Perang Melawan Semuanya ala Sosmed

Pernah nonton Where Do We Go Now? Film festival asal Lebanon yang menceritakan sekelompok perempuan di suatu desa terpencil yang berusaha menjaga stabilitas dan perdamaian di desanya, yang dihuni oleh warga Muslim dan Kristen. Bukan tugas yang mudah. Di pekan pertama, Amal, Yvonne dan teman-temannya harus membakar surat kabar. Pekan berikutnya mereka harus merusak radio dan televisi- satu-satunya radio dan televisi yang dimiliki oleh penduduk desa. Selanjutnya, perempuan-perempuan ini masih harus siaga untuk melihat tanda-tanda perpecahan, lalu segera memutar otak untuk mencari solusinya. Mereka harus gerak cepat. Sebelum terlambat. Seolah-olah, setiap satu ‘misi’ selesai, mereka menghela nafas dan langsung bertanya pada diri sendiri, “Where do we go now?”, “Ke mana kita sekarang?” atau, “Opo meneh saiki jal?”

maxresdefault
Tokoh Amal dalam Where Do We Go Now? – sumber: Youtube

Hal ini karena tampaknya, pemicu kemarahan manusia itu tak ada habisnya. Selalu ada saja hal-hal yang menyebabkan darah kita mendidih, membuat segalanya jadi tampak hitam-putih, dan kita hanya boleh menyukai salahsatunya saja. Sisanya harus kita benci, tidak bisa biasa-biasa saja. Dan karena benci, maka kita harus menjauhi, menghina, kalau perlu memukul.

Usai menonton film itu, yang terpikirkan di benak saya adalah: Mereka belum merasakan yang namanya media sosial. Di desa yang terisolasi saja, Amal dan kawan-kawannya sudah kalang kabut menjaga kedamaian. Entah bagaimana jadinya jika mereka berada di kawasan yang penuh sinyal, sehingga provokasi dan hoax hanya berjarak dua ibu jari. Pasti mereka akan menyerah. Fuck this shit. Terlalu sulit. Social media is such a riot.

Kata orang, kita harus toleran dan terbuka. Kata orang juga, perkembangan teknologi saat ini memudahkan kita untuk melihat berbagai sisi yang berbeda. Such an ideal thought of technology and social media, yes? Yang mungkin kita tidak tahu adalah, media sosial seperti facebook tidak memberikan ruang yang sebebas yang kita bayangkan untuk melihat “sisi lain”. Facebook punya sistem tersendiri yang mempengaruhi informasi atau iklan apa saja yang masuk ke timeline kita, termasuk diantara yang mempengaruhi pengalaman kita saat scrolling timeline ini adalah interest, advertisers we’ve interact with dan informasi personal. Saya mencoba mengecek bagaimana aktivitas online saya mempengaruhi timeline facebook. Hasilnya, facebook ternyata memasukkan saya dalam kategori berikut ini: Away From Family, All Frequent Travelers, Smartphone Owners, 3G Connection (Cih, gak tau dia saya baru punya hape 4G dibeliin suami! *pongah*), Close Friends of Expats, dan Family-based Households. Facebook juga mengidentifikasi website yang sering atau pernah saya buka, antara lain: Traveloka, The New York Times, Comedy Central, Rainforest Action Network, The Guardian, The Body Shop, Buzzfeed dan Kumparan. Dari situ, sedikit-banyak saya sudah bisa mahfum tentang alasan di balik sponsored pages yang muncul di timeline saya, yang rata-rata progresif, pro keberagaman, feminis, dan biasanya pro Jokowi dan Ahok. Hasilnya tentu berbeda jika mereka memasukkan saya dalam kategori: Meninist, Anti-Semitics, Islamophobic dan Chinese-haters (LOL just kidding, saya nggak tahu apakah kategori-kategori itu ada). Atau jika saya lebih sering membuka situs panjimas, eramuslim, gemaislam, kiblat.net, atau situs-situs lainnya yang juga diajukan oleh BNPT untuk diblokir. Intinya, facebook sudah secara automatis mengatur agar kita sebisa mungkin hanya membaca dan mendengar apa yang kita mau dengar. (Jika kamu ingin mengecek bagaimana facebook memasukanmu dalam kategori-kategori yang kemudian mempengaruhi timeline, ikuti langkah-langkahnya di sini atau baca penjelasan dari facebook di sini).

