media sosial untuk menanggapi peristiwa atau tragedi tertentu. Sebanyak apapun paragraf yang saya tulis, saya tidak bisa menyelamatkan Ahok dari vonis bersalah. Meski saya menggunakan caps lock, Ibu Baiq Nuril Maknun tetap dikriminalisasikan dengan UU ITE. Karena mungkin, menulis status memang tidak cukup. Menulis status mungkin membuat kita lega, because we need to get this anger out of our chest somehow, kan. Tapi selain itu, bisa jadi kita hanya masturbasi, menghilangkan rasa bersalah karena belum bisa berbuat lebih. Atau setidaknya, kita bisa memberitahu orang-orang yang berbeda pendapat di facebook, bahwa opini mereka sampah. I’m not saying that this is wrong, by the way. This is a free country. OR NOT. HAHA. Lihat Ahok, Ibu Nuril, bahkan HTI dan Rizieq Syihab.

Jika kita berpikir bahwa media sosial adalah tempat kampanye dan edukasi yang strategis, mungkin kita harus memikirkan strategi yang lebih strategis. Karena ingat, banyak dari kita yang hanya mendengar apa yang ingin kita dengar.    

Hingga saat itu tiba, media sosial akan menjadi tempat kekacauan dan pertempuran yang fana – virtual riot, yang dihadapi dengan virtual struggle. Di mana yang hitam dan yang putih menumpuk, makin tebal warnanya, makin menunjukkan perbedaan diantara keduanya.

Coba ada Amal, Yvonne dan teman-temannya. Mungkin kita bisa bertukar-pikiran, sabotase macam apa yang harus dilakukan sekarang. Opo mene saiki jal?

Ojo Gumunan (karo seks)

Seorang teman membagi link melalui facebook yang memberitakan bahwa sejumlah situs berisi informasi untuk ibu menyusui telah diblokir, sebagai imbas dari peraturan menteri Komunikasi dan Informatika tentang pemblokiran internet bermuatan negatif. Mungkin gara-gara html situs ini memuat frase breast massage. Payudara memang tampaknya sudah mengalami proses peyorasi di negara ini. Kata atau bagian tubuh ini membuat orang terobsesi, mengingini, lalu melakukan tindak perlindungan diri dengan cara mengutuki. Seperti berita jilboobs yang belum lama ini membayangi timeline facebook saya. Padahal sebenarnya ‘fenomena’ ini juga tidak baru-baru amat. Sejak saya masih mengenakan jilbab mulai tahun 2005, orang-orang juga sudah memakai jilbab dengan cara yang sama. Waktu itu, tidak ada yang mencemooh mereka. Namun sekarang, gaya berpakaian ini mendadak jadi serius. Ada yang menanggapinya dengan cara agamis (“cara berpakaian seperti ini menghina Islam dan perempuan, bla bla bla”), banyak pula yang melihatnya dengan cara seksual. Bagi saya sendiri, bukan para pengguna jilbab itu yang menghina perempuan, namun mereka yang menulis artikel dan menyebarkan artikel itulah yang melakukan pelecehan. Foto orang-orang itu disensor mukanya, sehingga hanya bagian dada yang tersisa untuk dilihat. Identitas mereka tidak penting, mereka hanyalah sekelompok makhluk hidup berpayudara. Saya tidak terkejut, tubuh wanita toh sudah dijadikan objek selama berabad-abad lamanya. Artikel yang beredar di media sosial ini hanya salahsatu di antaranya. Bentuk objektifikasi kampungan.

Mengapa payudara wanita, atau seksualitas secara umum menjadi hal yang begitu menghebohkan, namun tercela? Sehingga televisi tidak hanya melakukan sensor pada belahan dada, namun juga pada patung-patung telanjang ala Renaissance (dalam film-film yang kebetulan berlatarbelakang Eropa)? Apakah mudah-terangsang memang menjadi bagian dalam diri kita yang tidak akan terpisahkan? Apakah memang tubuh wanita sengaja diciptakan untuk merangsang? Sesederhana itukah? Lalu mengapa tidak ada pelecehan seksual di Vermont? Di mana tidak ada larangan untuk tampil telanjang di tempat umum?

