Ahok

Ahok menangis karena teringat orangtua angkatnya yang bukan hanya ia cintai dan hormati sepenuh hati, namun juga begitu besar jasanya terhadap hidupnya. Dalam pembukaan surat keberatannya ia mengatakan bahwa ayah kandung dan ayah angkatnya berjanji akan selalu bersaudara. Separuh hidup dan hatinya tertaut pada orang muslim. Menistakan agama adalah hal terakhir, kalau tidak pernah samasekali, terbersit di pikirannya. Namun ucapan dan perasaan ini tenggelam dalam teriakan mengatas-namakan Tuhan yang penuh kemarahan. Bagi mereka ini tidak masuk di akal. Bagi mereka Ahok berbeda. Ia bukan hanya menyembah Tuhan yang berbeda, namun ia juga punya lingkaran keluarga dan sahabat yang berbeda. Ahok pasti hanya akan berpihak pada mereka yang Kristen dan Cina, kalau perlu ia musuhi semua yang bukan Kristen dan Cina. Kepada muslim, Ahok tidak mungkin peduli apalagi menyayangi. Namun manusia memang sering membuat asumsi berdasarkan standar mereka sendiri. Akupun sering begitu. Karena aku licik dan culas, maka orang lain juga licik dan culas. Orang yang mudah selingkuh akan berpikir bahwa pasangannya berselingkuh. Orang yang perasa percaya bahwa orang lain juga seharusnya merasakan hal serupa. Sisanya tidak pernah hidup dengan orang yang berbeda ras dan agama. Sudah punya sosial media tapi yang ia baca hanya yang berasal dari kalangannya saja. Bos-nya mungkin berbeda agama. Tapi hanya ia jilat-jilat kalau sedang di depannya. Dalam hati ia percaya betul bahwa si bos akan masuk neraka karena pergi ke rumah ibadah yang berbeda. Syukur-syukur si bos ditembak petrus karena ia mungkin anggota PKI yang katanya bangkit lagi dan sudah bangun markas di Matraman. Makanya, mana mungkin Andi Baso Amir dan Misiribu Andi Baso Amir memperlakukan Ahok seperti anak sendiri. Mana mungkin ada janji persaudaraan di antara dua keluarga yang sangat berbeda? Mana mungkin kita bisa menghormati agama dan kepercayaan lain seperti kita menghormati agama sendiri? Cerita tentang cinta dan kasih sayang yang tanpa batas itu pun tenggelam, tidak terdengar oleh telinga yang sudah terlebih dulu pekak oleh suaranya sendiri. Hati pun sudah tidur mati.

Hidup Nyaman dengan ‘Privilege’

Ada banyak film yang mengisahkan orang kulit putih menjadi ‘inspirasi’ (atau bahkan ‘penyelamat’) bagi orang kulit hitam atau Hispanik yang miskin dan bermasalah. Ada Freedom Writers, The Blind Side, Conrack, Dangerous Mind, Mc Farland USA dan lain-lain. Pola ceritanya mirip-mirip, terutama film yang berlatarbelakang sekolah: Guru kulit putih mendadak mengajar di sekolah kecil, dengan murid-murid yang kasar, malas, tidak tertarik belajar di sekolah karena hidupnya keras. Setelah proses pendekatan yang tidak mudah, guru kulit putih akhirnya mendapatkan kepercayaan dari murid-muridnya yang berbeda ras. Biasanya, hubungan yang sudah harmonis ini akan goyah di tengah film karena ada masalah di lingkungan keluarga atau pertemanan si murid. Namun dengan ketelatenan dan ketulusan, sang guru akan berhasil mengatasi masalah dan memberikan akhir yang bahagia bagi murid-muridnya, setidaknya membuat mereka lulus SMA. Dari beberapa film, yang paling saya suka adalah Mc Farland USA. Adegan favorit saya adalah ketika Pelatih Jim White ikut bekerja di kebun kol bersama murid-muridnya. Di situ ia merasakan sendiri betapa sulit dan melelahkannya pekerjaan memanen kol. Lewat interaksi dengan keluarga Diaz, Jim White juga menyadari bahwa pekerjaan memanen kol adalah pekerjaan penting, sumber finansial keluarga yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja demi latihan cross country. Akhirnya, Jim White pun menyesuaikan jadwal latihan cross country, agar murid-muridnya tetap punya waktu untuk membantu orangtua di ladang. Menurut saya proses inilah yang membuat Jim White berbeda dengan guru-guru lainnya. Ia mencoba memahami pilihan yang dibuat oleh murid-muridnya beserta keluarga mereka—apa alasan dibalik pilihan tersebut, kenapa pilihan ini penting dan seterusnya. Ia tidak mencoba menegaskan bahwa cross country adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan memanen kol. Sementara itu, karakter guru kulit putih lainnya jadi lebih membosankan karena dalam film mereka cukup bersimpati saja, lalu memberikan kata-kata motivasi untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya diakhir film, penonton semakin teryakinkan bahwa pilihan yang ditawarkan oleh si guru kulit putih adalah pilihan yang terbaik, sementara pilihan yang lain harus dikorbankan atau ditinggalkan. Hal semacam ini memang kekhilafannya orang dengan privilege, alias orang yang sudah terbiasa hidup dengan nyaman, dengan hak-hak yang selalu terpenuhi. Orang-orang yang ber-previlege seringkali kesulitan untuk menempatkan diri di posisi orang lain yang berlatarbelakang berbeda dengan mereka.