Lalu, bagaimana dengan hal-hal yang tidak bisa diatur secara otomatis oleh facebook? You know, seperti om yang homophobic, atau teman SMP yang bersikeras bahwa perkosaan disebabkan oleh pakaian yang seksi? Untuk kasus ini, facebook menyediakan fitur unfollow, unfriend hingga block. Dan mari kita akui bersama, kita sudah sangat sering menggunakan fitur-fitur tersebut. Alasannya karena ingin mengurangi negativitas di facebook, daripada pahala puasanya berkurang yekan? Atau bahkan, demi menjaga silaturahmi. Daripada jadi enggan datang ke arisan keluarga, lebih baik kita block si om X di dunia maya.

Apapun motivasinya, akibatnya sama. Timeline kita berisi berita dan orang-orang yang sependapat, satu pola pikir. Saat ada yang masih belum di-unfollow, rasanya mengganggu, karena kita begitu terbiasa dengan lingkaran yang berpersepsi sama, hingga persepsi itu terasa seperti kebenaran. Kebenaran yang menyenangkan. Padahal kebenaran biasanya tidak menyenangkan.

Saya pernah memutuskan untuk tidak mengakses media sosial selama beberapa minggu. Hal ini saya umumkan di facebook karena yaa.. sok ngartis aja sih, publisitas gitu. Waktu itu, ada juga teman yang tidak sepakat dengan rencana saya dengan alasan yang cukup idealis, “justru karena banyak racun di media sosial, maka kita harus melawan racun-racun itu dengan berada di medan pertempuran.”

Teman saya memang benar. Terutama tentang racun. Racun-racun. Banyak racun. Berbagai macam racun, dan media sosial memaksa kita untuk bertempur dengan semuanya. Hari ini kita menulis petisi untuk membebaskan Ahok, esok hari kita mengomentari kriminalisasi LGBT, sorenya menyempatkan diri menulis kata-kata simpati untuk Afi yang kena rundung orang dewasa bodoh, malamnya membagi link tentang tragedi di konser Ariana Grande, lusa pagi mengutuk Donald Trump karena mencabut komitmen Amerika Serikat dari Piagam Paris, siangnya memblock dan unfollow teman-teman yang menyebalkan, lalu menghias profil picture dengan tulisan Aku Pancasila. FIUH. Minggu yang sibuk!

Saya sendiri bukan superhero yang bisa memerangi semua kebatilan, bahkan jika alat perangnya hanya berupa keyboard yang berada di depan mata. Bahkan sejujurnya, kadang-kadang saya merasa lebih buruk dengan menulis status di media sosial untuk menanggapi peristiwa atau tragedi tertentu. Sebanyak apapun paragraf yang saya tulis, saya tidak bisa menyelamatkan Ahok dari vonis bersalah. Meski saya menggunakan caps lock, Ibu Baiq Nuril Maknun tetap dikriminalisasikan dengan UU ITE. Karena mungkin, menulis status memang tidak cukup. Menulis status mungkin membuat kita lega, because we need to get this anger out of our chest somehow, kan. Tapi selain itu, bisa jadi kita hanya masturbasi, menghilangkan rasa bersalah karena belum bisa berbuat lebih. Atau setidaknya, kita bisa memberitahu orang-orang yang berbeda pendapat di facebook, bahwa opini mereka sampah. I’m not saying that this is wrong, by the way. This is a free country. OR NOT. HAHA. Lihat Ahok, Ibu Nuril, bahkan HTI dan Rizieq Syihab.