Beberapa kawan saya pun ikut mengomentari artikel tentang jilboobs dengan nada seksual, saya muak. Saya pikir mereka cukup pintar, ternyata segitu aja. Sebenarnya tubuh perempuan itu biasa-biasa saja. Tubuh perempuan tidak memiliki sifat / berkodrat merangsang, konstruksi sosial lah yang membuatnya demikian. Seperti kata Foucault, pandangan kita tentang seksualitas dibentuk oleh relasi kuasa. Kita meyakini bahwa seksualitas sudah melekat pada diri kita sejak lahir, bahwa lekuk payudara adalah suatu hal yang secara otomatis akan membuat pria terangsang. Dengan kata lain, kekuasaan tersebut berhasil membuat orang percaya bahwa tubuh wanita inheren dengan objek seks, sehingga tubuh ini harus disembunyikan. Sebagai konsekuensi, jika kita pulang malam dan tidak memakai pakaian tertutup, maka kita pantas dilecehkan, we’re asking for it, salah sendiri tidak menutup diri sehingga membuat pria ingin menikmati kita. Ada pula yang membuat analogi antara perempuan dengan lollipop. Orang yang membuat komparasi tersebut sudah pasti tidak pernah belajar prinsip perbandingan dalam riset, karena dia berasumsi bahwa wanita dan permen adalah sampling yang sah untuk dibandingkan. Kodrat manusia, baik wanita maupun pria, bukanlah untuk dilecehkan atau melecehkan. Kodrat manusia adalah berjuang.

download
’cause I’m obviously similar to a dirty lollipop

Terkait kehebohan yang ditunjukkan orang-orang pada payudara dan isu seks, Foucault pun memiliki penjelasan yang sederhana, “We only desire something we can’t have.” Penjelasan ini membuat saya merasa kasihan dengan mereka yang gampang terpana dengan foto payudara, mereka adalah orang-orang yang sangat menginginkan seks namun tidak bisa mendapatkannya. Aww.. L  Get married, guys. Or get laid. Orang-orang juga mungkin masih takjub dan terheran-heran dengan isu seks. Karena selama ini seks ditempatkan di ruang tabu, yang tidak boleh dibicarakan secara terbuka. Seks hanya disebutkan melalui satu kalimat pada saat penyuluhan HIV/AIDS (“Hindari seks bebas!”, tanpa mengetahui definisi “seks bebas” yang sebenarnya, tanpa mendapat klarifikasi bahwa berhubungan seks dengan pasangan sah secara hukum dan agama yang terkena AIDS pun bisa menyebabkan kita terjangkit virus tersebut). Kita menghindari pembicaraan tentang seks karena kita begitu peduli pada moralitas. Kita ingin mencetak orang-orang yang bermoral dengan cara menyembunyikan seks dari pembicaraan kosntruktif, membuat seks jadi hal asing yang mengagetkan.    

Pepatah Jawa Ojo dadi wong gumunan mungkin juga bisa kita terapkan pada seks. Kita lahir dari proses seksual, kita memiliki ketertarikan pada seksualitas dan kita akan melakukan hubungan seks. Kita pernah meminum susu dari payudara ibu, payudara adalah bagian dari tubuh yang melekat pada tubuh wanita (juga pria). Hal lain yang tidak kalah penting, kita harus belajar menghormati orang lain dan keputusan yang mereka ambil atas tubuh mereka. Tidak seorangpun yang boleh dinegasikan hak-nya atas tubuh mereka sendiri. Ditindik atau tidak ditindik, berambut panjang atau pendek, berjilbab atau tidak, semua manusia pantas dan harus mendapatkan penghargaan.    