Tentu saja saya sendiri menyadari bahwa saya adalah orang yang ber-previlege. Saya mulai menyadari hal ini umur 9 tahun, ketika papa bercerita bahwa jaman kecil dulu ia pergi ke sekolah—yang jaraknya belasan kilometer naik-turun bukit—dengan berjalan kaki, bahwa ia harus bagi-bagi makanan yang jumlahnya terbatas dengan sebelas orang mbak dan mas, bahwa ia tumbuh besar tanpa listrik apalagi android, bahwa ia harus pura-pura ketiduran di bis dari Yogya ke Kulon Progo supaya tidak dimintai ongkos oleh kernet bis. Saya tahu bahwa meskipun saya perempuan, saya tetap punya hak istimewa karena kedua orangtua saya masih hidup, mereka berdua bekerja dan meskipun akhir tahun 90an adalah waktu yang cukup mengerikan secara finansial untuk pasangan muda dengan dua orang anak kecil, mama-papa masih bisa membayar uang sekolah saya sampai dengan kuliah S1. Seiring dengan berjalannya waktu, saya bertemu dengan lebih banyak orang dengan lebih banyak cerita, dan saya menyadari bahwa ternyata saya lebih ber-previleged dari yang saya bayangkan. Saya adalah orang Jawa muslim di Indonesia dan oleh karenanya, saya tidak pernah dihakimi sebagai orang yang kasar dan tukang mabuk. Beberapa tahun lalu, saya juga baru sadar bahwa saya adalah seorang muslim sunni, dan ternyata menjadi sunni juga adalah hak istimewa karena sekelompok orang Indonesia tidak bisa hidup dekat-dekat orang Syiah atau Ahmadiyah (iya memang lucu. Kami sudah hidup berdampingan dengan mereka selama bertahun-tahun tanpa ada masalah, tanpa pengkotak-kotakan dan tanpa kekerasan. Bahkan lagu nasional Indonesia Raya digubah oleh seorang Ahmadi. Lalu tiba-tiba ada goncangan politik di Timur Tengah dan bum, tiba-tiba kami JUGA membenci syiah, dan tentunya aliran-alliran lain). Anyway, untung saja saya sunni. Tidak terbayang bagaimana rasanya lahir dan besar di keluarga non-sunni, lalu dibenci, dicaci-maki, diancam dibunuh dan diusir, semuanya karena latarbelakang pemberian dari Allah, sesuatu yang tidak bisa saya pilih. Alhamdulillah kan? Hal lain yang membuat saya bisa hidup nyaman adalah karena saya bukan gay atau lesbian atau transgender atau transeksual atau aseksual.