Jika kita berpikir bahwa media sosial adalah tempat kampanye dan edukasi yang strategis, mungkin kita harus memikirkan strategi yang lebih strategis. Karena ingat, banyak dari kita yang hanya mendengar apa yang ingin kita dengar.    

Hingga saat itu tiba, media sosial akan menjadi tempat kekacauan dan pertempuran yang fana – virtual riot, yang dihadapi dengan virtual struggle. Di mana yang hitam dan yang putih menumpuk, makin tebal warnanya, makin menunjukkan perbedaan diantara keduanya.

Coba ada Amal, Yvonne dan teman-temannya. Mungkin kita bisa bertukar-pikiran, sabotase macam apa yang harus dilakukan sekarang. Opo mene saiki jal?

Ahok

Ahok menangis karena teringat orangtua angkatnya yang bukan hanya ia cintai dan hormati sepenuh hati, namun juga begitu besar jasanya terhadap hidupnya. Dalam pembukaan surat keberatannya ia mengatakan bahwa ayah kandung dan ayah angkatnya berjanji akan selalu bersaudara. Separuh hidup dan hatinya tertaut pada orang muslim. Menistakan agama adalah hal terakhir, kalau tidak pernah samasekali, terbersit di pikirannya. Namun ucapan dan perasaan ini tenggelam dalam teriakan mengatas-namakan Tuhan yang penuh kemarahan. Bagi mereka ini tidak masuk di akal. Bagi mereka Ahok berbeda. Ia bukan hanya menyembah Tuhan yang berbeda, namun ia juga punya lingkaran keluarga dan sahabat yang berbeda. Ahok pasti hanya akan berpihak pada mereka yang Kristen dan Cina, kalau perlu ia musuhi semua yang bukan Kristen dan Cina. Kepada muslim, Ahok tidak mungkin peduli apalagi menyayangi. Namun manusia memang sering membuat asumsi berdasarkan standar mereka sendiri. Akupun sering begitu. Karena aku licik dan culas, maka orang lain juga licik dan culas. Orang yang mudah selingkuh akan berpikir bahwa pasangannya berselingkuh. Orang yang perasa percaya bahwa orang lain juga seharusnya merasakan hal serupa. Sisanya tidak pernah hidup dengan orang yang berbeda ras dan agama. Sudah punya sosial media tapi yang ia baca hanya yang berasal dari kalangannya saja. Bos-nya mungkin berbeda agama. Tapi hanya ia jilat-jilat kalau sedang di depannya. Dalam hati ia percaya betul bahwa si bos akan masuk neraka karena pergi ke rumah ibadah yang berbeda. Syukur-syukur si bos ditembak petrus karena ia mungkin anggota PKI yang katanya bangkit lagi dan sudah bangun markas di Matraman. Makanya, mana mungkin Andi Baso Amir dan Misiribu Andi Baso Amir memperlakukan Ahok seperti anak sendiri. Mana mungkin ada janji persaudaraan di antara dua keluarga yang sangat berbeda? Mana mungkin kita bisa menghormati agama dan kepercayaan lain seperti kita menghormati agama sendiri? Cerita tentang cinta dan kasih sayang yang tanpa batas itu pun tenggelam, tidak terdengar oleh telinga yang sudah terlebih dulu pekak oleh suaranya sendiri. Hati pun sudah tidur mati.