Jakarta, 14 Agustus 2014

Kita Pembajak Agama

Ikut pengajian bukan merupakan salah satu kegiatan favorit saya. Jika boleh membela diri, saya tidak suka ditakut-takuti dengan api neraka, atau dilarang melakukan ini-itu karena semuanya dosa. Hidup dalam ketakutan tidak membuat saya nyaman. Saya ingin hidup senang dan tenang. Saya juga tidak hobi ke pengajian, karena isinya yang repetitive. Minggu lalu saja, ustadzah di masjid samping rumah menyampaikan kultum tentang orang-orang yang berhak menerima zakat. Tema yang sudah jadi bahan pelajaran dan bahan ujian agama Islam sejak saya duduk di bangku SD-SMP-SMA, seolah-olah perihal agama hanya berada seputar ibadah, surga dan neraka. Itu saja. Sesempit itukah? Sinisme terhadap ajaran agama semakin lengkap dengan perilaku para pemeluknya yang hobi “bermain Tuhan.” Macam teman saya yang baru-baru ini menjadi korban politisasi agama, lantas mengata-ngatai Quraish Shihab sebagai sesat. Semakin didesak, semakin ketahuan betapa ia tidak memiliki dasar yang cukup. Ia adalah korban provokasi, yang kemudian menjadi provokator. Saya lelah melihat bagaimana pemeluk agama mempergunakan agama atau keyakinan mereka menjadi sesuatu yang tidak produktif, bahkan cenderung destruktif.

Namun sore itu, saya terduduk tegak mendengarkan kultum dari Ibu Athiyatul Ulya di acara buka bersama jejaring perempuan. Tema yang dia angkat adalah bagaimana perspektif Islam dapat merekatkan dan memperkuat gerakan perempuan (ketika pembawa acara menyebutkan tema ini, saya bergairah namun bertanya-tanya dengan rasa tidak yakin, “Hah? Islam bisa disambungkan dengan hal begituan?”). Ia bercerita bahwa pada suatu hari di jaman Nabi, para wanita mengadakan pertemuan. Mereka menceritakan kekerasan yang mereka terima dari suami-suaminya. Salah seorang wanita dalam pertemuan ini pun memutuskan untuk mewakili teman-temannya, mengunjungi Rasulullah dan menceritakan isi pertemuan yang mereka selenggarakan. Esoknya, seperti diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda di depan umatnya, “…para suami yang memukul istrinya bukanlah termasuk orang-orang baik di antara kamu.”

Perwakilan perempuan pernah pula mendatangi Rasulullah untuk menyampaikan hal lain, kali ini pasca peristiwa hijrah, “Rasulullah, saya tidak mendengar Allah menyebutkan perempuan sedikitpun dalam hal yang berkaitan dengan hijrah!” Setelah peristiwa tersebut, segera turun ayat 195 surat Ali-Imran yang artinya,  ” Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.’”

Ada beberapa moral cerita yang disampaikan Ibu Athifatul Ulya, salahsatu yang melekat dalam ingatan saya adalah bahwa perempuan memang harus bersatu dan memperjuangkan nasib mereka sendiri. Konstruksi kebudayaan yang selama ini ada seringkali melupakan atau mengabaikan kepentingan perempuan. Sengaja ataupun tidak disengaja, kita harus bersatu padu untuk mengubahnya.

Sang Ustadzah selesai bicara dan sayapun tertegun menyadari bahwa saya baru saja mendengarkan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadist tanpa sedikitpun berkeinginan untuk menarik diri. Sebaliknya, saya baru saja mendapat inspirasi. Dan bukankah begitu semestinya agama atau keyakinan kita bekerja? Menginspirasi. Memotivasi, alih-alih menjadikan kita pembenci.

Islam sendiri tumbuh sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Hingga Muhammad meninggal pada tahun 632, banyak wahyu yang turun, banyak gagasan yang muncul, banyak interaksi yang ia lakukan, banyak ajaran yang ia contohkan, banyak hal baru yang ia pelajari. Dari rentang waktu dan peristiwa tersebut, benarkah ia hanya mengajari kita tentang aqidah dan tata cara ibadah? Bukankah ia juga menunjukkan pada umatnya perihal kasih sayang? Bukankah ia, yang kabarnya begitu dicintai oleh Tuhan itu, tidak pernah menggunakan posisinya untuk meneriaki orang lain dengan kata sesat atau kafir?