Anyway, cerita tentang Jim White dan pengalaman pribadi saya hanya bertujuan untuk memberikan ilustrasi tentang arti privileged serta bagaimana orang ber-previleged mengatasi masalah orang atau kelompok lain yang tidak ber-previleged. Tidak banyak yang seperti pelatih Jim White. Reaksi pertama dari orang ber-previlege dalam interaksinya dengan orang yang tidak ber-previlege seringkali bukanlah usaha untuk mengenal dan memahami, tapi reaksi membela diri. Contohnya: (1) Ketika kampanye Black Lives Matter di Amerika Serikat muncul, sekelompok orang merespon dengan mengatakan All Lives Matter. (2) Ketika muncul gerakan feminisme, sekelompok laki-laki merespon dengan “Kalau laki-laki dan perempuan setara, kenapa harus ada feminisme? Kenapa harus ada aksi afirmatif? Kenapa harus ada kebijakan khusus perempuan?” (3) Ketika orang-orang ramai membela Ibu Saeni di bulan Ramadhan lalu, sekelompok orang berkata “Bagaimana dengan penghormatan untuk orang yang berpuasa?!”, (4) Ketika para buruh melakukan demonstrasi untuk meminta kenaikan gaji, sekelompok orang berkata, “Kita aja nggak pernah minta macam-macam,” dan lain-lain.

Sifat narsisme dan self-centered ini membuat kita merasa bahwa dunia beserta segala permasalahan di dalamnya hanya berputar di sekitar kita. Ketika kelompok minoritas atau marjinal mengangkat masalah yang berkaitan dengan haknya, kelompok ber-previlege akan berfokus pada posisi mereka. Ada rasa takut untuk kehilangan hak yang selama ini dimiliki, takut dilupakan juga takut untuk disalahkan. Padahal, Black Lives Matter tidak berarti bahwa nyawa orang kulit putih tidak penting, feminisme tidak menjadikan laki-laki sebagai warga kelas dua, tidak adanya perda yang memerintahkan penutupan warung tidak akan menghancurkan kejayaan Islam, menaikkan kesejahteraan buruh tidak akan menurunkan kemapanan kelas menengah. Memastikan bahwa orang lain mendapatkan hak-nya, tidak akan membuat kita kehilangan hak kita sendiri.

Tidak ada yang salah dengan memiliki privilege, bahwa saya terlahir sebagai muslim, jawa, berkulit sawo matang dan heteroseksual adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Bagi saya, hal yang penting untuk diperhatikan adalah mengakui bahwa saya punya privilege, dan mencoba lebih sensitif dengan pengalaman orang lain yang berbeda latarbelakang.

 

Pernikahan Hari Ke-120

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel di The Telegraph berjudul Couples Who Share the Houseworks are More Likely to Divorce, Study Finds. Saya memang agak ketinggalan jaman karena artikel ini ternyata sudah diunggah sejak tahun 2012. Studi yang dilakukan di Norwegia ini menunjukkan bahwa tingkat perceraian pada pasangan yang berbagi pekerjaan rumah tangga 50% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perceraian pada pasangan dimana istri mengerjakan sebagian besar pekerjaan rumah. Studi ini memang patut dipertanyakan karena berkebalikan dengan hasil penelitian di tempat lain. Pada tahun 2014, Dailymail memberitakan hasil penelitian di University of Illnois yang menunjukkan bahwa pasangan yang berbagi pekerjaan rumah tangga justru terbukti lebih bahagia. Terlepas dari perbedaan dan ke-valid-an masing-masing penelitian, artikel The Telegraph tersebut tetap berhasil membuat saya tercenung. Sebagai perempuan yang baru menikah, saya cukup serius memikirkan bentuk keluarga yang akan saya miliki. Keseriusan itu bukan tanpa didasari kegelisahan.