Hidup Nyaman dengan ‘Privilege’

Ada banyak film yang mengisahkan orang kulit putih menjadi ‘inspirasi’ (atau bahkan ‘penyelamat’) bagi orang kulit hitam atau Hispanik yang miskin dan bermasalah. Ada Freedom Writers, The Blind Side, Conrack, Dangerous Mind, Mc Farland USA dan lain-lain. Pola ceritanya mirip-mirip, terutama film yang berlatarbelakang sekolah: Guru kulit putih mendadak mengajar di sekolah kecil, dengan murid-murid yang kasar, malas, tidak tertarik belajar di sekolah karena hidupnya keras. Setelah proses pendekatan yang tidak mudah, guru kulit putih akhirnya mendapatkan kepercayaan dari murid-muridnya yang berbeda ras. Biasanya, hubungan yang sudah harmonis ini akan goyah di tengah film karena ada masalah di lingkungan keluarga atau pertemanan si murid. Namun dengan ketelatenan dan ketulusan, sang guru akan berhasil mengatasi masalah dan memberikan akhir yang bahagia bagi murid-muridnya, setidaknya membuat mereka lulus SMA. Dari beberapa film, yang paling saya suka adalah Mc Farland USA. Adegan favorit saya adalah ketika Pelatih Jim White ikut bekerja di kebun kol bersama murid-muridnya. Di situ ia merasakan sendiri betapa sulit dan melelahkannya pekerjaan memanen kol. Lewat interaksi dengan keluarga Diaz, Jim White juga menyadari bahwa pekerjaan memanen kol adalah pekerjaan penting, sumber finansial keluarga yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja demi latihan cross country. Akhirnya, Jim White pun menyesuaikan jadwal latihan cross country, agar murid-muridnya tetap punya waktu untuk membantu orangtua di ladang. Menurut saya proses inilah yang membuat Jim White berbeda dengan guru-guru lainnya. Ia mencoba memahami pilihan yang dibuat oleh murid-muridnya beserta keluarga mereka—apa alasan dibalik pilihan tersebut, kenapa pilihan ini penting dan seterusnya. Ia tidak mencoba menegaskan bahwa cross country adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan memanen kol. Sementara itu, karakter guru kulit putih lainnya jadi lebih membosankan karena dalam film mereka cukup bersimpati saja, lalu memberikan kata-kata motivasi untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya diakhir film, penonton semakin teryakinkan bahwa pilihan yang ditawarkan oleh si guru kulit putih adalah pilihan yang terbaik, sementara pilihan yang lain harus dikorbankan atau ditinggalkan. Hal semacam ini memang kekhilafannya orang dengan privilege, alias orang yang sudah terbiasa hidup dengan nyaman, dengan hak-hak yang selalu terpenuhi. Orang-orang yang ber-previlege seringkali kesulitan untuk menempatkan diri di posisi orang lain yang berlatarbelakang berbeda dengan mereka.

Tentu saja saya sendiri menyadari bahwa saya adalah orang yang ber-previlege. Saya mulai menyadari hal ini umur 9 tahun, ketika papa bercerita bahwa jaman kecil dulu ia pergi ke sekolah—yang jaraknya belasan kilometer naik-turun bukit—dengan berjalan kaki, bahwa ia harus bagi-bagi makanan yang jumlahnya terbatas dengan sebelas orang mbak dan mas, bahwa ia tumbuh besar tanpa listrik apalagi android, bahwa ia harus pura-pura ketiduran di bis dari Yogya ke Kulon Progo supaya tidak dimintai ongkos oleh kernet bis. Saya tahu bahwa meskipun saya perempuan, saya tetap punya hak istimewa karena kedua orangtua saya masih hidup, mereka berdua bekerja dan meskipun akhir tahun 90an adalah waktu yang cukup mengerikan secara finansial untuk pasangan muda dengan dua orang anak kecil, mama-papa masih bisa membayar uang sekolah saya sampai dengan kuliah S1. Seiring dengan berjalannya waktu, saya bertemu dengan lebih banyak orang dengan lebih banyak cerita, dan saya menyadari bahwa ternyata saya lebih ber-previleged dari yang saya bayangkan. Saya adalah orang Jawa muslim di Indonesia dan oleh karenanya, saya tidak pernah dihakimi sebagai orang yang kasar dan tukang mabuk. Beberapa tahun lalu, saya juga baru sadar bahwa saya adalah seorang muslim sunni, dan ternyata menjadi sunni juga adalah hak istimewa karena sekelompok orang Indonesia tidak bisa hidup dekat-dekat orang Syiah atau Ahmadiyah (iya memang lucu. Kami sudah hidup berdampingan dengan mereka selama bertahun-tahun tanpa ada masalah, tanpa pengkotak-kotakan dan tanpa kekerasan. Bahkan lagu nasional Indonesia Raya digubah oleh seorang Ahmadi. Lalu tiba-tiba ada goncangan politik di Timur Tengah dan bum, tiba-tiba kami JUGA membenci syiah, dan tentunya aliran-alliran lain). Anyway, untung saja saya sunni. Tidak terbayang bagaimana rasanya lahir dan besar di keluarga non-sunni, lalu dibenci, dicaci-maki, diancam dibunuh dan diusir, semuanya karena latarbelakang pemberian dari Allah, sesuatu yang tidak bisa saya pilih. Alhamdulillah kan? Hal lain yang membuat saya bisa hidup nyaman adalah karena saya bukan gay atau lesbian atau transgender atau transeksual atau aseksual.