Sayangnya, saya, beberapa ustadz sebelah rumah dan teman-teman saya memilih untuk membajak agama ini. Kami membuatnya tampak seperti keyakinan kaku dan sempit, yang tidak mengijinkan manusia berbuat banyak hal, alih-alih mendorongnya untuk mencurigai dan menghakimi sesama. Teman saya bahkan berkata bahwa ia tidak bisa memperdebatkan Islam dengan menggunakan “teori2 demokrasi, perdamaian, ham, dll.” Ia, secara tidak langsung (atau langsung?) mengklaim bahwa Islam bukanlah agama yang damai dan humanis.

Jika kita berpikir bahwa agama harus dipisahkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, perdamaian dan HAM, maka jangan-jangan kita sedang menyepelekan agama itu sendiri. Karena agama yang sudah tumbuh sejak lebih dari seribu tahun yang lalu itu, punya banyak inspirasi yang bisa ditawarkan pada kita. Surprise surprise!

 

Jakarta, 17 Juli 2014

 

 

Batari Durga: yang Dihukum, yang Dipuja

Seorang kawan berkata bahwa kesan pertamanya terhadap saya adalah mengerikan dan tidak bersahabat. Iapun mengidentifikasi saya sebagai Batari Durga. Beberapa lama kemudian ia mengirim foto patung Durga Mahisasuramardini, dengan keterangan pose menjambak anak kecil itu mirip kamu. Meski akan lebih bangga jika dilihat sebagai Saraswati, saya mengambil kesempatan untuk mengenal Durga lebih dekat.

Menurut bahasa Sansekerta, Durga (dur + gam) berarti benteng (Kumar: 1974, dari The Goddess Durga in the East-Javanese Period oleh Hariani Santiko) yang bisa juga diterjemahkan sebagai tidak tersentuh atau terisolasi. Sementara itu Ensiklopedi Wayang Purwa I mengartikan gelar Durga sebagai kecewa / jelek / tidak menyenangkan. Ia adalah jelmaan dari Dewi Uma (Parwati) yang cantik jelita. Mengenai bagaimana Durga berubah wujud dari wanita cantik menjadi raksasi, ada beberapa versi cerita. Versi pertama, ia dikutuk oleh suaminya, Batara Guru, karena menolak bercinta di atas lembu Nandi. Versi kedua, ia dikutuk suaminya karena ketahuan selingkuh dengan seorang pemerah sapi (padahal pemerah sapi itu sebenarnya merupakan jelmaan dari Dewa Siwa sendiri yang tengah menguji kesetiaan Dewi Uma. Dewi Uma memutuskan untuk tidur dengan sang pemerah sapi demi mendapatkan susu sapi yang sangat dibutuhkan oleh suaminya). Semenjak kutukan itu, Dewi Durga berubah tampilan menjadi mengerikan dengan mata dan hidung besar serta bertaring. Ia hidup terisolasi di Setra Gandamayu, kuburan paling mengerikan di seantero bumi.

Durga memang kecewa. Kekecewaannya disebabkan karena kesetiaan dan dedikasinya yang sangat besar kepada Siwa diacuhkan. Siwa masih merasa perlu mengetesnya dengan berbagai cara, hingga akhirnya ujian itu menjerumuskan dirinya, dan ia harus mendapat hukuman. Hukuman, seperti kata Foucault, memang bukan hanya perkara yudisial, tapi lebih dari itu, adalah ritual politik. Karena itulah hukuman yang diberikan terhadap Uma bersifat fisik, ia diubah menjadi Durga yang berpenampilan mengerikan. Harapannya, orang lain akan melihat Durga sebagai tokoh yang berperilaku menyimpang, dan karena itu menghindari perbuatan yang sama (tentu banyak yang beranggapan bahwa peristiwa ini bermuatan patriarki. Mungkin saja). Bagaimanapun, menurut Foucault juga, hukuman memang akan membuat tubuh menjadi pesakitan, namun jiwa yang ada di dalamnya dapat memberikan kemungkinan lain. Hukuman yang diterima Durga tidak membuatnya mengaku salah. Alih-alih, ia menunjukkan resistensi. Malah dalam beberapa versi, ia dikisahkan balik mengutuk Batara Guru yang ia anggap memperlakukannya secara tidak pantas. Yang pasti, resistensi ini membuatnya bertransformasi dari dewi lembut yang tidak berdaya, menjadi penguasa Setra Gandamayu. Bersama para pengikutnya yang berwujud raksasa dan dedemit, ia menunjukkan kekuasaan serta kekuatannya. Dikisahkan, sebelum Perang Bharatayudha dimulai, Dewi Kunti meminta Arjuna untuk terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Durga agar bisa mengalahkan Kurawa. Kisah ini rupanya menginspirasi Raja Airlangga yang dikenal menjadi raja yang sangat memuja Durga untuk bisa memenangkan perang melawan musuh-musuhnya.