Tidak, saya tidak pernah punya keraguan sedikitpun sebelum menikah dengan Hardya. Saya tahu bahwa ia adalah “jodoh” saya, setidaknya empat hari setelah kami memutuskan untuk bersama. Saya juga tidak mengalami sindrom-sindrom bridezilla seperti yang dibicarakan di film-film. Tapi bukan berarti saya tidak mengalami kegalauan sama sekali. Saya katakan pada Hardya, bahwa satu hal yang saya khawatirkan dari pernikahan adalah terjebak dalam standar gender yang selama ini terkonstruksikan dalam masyarakat. Jauh sebelum hari H, saya galau memikirkan ritual tradisional yang harus saya lalui. Saya katakan pada Hardya dan papa-mama, bahwa saya tidak mau melalui tradisi dimana saya harus mencuci kaki pengantin laki-laki ataupun kucar-kucur (yang berarti bahwa tugas Hardya adalah menafkahi dan tugas saya adalah menerima nafkah). Gayung bersambut, mama dan papa—sebagai master mind dan juga, ehm, decision maker upacara pernikahan—tidak kepingin pakai prosesi panggih, yang berarti bahwa saya tidak perlu mencuci kaki siapa-siapa. Menjelang pernikahan, ketika saya dan Hardya diharuskan mengikuti kelas pranikah di KUA setempat, kami khawatir—atau lebih tepatnya su’udzon—nantinya harus mendengarkan ceramah yang bias gender. Prasangka kami ternyata tak terbukti. Petugas KUA Banguntapan yang memberikan “kelas pranikah” rupanya sangat netral dan obyektif. Tips dan trik berkeluarga yang beliau berikan cukup imbang, membutuhkan mutual effort dari suami maupun istri. Kalaupun ada nasehat yang nyrempet-nyrempet berat sebelah, beliau tidak menggunakan justifikasi agama apapun, namun justru dengan fair menambahkan kalimat, “Itu kalau menurut saya.”

Kekhawatiran saya baru terbukti setelah resmi menikah, ketika orang-orang mulai bertanya, “Kamu masakin apa buat Hardya?” dan “Udah ‘isi’ belum?” Tebak apa respon dari beberapa orang ketika saya jawab bahwa saya tidak bisa memasak? Mereka bilang “Tunggu saja sampai suamimu mencari perempuan lain. Karena laki-laki kan ingin dilayani.” Belum lagi soal anak, kalau saya jawab bahwa saya dan Hardya ingin menunggu beberapa tahun sebelum punya anak, respon mereka adalah, “Nanti malah nggak bisa punya anak lho..Baru empat bulan jadi istri, saya sudah disumpahi ditinggal suami dan mandul. Human being are so amazing. Hal-hal seperti inilah yang membuat saya semakin gelisah, semakin ingin melawan, semakin takut untuk terjebak dalam harapan dan konstruksi orang-orang yang tidak punya andil samasekali dalam hidup saya maupun Hardya.

Minggu-minggu awal setelah pernikahan, saya mengajak Hardya untuk membuat perjanjian tentang pembagian pekerjaan rumah dan alokasi keuangan kami berdua. Ketika ada hal-hal yang membuat pembagian kerja ini tidak bisa berjalan sesuai kesepakatan, saya akan merasa terganggu. Setiap saat, saya juga terus mempertanyakan, apakah yang saya lakukan ini alami, ataukah hasil dari konstruksi gender yang melekat pada alam bawah sadar? Apakah bangun lebih pagi dari Hardya adalah sesuatu yang alami? Apakah pembagian kerja kami sudah setara? Apakah saya tetap bisa menjadi feminis dan istri pada saat yang bersamaan? Dan seterusnya, sampai akhirnya saya sadar, bahwa saya memperlakukan pernikahan kami seperti hubungan kerja kontraktual.

Seperti ditulis dalam artikel di The Telegraph, “These people are extremely sensitive to making sure everything is formal, laid out and contractual. That does make for a fairly fraught relationship. The more you organize your relationship, the more you work out diaries and schedules, the more it becomes a business relationship than an intimate, loving spontaneous one.”

Dan saya, adalah bagian dari these people yang disebutkan oleh Profesor Sosiologi University of Canterbury bernama Dr. Frank Fuerdi itu. Saya berpikir bahwa “kontrak kerja” dalam pernikahan akan menghindarkan kami dari jebakan patriarki dan konstruksi gender. Padahal gender adalah soal pembagian peran, dengan menggunakan mitos maskulin dan feminin.

Apakah berbagi pekerjaan dalam keluarga itu penting? Hell yes. Bagi saya, salahsatunya untuk alasan praktikal; karena suami bisa memasak sedangkan istri tidak, karena istri bisa bersih-bersih sedangkan suami tidak, dan seterusnya. Berbagi tugas adalah cara agar keluarga bisa berfungsi dengan baik. Apakah pembagian tugas yang rigid itu diperlukan?