Anyway, cerita tentang Jim White dan pengalaman pribadi saya hanya bertujuan untuk memberikan ilustrasi tentang arti privileged serta bagaimana orang ber-previleged mengatasi masalah orang atau kelompok lain yang tidak ber-previleged. Tidak banyak yang seperti pelatih Jim White. Reaksi pertama dari orang ber-previlege dalam interaksinya dengan orang yang tidak ber-previlege seringkali bukanlah usaha untuk mengenal dan memahami, tapi reaksi membela diri. Contohnya: (1) Ketika kampanye Black Lives Matter di Amerika Serikat muncul, sekelompok orang merespon dengan mengatakan All Lives Matter. (2) Ketika muncul gerakan feminisme, sekelompok laki-laki merespon dengan “Kalau laki-laki dan perempuan setara, kenapa harus ada feminisme? Kenapa harus ada aksi afirmatif? Kenapa harus ada kebijakan khusus perempuan?” (3) Ketika orang-orang ramai membela Ibu Saeni di bulan Ramadhan lalu, sekelompok orang berkata “Bagaimana dengan penghormatan untuk orang yang berpuasa?!”, (4) Ketika para buruh melakukan demonstrasi untuk meminta kenaikan gaji, sekelompok orang berkata, “Kita aja nggak pernah minta macam-macam,” dan lain-lain.

Sifat narsisme dan self-centered ini membuat kita merasa bahwa dunia beserta segala permasalahan di dalamnya hanya berputar di sekitar kita. Ketika kelompok minoritas atau marjinal mengangkat masalah yang berkaitan dengan haknya, kelompok ber-previlege akan berfokus pada posisi mereka. Ada rasa takut untuk kehilangan hak yang selama ini dimiliki, takut dilupakan juga takut untuk disalahkan. Padahal, Black Lives Matter tidak berarti bahwa nyawa orang kulit putih tidak penting, feminisme tidak menjadikan laki-laki sebagai warga kelas dua, tidak adanya perda yang memerintahkan penutupan warung tidak akan menghancurkan kejayaan Islam, menaikkan kesejahteraan buruh tidak akan menurunkan kemapanan kelas menengah. Memastikan bahwa orang lain mendapatkan hak-nya, tidak akan membuat kita kehilangan hak kita sendiri.

Tidak ada yang salah dengan memiliki privilege, bahwa saya terlahir sebagai muslim, jawa, berkulit sawo matang dan heteroseksual adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Bagi saya, hal yang penting untuk diperhatikan adalah mengakui bahwa saya punya privilege, dan mencoba lebih sensitif dengan pengalaman orang lain yang berbeda latarbelakang.