Chamundi di Museum Trowulan. Photo taken by Ahlul Amri Buana

Selain Airlangga, Kertanegara juga dikabarkan memberi perintah pada keluarga kerajaan untuk melakukan pemujaan terhadap Chamundi demi melanggengkan posisinya di tampuk kepemimpinan. Chamundi adalah bentuk persatuan sakti (kekuatan) dari para dewa yang bertransformasi menjadi pasangan wanita mereka. Termasuk di dalamnya adalah Kali (Durga) yang merupakan sakti dari Dewa Siwa. Chamundi, karenanya, dikenal sebagai bentuk terkuat dari Batari Durga. Pemujaan Chamundi diidentikkan dengan ritual Tantrayana yang memang dipraktekkan oleh Kertanegara setelah ia mendengar bahwa Kubilai Khan menganut aliran tersebut yang membuatnya selalu memenangkan perang (akhirnya Kertanegara justru terbunuh dan Singasari runtuh akibat Kediri yang menyerang di saat Kertanegara dan keluarga kerajaan tengah melakukan ritual seks Tantrayana).

Di sisi lain, Durga juga digambarkan sebagai dewi penyebar penyakit dan kematian. Hal ini dikisahkan dalam lakon Calon Arang, seorang penyihir yang murka karena anaknya yang cantik, Ratna Manggali, tak kunjung menerima lamaran. Alhasil Calon Arang mengadakan ritual pemujaan pada Durga dan memintanya menyebarkan penyakit mematikan di seluruh desa. Sementara itu, masyarakat di beberapa wilayah di India melihat Durga sebagai dewi pelindung, bahkan dewi yang memberi kesuburan pada sayuran! Meski sebagian dari mereka juga memuja Durga karena takut akan kutukan penyakit mematikannya ketika sang dewi merasa tidak puas.

Meski begitu, lakon Durga yang paling terkenal tetaplah kisah heroiknya yang berhasil mengalahkan Mahisasura, raja raksasa berbentuk banteng besar yang telah lama mengganggu kehidupan para dewa. Tokoh anak kecil dalam patung Durga Mahisasuramardini yang dikirim oleh kawan saya itu sebenarnya adalah sosok asura, raksasa dalam bentuk manusia, hanya saja ukuran tubuhnya memang masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan Durga. Jadi, kalau saya adalah Durga, saya sebenarnya menjambak rambut raksasa.

Durga Mahisasuramardhini. Photo taken by adrian
Durga Mahisasuramardhini. Photo taken by adrian

 

Durga adalah dewi yang terhukum karena kesetiaannya.Karakternya memang berubah bersamaan dengan wujud fisiknya (entah kenapa tidak seperti Anoman yang, justru karena menyadari wujudnya yang seperti kera, atau memang kera, berusaha untuk selalu berbuat baik dan bersifat kesatria untuk membuktikan jiwanya yang sama baik, bahkan lebih baik, dari manusia biasa). Namun sebenarnya, seperti tokoh epos Mahabharata lain, Durga tidak hitam atau putih. Ia garang, tapi ia juga pelindung. Ia korban, tapi ia juga bertahan.

Yogyakarta, 15 Mei 2013

 

Cruel Male Dominated Culture

If I were to borrow Galtung’s theory on structural imperialism, then man is the centre in our society while woman is the periphery. Woman has to perceive that they live in a society where norms were made by the man and through their perspectives. This has been going on for centuries. And now that human right issues were praised, and women’s rights were highlighted, the word of “emancipation” was introduced, women are still living in a dilemma.