Saya ingin mengutip gagasan Manneke Budiman. Tidak seperti istilah rumah tangga, istilah keluarga masih lebih netral. Rumah tangga identik dengan tanggungjawab perempuan sebagai pihak yang bertugas untuk mempersiapkan kesehatan fisik dan psikologis laki-laki yang bertugas di ranah publik untuk mencari pendapatan. Jika peranan ini tidak terbagi seperti pada umumnya, istilah yang dilekatkan pada suami dan istri pun ikut diubah, “bapak rumah tangga” dan “ibu yang bekerja”. Kemudian kita harus ramai-ramai melakukan pembelaan pada sang bapak, bahwa dia tidak lantas dilucuti dari harga diri dan maskulinitasnya karena mengurus rumah tangga. Juga harus melakukan pembelaan pada sang ibu, that she’s not a bitch. Istilah keluarga, sementara itu, lebih netral. Tidak ada istilah “ibu keluarga” atau “bapak keluarga” yang mengasosiasikan masing-masing pihak dengan peranan spesifik. Oleh karenanya, keluarga menjadi arena yang strategis untuk melakukan dekolonisasi gender.

Mengutip Manneke Budiman dalam tulisannya di Jurnal Perempuan 76, Maret 2013:

“…Keluarga tidak lagi dipersepsikan sebagai sebuah unit sosial-ekonomi, melainkan sebagai benteng terakhir yang memberikan perlindungan kepada individu-individu yang menyatukan diri di dalamnya dari dikotomi-dikotomi dan pemaksaan peran-peran sosial oleh norma dominan yang ada di luar rumah, yakni dalam masyarakat.”

Atas dasar itu, kita berkesempatan untuk membentuk makna keluarga  kita sendiri, yang terbebas dari konstruksi rumah tangga yang dipaksakan oleh masyarakat. Langkah pertamanya adalah dengan mengubah paradigma tentang peranan tradisional  yang melekat pada status suami dan istri. Hardya dan saya sama-sama punya tanggungjawab untuk memprioritaskan keluarga, mengelola keuangan, menjaga agar rumah tetap rapi dan bersih, merawat yang lelah dan sakit, dan nantinya sama-sama bertanggungjawab atas tumbuh-kembang anak.

Saya juga ingin melihat keluarga dan pernikahan saya sebagai teamwork yang relax, dimana setiap orang saling mengobati, menolong dan saling mendukung, sambil tetap menjadi dirinya sendiri yang berhak untuk mengaktualisasikan diri, mengejar mimpi dan punya determinasi.

3R
Writing our shared value on couple t-shirt 😀

Maju-Mundur Demokrasi itu Tidak Mengapa

Tentu kita semua gemas dan marah. DPR telah menyalahi kontrak sosial yang dimiliki oleh rakyat dan pemimpin. Mereka dengan sengaja melupakan bahwa tugas dari pemimpin adalah menjaga state of nature yang kita miliki pra-politik, di mana semua orang pada dasarnya bebas dan berhak. Seperti kata Locke, sejauh pemerintah memenuhi kewajiban ini, maka kekuasaan yang mereka miliki bersifat sah dan mengikat. Sebaliknya, ketika mereka melakukan tindakan yang melukai hak masyarakat, mereka bisa dilempar keluar dari kursi kekuasaan. Hal ini dilakukan oleh bangsa Indonesia kepada Pak Harto. Meski kesadaran untuk menuju state of liberty memakan waktu tigapuluh tahun dan harus mengorbankan banyak nyawa, namun pada akhirnya kita bisa mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Untuk alasan itu pula Indonesia menjadi ‘anomali’ di Asia Tenggara. Latarbelakang kebudayaan negara ini tidak jauh berbeda dengan mereka; dengan sejarah kental kerajaan-kerajaan besar, yang bahkan beberapa di antaranya masih berdiri hingga sekarang. Sebutlah nilai-nilai yang melekat dengan latarbelakang sejarah tersebut: feodal, patriarkis, oligarkis, budaya patron-klien dan seterusnya (tanpa menegasikan warisan-warisan indah dari kejayaan masa lalu). Indonesia memiliki semua sifat itu. Namun, bahkan ketika Presiden Sukarno memiliki kedekatan dengan Poros Peking, mengagumi sosialisme dan menjadi pembicara di depan pertemuan buruh seluruh dunia, Indonesia toh tidak lantas berubah menjadi negara sosialis-komunis. Bahkan ketika beberapa anggota perumus Pancasila membujuk agar Islam dijadikan sebagai dasar negara, Indonesia tidak terjerumus menjadi negara Islam. Pada saat Suharto membuka pintu bagi perdagangan bebas, Indonesia tidak lantas menjadi negara liberal.