 

Pernikahan Hari Ke-120

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel di The Telegraph berjudul Couples Who Share the Houseworks are More Likely to Divorce, Study Finds. Saya memang agak ketinggalan jaman karena artikel ini ternyata sudah diunggah sejak tahun 2012. Studi yang dilakukan di Norwegia ini menunjukkan bahwa tingkat perceraian pada pasangan yang berbagi pekerjaan rumah tangga 50% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perceraian pada pasangan dimana istri mengerjakan sebagian besar pekerjaan rumah. Studi ini memang patut dipertanyakan karena berkebalikan dengan hasil penelitian di tempat lain. Pada tahun 2014, Dailymail memberitakan hasil penelitian di University of Illnois yang menunjukkan bahwa pasangan yang berbagi pekerjaan rumah tangga justru terbukti lebih bahagia. Terlepas dari perbedaan dan ke-valid-an masing-masing penelitian, artikel The Telegraph tersebut tetap berhasil membuat saya tercenung. Sebagai perempuan yang baru menikah, saya cukup serius memikirkan bentuk keluarga yang akan saya miliki. Keseriusan itu bukan tanpa didasari kegelisahan.

Tidak, saya tidak pernah punya keraguan sedikitpun sebelum menikah dengan Hardya. Saya tahu bahwa ia adalah “jodoh” saya, setidaknya empat hari setelah kami memutuskan untuk bersama. Saya juga tidak mengalami sindrom-sindrom bridezilla seperti yang dibicarakan di film-film. Tapi bukan berarti saya tidak mengalami kegalauan sama sekali. Saya katakan pada Hardya, bahwa satu hal yang saya khawatirkan dari pernikahan adalah terjebak dalam standar gender yang selama ini terkonstruksikan dalam masyarakat. Jauh sebelum hari H, saya galau memikirkan ritual tradisional yang harus saya lalui. Saya katakan pada Hardya dan papa-mama, bahwa saya tidak mau melalui tradisi dimana saya harus mencuci kaki pengantin laki-laki ataupun kucar-kucur (yang berarti bahwa tugas Hardya adalah menafkahi dan tugas saya adalah menerima nafkah). Gayung bersambut, mama dan papa—sebagai master mind dan juga, ehm, decision maker upacara pernikahan—tidak kepingin pakai prosesi panggih, yang berarti bahwa saya tidak perlu mencuci kaki siapa-siapa. Menjelang pernikahan, ketika saya dan Hardya diharuskan mengikuti kelas pranikah di KUA setempat, kami khawatir—atau lebih tepatnya su’udzon—nantinya harus mendengarkan ceramah yang bias gender. Prasangka kami ternyata tak terbukti. Petugas KUA Banguntapan yang memberikan “kelas pranikah” rupanya sangat netral dan obyektif. Tips dan trik berkeluarga yang beliau berikan cukup imbang, membutuhkan mutual effort dari suami maupun istri. Kalaupun ada nasehat yang nyrempet-nyrempet berat sebelah, beliau tidak menggunakan justifikasi agama apapun, namun justru dengan fair menambahkan kalimat, “Itu kalau menurut saya.”

Kekhawatiran saya baru terbukti setelah resmi menikah, ketika orang-orang mulai bertanya, “Kamu masakin apa buat Hardya?” dan “Udah ‘isi’ belum?” Tebak apa respon dari beberapa orang ketika saya jawab bahwa saya tidak bisa memasak? Mereka bilang “Tunggu saja sampai suamimu mencari perempuan lain. Karena laki-laki kan ingin dilayani.” Belum lagi soal anak, kalau saya jawab bahwa saya dan Hardya ingin menunggu beberapa tahun sebelum punya anak, respon mereka adalah, “Nanti malah nggak bisa punya anak lho..Baru empat bulan jadi istri, saya sudah disumpahi ditinggal suami dan mandul. Human being are so amazing. Hal-hal seperti inilah yang membuat saya semakin gelisah, semakin ingin melawan, semakin takut untuk terjebak dalam harapan dan konstruksi orang-orang yang tidak punya andil samasekali dalam hidup saya maupun Hardya.