I found this cartoon and I found it ironically true.

male dominated culture

In Saudi, women are obliged to cover themselves from head to toe, they are not allowed to drive or to leave the house without the company of their husband or male relatives.  These regulations intended to protect women, they said. Meanwhile sexual assaults are continuously happening throughout the country. It turns out that the head-to-toe cover is not enough to protect the women from being abused. The particular clothe does not prevent them from being looked down by men.

Others believe that these regulations are only extensions from patriarchy ego wanting to limit the rights of women to express and articulate themselves. So they decided to reveal. Show as much skins as possible, and trying to prove that jumping to one bed to another is not only guy-thing, and so on. These behaviors fail to lift their dignity, now woman is a sex object, for men. Even more ironic, sometimes “the revelation” is undertaken not with the spirit of self-liberation—like when the women burn their bras in the 60s—but on the contrary, they do so because they were craving for male attention.

Dammit, it becomes all about men again.

The year of 2012 is closed by an outrage. A medical student in India is passed away recently. 10 men took turns to rape her in a moving bus, beat her after they finished, then threw her out of the bus. I feel like crying everytime I think about it. But she was not the only one. Many other women experience the same thing in my country. Interestingly, both officials reacted almost in the same way. An Indian official urged miniskirts to be banned, remind me of Foke. People were in rage to hear these statements. Some argued that one of the ladies who got raped and killed in Jakarta was wearing polite clothes when the tragedy happened, she just came back from thesis defense, obviously she didn’t wear hot pants, but she still got raped. Others arranged slut walk in the city holding the sign: “You raped her because her clothes provoked you? I should break your face. Your stupidity provoked me.”

india

Maybe clothes do not matter, maybe we should avoid too much argument around it. It’s the guy’s problem who has no respect. But why don’t they? Maybe because they are also the victim of social construction. They grew up knowing that they have privileges, something the female doesn’t. I said we should pity them. Thank goodness there are more men who are aware with the issues of women’s rights and equality nowadays. But we can’t keep yelling to ask the rest of them to change their perspectives right away. Maybe, instead of asking them the favor, we can do ourselves the favor.

It doesn’t matter how we look. If you choose to wear veils due to religious beliefs, it is very admirable. If you choose not to because you feel comfortable that way, that too is okay. If you like to show your sex appeals then go ahead. Woman wants to look attractive. But physical appearance is not the only thing we have, we have so many other things to prove.

May 2013 gives bless and courage to all women in the world.

 

31/12/2012

My love post

I wonder if I will go through different type of relationship with my boyfriend very soon. Starting this August, he will resign from his office and he does not extend his stay in his kosan which means he will be spending most of his time in Solo, which means I will probably get less than 50% of his time. I’ve never been through that kind of thing. My last long distance was between America and Belgium and it lasted less than 4months because I thought it was pointless. With my boyfriend right now, it is hard to be sure what is gonna happen with us in the future, like whether or not we will be together forever. I certainly hope we will, but, time can do so much. While I’m not sure about the certainty, I’m sure that he cannot be there beside me all the entire time. It means I can’t always ask for a lunch mate, for us to cuddle every day, for him to call and text me all the time. We have a different plan after graduation. I want to continue my study, either in Yogyakarta or abroad, meanwhile he plans to go to Jakarta, pursuing his dream to seat as a bureaucrat, he says it will be either in the Ministry of Foreign Affairs, or in ASEAN secretariat, or wherever as long it is part of government. Jakarta is his dream, but Jakarta is my nightmare. I once thought that I will try to suit myself on his will. For example if he really wants to work in Jakarta, then I might follow him whatever the risk. But then again I’m not so sure. I decided that marriage is a long way to go, I don’t even think that it crosses his mind. So I guess I just have to live for today. Or if I really want to think about our future, it should be the closest future which means what is going to happen this month. Well, what is going to happen? I’m not sure. I am always this clingy girlfriend who wants to see the boyfriend everyday, I crave for affection, both mentally and physically. It is my second day not hearing anything from him. He goes to South Korea, and internet just not available that much here in my KKN place. So I guess we will not be able to contact each other at least for fifteen days straight. I’ve been in the same condition when I was in Zamboanga City, at the time I was so frustrated that I decided to phone call him through my cell phone. I was able to hear his voice for one minute before I ran out of credits. So I was very much refusing the condition that we cannot be together or talk to each other. Everyday I counted the days for me to go back to Yogyakarta, everyday I stared at his picture that I brought along with me, hugged it to sleep. When I was in America last month, I did the same thing. I managed to skype with him almost everyday, and I would not start my schedule without leaving him a direct message on twitter. He probly did not care, that’s him, a great man but he still is a man.

