My Apology for Beauty Pageant People

I used to hate when Christina Aguilera sings “We are beautiful no matter what they say”, or when Miss Universe says what matter the most its the beauty inside you, not the outer. I mean, yea right, it is easy for them to say that, its not like they knew how it feels to be unpretty. I feel insecure most of the time because I feel unpretty. I look at my beautiful friends and wonder why cant I have the same bright skin, healthy long hair, perfect nose and lips. Insecurity leads to jealousy, and jealousy makes you judged. I judged most of beautiful people, especially them I do not know personally. Like beautiful people in beauty pageant. I snorted and laughed at Putri Indonesia contest, said to myself I could say things smarter. I knew some people who went to similar contest in domestic level, and I laughed at them too, I guessed they have neither better behavior nor better brain than me.

And here I am dating a man who won beauty pageant in national level. Objectively speaking (95% objective) he is a gorgeous man and smart and funny and humble and his heart is like an angel. It doesn’t make me stop judging. I always said to myself that he is a rare exception. Two days ago I accompanied him to go out of town, he had to do a presentation about exchange program recruitment he works at. He told me that we are going to meet some of his friends, his friends from the beauty pageant. So I guess yea its time. I try to picture whats gonna happen, I wonder whether they’re going to underestimate me because I’m unpretty, as well as I’m going to underestimate them because they are brainless and arrogant.

Finally I met two guys, beauty pageant friends of my boyfriend. They’re gorgeous, checked. They’re brainless, unchecked. They’re arrogant, unchecked. They’re kind-hearted, checked checked checked! One of the two guys were very generous to us. He thought that we’re the guest to his hometown and thus he needed to take care of us. He took us to lunch and drove us to travel office. I don’t even know if I would do such things when my far-away friends are coming over, unless we’re really good friends. They didn’t say anything stupid as I was expecting. In fact they have impressive part time jobs, and initiating real community development movement. And no, I wasnt being intimidated by anyone.

I guess you know my conclusion, we cant over generalized anything. And well, everyone is struggling to actualize themselves. First step of self actualization is to find out what you are good at or what is good from you or what you like to do. And if you feel like your thing is being pretty, then there you go to the second step which is to work out your goods. If joining beauty pageant is what you think it is, then go ahead. Though probably only one of your asset is not enough to make you “actual”. Being only pretty is not enough because people like me will dislike you, so polish up your attitude and knowledge. While for my kind of people, being critical brat is bad because.. its bad. It hurts people and it keeps you narrow,  so get a decent look and get a decent attitude! We all try to be someone better, just stretch beyond the confident we already have.

Advertisements

Kaus Kaki dan Bulu Kelinci

Dulunya saya sudah haqul yakin mau jadi penulis. Email pertama yang saya buat saya namai im_author@doramail.com. Dilihat dari perspektif masa kini memang agak alay, tapi dulunya email itu mencerminkan harapan dan identitas saya. Identitas, karena memang pada saat itu saya sudah mengidentifikasi diri saya sebagai penulis. Agak sombong ya. But I was just a kid, can I just get an excuse?

Saya yang dulu merasa penulis ini paling sering menulis cerpen untuk dikirim ke KR minggu. Hari ini saya menengok kembali klipingan cerpen-cerpen itu (yang disimpan rapi dalam sebuah map oleh mama saya). Tema cerita saya adalah kehidupan sehari-hari. Ini beberapa judul yang pernah saya buat: Membuat Kebun di Halaman, Merangkai Mainan dari Sisa, Tidak Mau Menyisakan Makanan Lagi, dan Kaus Kaki Hasil Menebak.

Terakhir kali saya menulis cerpen mungkin kelas satu SMP. Setelah itu, mungkin istilahnya saya terkena writer’s block. Atau mungkin, saya hanya berhenti berimajinasi. Atau mungkin juga, hal-hal di sekitar saya sudah tidak terlalu menarik lagi. Meski sebenarnya bukan “hal-hal di sekitar saya” yang salah. Maksudnya, saya pernah menulis cerpen tentang kaus kaki! Bayangkan, kaus kaki! Sejak tahun 1990 sampai 2012 benda ini tidak berubah fungsi dan bentuk dasarnya. Tapi dulu, dulu sekali, saya bisa terinspirasi oleh benda itu.

Alberto Knox, guru filsafat Sophie dalam Dunia Sophie pernah berkata bahwa kebanyakan manusia seperti berada di pangkal bulu-bulu kelinci. Dan mereka merasa nyaman di situ, sehingga enggan memanjat naik ke ujung bulu untuk melihat apa yang sebenarnya berada di luar mereka? Di bulu apa atau siapa mereka sebenarnya berada? Dan ada apa lagi selain apa atau siapa yang berbulu itu? Barangkali itulah yang terjadi kepada saya. Semakin dewasa, saya semakin nyaman berada di dalam dunia dan kehidupan saya yang nyata. Saya punya banyak teman di sekolah, naksir bertepuk sebelah tangan, suka main ke mall, cemas dengan kulit yang tidak putih dan jerawat dan lain sebagainya. Akibatnya saya tidak lagi menaruh perhatian pada hal-hal kecil dan sepele, seperti kaus kaki.

kita harus memanjat keluar dari bulu kelinci. foto ini courtesy Tiyaz Nurlaili.

Saya tidak menaruh perhatian, tidak juga mengajukan pertanyaan. Padahal dosen saya Bu Menik pernah berkata bahwa “Pengetahuan baru dimulai dari sebuah pertanyaan.” Saya rasa, cerpen dan tulisan lain juga begitu, diawali dengan sebuah pertanyaan. Contohnya cerpen kaus kaki saya, mungkin diawali dengan pertanyaan, “Apa yang mungkin dilakukan oleh Youri (nama tokoh saya) apabila salah satu kaus kaki putihnya hanyut di sungai, padahal besok Senin ada upacara bendera?” atau apalah sejenisnya.

Saya masih tidak tahu bagaimana caranya membuat diri saya mau untuk memanjat keluar dari bulu kelinci, lalu mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi. Mungkin membuat blog ini adalah sebuah awal, tapi mungkin juga tidak.

Wonocatur, 26 Februari 2012