Negara yang masih muda ini telah melalui banyak hal. Termasuk diantaranya maju-mundurnya demokrasi. Tapi bukankah maju-mundur itu tidak mengapa? Iman saja bisa maju-mundur kok (asal bukan cinta. Cintamu harus tertuju padaku 24/7 dan selamanya). Bangsa ini hebat karena ia tidak pernah menyerah dalam upaya menuju state of liberty yang sebenar-benarnya. Kita berhasil memaksa Suharto turun tahta, kita menyerang pemerintahan SBY yang membosankan dan tidak punya sikap (dengan kritik-kritik nyinyir, tanpa harus menjatuhkan paksa kepemimpinannya yang dipilih secara demokratis), kita pun berhasil mengalahkan koalisi merah-putih (rasanya tidak rela menyebut nama koalisi ini, karena kezaliman tidak pantas mengatasnamakan kebesaran bendera) dalam pemilu presiden 2014. Kita berada di tempat ini karena kita bersatu padu dan mengelola harapan. Bangsa lain terjebak dalam kelaliman pemimpinnya, karena mereka tidak melawan dengan cukup keras, atau tidak cukup percaya bahwa perlawanan mereka akan berhasil.

Untuk itu, mari berhenti menggunakan tagar #RIPtoDemocracy. Mari. Demokrasi belum mati. Ia mungkin kalah suara dalam rapat paripurna. Namun kita akan memenangkannya kembali, sama seperti kita memenangkannya di era Sukarno, Suharto, SBY dan pilpres Jokowi. Bahkan mungkin kita harus mencontoh kegigihan Koalisi Merah Putih yang kalah dalam pilpres namun melakukan segala cara untuk tetap berkuasa. Kita juga harus sama gigihnya! Tadi malam kita kalah dalam pengambilan suara, tetapi nanti kita bisa bawa keputusan ini ke MK, nanti kita bisa bersama-sama tidak pilih anggota koalisi merah putih dalam pileg selanjutnya (sehingga pilkada tidak langsung akan jadi blunder bagi mereka). Demokrasi belum mati karena kita belum memutuskan menyerah.

Jakarta, 26 September 2014

The 17 of August

Yesterday my father asked me whether it was possible for me to talk about independence day from youth perspective in the neighborhood meeting (some places have the tradition of tirakatan a night before August 17, taken from the root word of tirakat which means to suffer, or to concern? In tirakatan, people will contemplate, in this case, about the meaning of independence). Eventually my brother would do it, because first, he is a male (I know, I know, hate me, Feminist. Our tirakatan this time was located in our new mushalla. So the speaker will be speaking where imam is usually spotted), and second, because I think he is a better speaker than I am. But anyway, thinking about my dad’s request, I had the difficulties to talk about independence day, what am I going to contemplate about? Of course I think about being grateful, like, without the sacrifices from all the patriots, we would’ve been still under the Dutch or Japan colonialization, I wouldn’t be able to go to school and my dad and my brother would probably be taken as romusha. But what is beyond that?

my girlfriend asty and i celebrated the independence night by having an iftar in red-white dress code

I don’t know if I can talk behalf of my generation, but as a person who was born 45 years after the independence, I have the difficulties to contemplate about the meaning of independence. Why? Because I was born with it. When I was a baby, I and everyone else were already granted the Indonesian citizenship and full rights as citizens. We use Indonesian currency, Indonesian man sitting as a president, we didn’t try to take this land from other countries’ hand. This is our land, our nation, and our country, and I take it just like that, for granted.