But this time is different. Indeed I miss him. I went through our picture folder this morning and laughed to our silly pictures, and adored on how cute he is and I was. But then I was surprised that I was actually able to go through my day very well. I wasn’t annoyed that I haven’t heard from him all day. Maybe partly it was because I don’t have many choices. I can always borrow an internet from my friend, with a modest connection of course. But I chose not to, because I just don’t feel like it. It was enough to ask my friend to check him out on twitter once, just to know that he had arrived safely in Seoul, then I don’t wanna know more than that. It is maybe because I guess stalking him further will only make me miss him even more, but I guess it could also because I feel like I don’t need to. He is a big guy, he can take care of himself, and I’m sure that he is now having times of his life. So, why worry? It turns out that I don’t need him around every second for me to breath.

I can’t say that the level of romanticism is related with the level of maturity. But for most people, love bird is always a start of a relationship, when you have to satisfy your couple through sweet words, sometimes unnecessary attention. As we grow older, like our parents, it is enough to know that you love each other. Of course you still care about each other, giving each other surprises and affections, but there are no more constant texting and phone calls, no more clingy attitudes. Am I going to that level? I am not so sure. But I wish I do, because he is not always gonna be around from now on, and I want to make things work.

August 7, 2012

My Apology for Beauty Pageant People

I used to hate when Christina Aguilera sings “We are beautiful no matter what they say”, or when Miss Universe says what matter the most its the beauty inside you, not the outer. I mean, yea right, it is easy for them to say that, its not like they knew how it feels to be unpretty. I feel insecure most of the time because I feel unpretty. I look at my beautiful friends and wonder why cant I have the same bright skin, healthy long hair, perfect nose and lips. Insecurity leads to jealousy, and jealousy makes you judged. I judged most of beautiful people, especially them I do not know personally. Like beautiful people in beauty pageant. I snorted and laughed at Putri Indonesia contest, said to myself I could say things smarter. I knew some people who went to similar contest in domestic level, and I laughed at them too, I guessed they have neither better behavior nor better brain than me.

And here I am dating a man who won beauty pageant in national level. Objectively speaking (95% objective) he is a gorgeous man and smart and funny and humble and his heart is like an angel. It doesn’t make me stop judging. I always said to myself that he is a rare exception. Two days ago I accompanied him to go out of town, he had to do a presentation about exchange program recruitment he works at. He told me that we are going to meet some of his friends, his friends from the beauty pageant. So I guess yea its time. I try to picture whats gonna happen, I wonder whether they’re going to underestimate me because I’m unpretty, as well as I’m going to underestimate them because they are brainless and arrogant.

Finally I met two guys, beauty pageant friends of my boyfriend. They’re gorgeous, checked. They’re brainless, unchecked. They’re arrogant, unchecked. They’re kind-hearted, checked checked checked! One of the two guys were very generous to us. He thought that we’re the guest to his hometown and thus he needed to take care of us. He took us to lunch and drove us to travel office. I don’t even know if I would do such things when my far-away friends are coming over, unless we’re really good friends. They didn’t say anything stupid as I was expecting. In fact they have impressive part time jobs, and initiating real community development movement. And no, I wasnt being intimidated by anyone.

I guess you know my conclusion, we cant over generalized anything. And well, everyone is struggling to actualize themselves. First step of self actualization is to find out what you are good at or what is good from you or what you like to do. And if you feel like your thing is being pretty, then there you go to the second step which is to work out your goods. If joining beauty pageant is what you think it is, then go ahead. Though probably only one of your asset is not enough to make you “actual”. Being only pretty is not enough because people like me will dislike you, so polish up your attitude and knowledge. While for my kind of people, being critical brat is bad because.. its bad. It hurts people and it keeps you narrow,  so get a decent look and get a decent attitude! We all try to be someone better, just stretch beyond the confident we already have.