Minggu-minggu awal setelah pernikahan, saya mengajak Hardya untuk membuat perjanjian tentang pembagian pekerjaan rumah dan alokasi keuangan kami berdua. Ketika ada hal-hal yang membuat pembagian kerja ini tidak bisa berjalan sesuai kesepakatan, saya akan merasa terganggu. Setiap saat, saya juga terus mempertanyakan, apakah yang saya lakukan ini alami, ataukah hasil dari konstruksi gender yang melekat pada alam bawah sadar? Apakah bangun lebih pagi dari Hardya adalah sesuatu yang alami? Apakah pembagian kerja kami sudah setara? Apakah saya tetap bisa menjadi feminis dan istri pada saat yang bersamaan? Dan seterusnya, sampai akhirnya saya sadar, bahwa saya memperlakukan pernikahan kami seperti hubungan kerja kontraktual.

Seperti ditulis dalam artikel di The Telegraph, “These people are extremely sensitive to making sure everything is formal, laid out and contractual. That does make for a fairly fraught relationship. The more you organize your relationship, the more you work out diaries and schedules, the more it becomes a business relationship than an intimate, loving spontaneous one.”

Dan saya, adalah bagian dari these people yang disebutkan oleh Profesor Sosiologi University of Canterbury bernama Dr. Frank Fuerdi itu. Saya berpikir bahwa “kontrak kerja” dalam pernikahan akan menghindarkan kami dari jebakan patriarki dan konstruksi gender. Padahal gender adalah soal pembagian peran, dengan menggunakan mitos maskulin dan feminin.

Apakah berbagi pekerjaan dalam keluarga itu penting? Hell yes. Bagi saya, salahsatunya untuk alasan praktikal; karena suami bisa memasak sedangkan istri tidak, karena istri bisa bersih-bersih sedangkan suami tidak, dan seterusnya. Berbagi tugas adalah cara agar keluarga bisa berfungsi dengan baik. Apakah pembagian tugas yang rigid itu diperlukan?

Saya ingin mengutip gagasan Manneke Budiman. Tidak seperti istilah rumah tangga, istilah keluarga masih lebih netral. Rumah tangga identik dengan tanggungjawab perempuan sebagai pihak yang bertugas untuk mempersiapkan kesehatan fisik dan psikologis laki-laki yang bertugas di ranah publik untuk mencari pendapatan. Jika peranan ini tidak terbagi seperti pada umumnya, istilah yang dilekatkan pada suami dan istri pun ikut diubah, “bapak rumah tangga” dan “ibu yang bekerja”. Kemudian kita harus ramai-ramai melakukan pembelaan pada sang bapak, bahwa dia tidak lantas dilucuti dari harga diri dan maskulinitasnya karena mengurus rumah tangga. Juga harus melakukan pembelaan pada sang ibu, that she’s not a bitch. Istilah keluarga, sementara itu, lebih netral. Tidak ada istilah “ibu keluarga” atau “bapak keluarga” yang mengasosiasikan masing-masing pihak dengan peranan spesifik. Oleh karenanya, keluarga menjadi arena yang strategis untuk melakukan dekolonisasi gender.

Mengutip Manneke Budiman dalam tulisannya di Jurnal Perempuan 76, Maret 2013:

“…Keluarga tidak lagi dipersepsikan sebagai sebuah unit sosial-ekonomi, melainkan sebagai benteng terakhir yang memberikan perlindungan kepada individu-individu yang menyatukan diri di dalamnya dari dikotomi-dikotomi dan pemaksaan peran-peran sosial oleh norma dominan yang ada di luar rumah, yakni dalam masyarakat.”