Youth, through the history of Indonesia, or probably the history of many other civilization, has been playing a very important role within the society. Our independence, for example, would not be achieved without the ‘reckless act’ of the youth. Chairul Saleh, Wikana and Soekarni ‘kidnapped’ Soekarno and Hatta to protect them from Japan’s influence and at the same time to persuade them to proclaim the independence as soon as possible. We also know Soe Hok Gie, whom the thoughts were very critical, original and bright. Soeharto regime was thrown, one of them was because the movement of university students. I am a young woman and I go to university. I should’ve meant something. I am one of the very few who is fortunate enough to go to college. It should’ve led somewhere.

Since I went to college, I no longer have the responsibility to join a flag ceremony. So I guess I have no symbolical activities to value the independence. But August 17 itself is a reminder, no matter how apathy I am, this date will always come around every year and it will make me, at least, thinking about how am I going to value independence. It will remind me on what steps should I take as an independent person who has the absolute bless, to be born 45 years after the patriots took huge and risky steps to create an independence nation.

August 17 2012

 

Day 6: Yogyakarta

As much as I start to like Jakarta, nothing beats the excitement of getting back to Yogyakarta. The committee took us to lunch right away to Parsley. My order came out late but it was good meals so they pretty much were forgiven. We’ll be staying in one house in UGM area (Universitas Gadjah Mada) for the next 10 days. We switch roommate, now I have Theresa in my room.

We had a welcome dinner in Royal Garden Restaurant. It was the first time I went there and it turns out to be a really nice place, with good foods too. Even vegetables taste delicious. I think delicious vegetables are the parameter of good restaurant, because I found it uneasy to cook good vegetables.

I think the house is giving a whole different atmosphere to us. We can just wear our shorts and hanging out at the dining room. We felt tired, but I guess the homy situation makes us feel better so instead of going to bed right away, we still gosipping about stuffs, or interneting, and watching tv. I don’t think I have much to say for today. I hope tomorrow is gonna be exciting!

1: Perkenalan

Ceritanya, saya menjadi bagian dari kegiatan bernama US-Indonesia Partnership Program 2012. Program ini, katanya, adalah hasil inisiatif dari Pak SBY dan Pak Obama yang ingin meningkatkan hubungan antara Indonesia dengan Amerika Serikat. Hasilnya, universitas-universitas di dua negara digerakkan untuk membangun kerjasama U to U, di antara universitas yang ambil bagian adalah: Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, University of Michigan dan LeHigh University. Selama satu bulan ini, mahasiswa dari empat universitas tersebut akan menjalani kuliah, field trip serta kegiatan-kegiatan lain yang bertemakan demokrasi, pluralisme beragama dan multikulturalisme.

Hari ini saya tiba di Jakarta, Alhamdulillah dengan tepat waktu. Saya langsung dibawa ke Wisma Makara, penginapan milik Universitas Indonesia. Teman sekamar saya bernama Angela Marie, dari LeHigh University, ini foto kami:

Selain welcome dinner, belum ada acara lain di hari ini. Kami masih saling mengenal,  Theresa bilang ia mungkin membutuhkan waktu untuk mengingat nama kami semua. Saya membayangkan hal yang sama kalau pergi ke Thailand, Laos, Kenya, atau Rusia- harus mengingat nama-nama yang terdengar sangat etnik. Sementara itu, nama-nama Amerika relatif mudah diingat, tampaknya mereka berhasil membuat kulturnya mengglobal. Keempat kami memperhatikan saran dari dosen pembimbing mereka untuk memakai pakaian yang sopan (baca: tertutup). Hal ini sepertinya cukup menantang bagi mereka mengingat udara Jakarta yang sangat panas, harusnya mereka bisa pakai tank top. Saya merasa senang, sebagai tuan rumah, mengetahui bahwa kultur saya, kultur kami, dihormati. Mereka juga kelihatan menikmati makanan-makanan khas Indonesia, dan semangat mengikuti program sampai beberapa hari ke depan. Good partners will make a good program.

Besok saya mungkin akan menulis lebih banyak lagi! Cheers!