Atas dasar itu, kita berkesempatan untuk membentuk makna keluarga  kita sendiri, yang terbebas dari konstruksi rumah tangga yang dipaksakan oleh masyarakat. Langkah pertamanya adalah dengan mengubah paradigma tentang peranan tradisional  yang melekat pada status suami dan istri. Hardya dan saya sama-sama punya tanggungjawab untuk memprioritaskan keluarga, mengelola keuangan, menjaga agar rumah tetap rapi dan bersih, merawat yang lelah dan sakit, dan nantinya sama-sama bertanggungjawab atas tumbuh-kembang anak.

Saya juga ingin melihat keluarga dan pernikahan saya sebagai teamwork yang relax, dimana setiap orang saling mengobati, menolong dan saling mendukung, sambil tetap menjadi dirinya sendiri yang berhak untuk mengaktualisasikan diri, mengejar mimpi dan punya determinasi.

3R
Writing our shared value on couple t-shirt 😀

Maju-Mundur Demokrasi itu Tidak Mengapa

Tentu kita semua gemas dan marah. DPR telah menyalahi kontrak sosial yang dimiliki oleh rakyat dan pemimpin. Mereka dengan sengaja melupakan bahwa tugas dari pemimpin adalah menjaga state of nature yang kita miliki pra-politik, di mana semua orang pada dasarnya bebas dan berhak. Seperti kata Locke, sejauh pemerintah memenuhi kewajiban ini, maka kekuasaan yang mereka miliki bersifat sah dan mengikat. Sebaliknya, ketika mereka melakukan tindakan yang melukai hak masyarakat, mereka bisa dilempar keluar dari kursi kekuasaan. Hal ini dilakukan oleh bangsa Indonesia kepada Pak Harto. Meski kesadaran untuk menuju state of liberty memakan waktu tigapuluh tahun dan harus mengorbankan banyak nyawa, namun pada akhirnya kita bisa mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Untuk alasan itu pula Indonesia menjadi ‘anomali’ di Asia Tenggara. Latarbelakang kebudayaan negara ini tidak jauh berbeda dengan mereka; dengan sejarah kental kerajaan-kerajaan besar, yang bahkan beberapa di antaranya masih berdiri hingga sekarang. Sebutlah nilai-nilai yang melekat dengan latarbelakang sejarah tersebut: feodal, patriarkis, oligarkis, budaya patron-klien dan seterusnya (tanpa menegasikan warisan-warisan indah dari kejayaan masa lalu). Indonesia memiliki semua sifat itu. Namun, bahkan ketika Presiden Sukarno memiliki kedekatan dengan Poros Peking, mengagumi sosialisme dan menjadi pembicara di depan pertemuan buruh seluruh dunia, Indonesia toh tidak lantas berubah menjadi negara sosialis-komunis. Bahkan ketika beberapa anggota perumus Pancasila membujuk agar Islam dijadikan sebagai dasar negara, Indonesia tidak terjerumus menjadi negara Islam. Pada saat Suharto membuka pintu bagi perdagangan bebas, Indonesia tidak lantas menjadi negara liberal.

Negara yang masih muda ini telah melalui banyak hal. Termasuk diantaranya maju-mundurnya demokrasi. Tapi bukankah maju-mundur itu tidak mengapa? Iman saja bisa maju-mundur kok (asal bukan cinta. Cintamu harus tertuju padaku 24/7 dan selamanya). Bangsa ini hebat karena ia tidak pernah menyerah dalam upaya menuju state of liberty yang sebenar-benarnya. Kita berhasil memaksa Suharto turun tahta, kita menyerang pemerintahan SBY yang membosankan dan tidak punya sikap (dengan kritik-kritik nyinyir, tanpa harus menjatuhkan paksa kepemimpinannya yang dipilih secara demokratis), kita pun berhasil mengalahkan koalisi merah-putih (rasanya tidak rela menyebut nama koalisi ini, karena kezaliman tidak pantas mengatasnamakan kebesaran bendera) dalam pemilu presiden 2014. Kita berada di tempat ini karena kita bersatu padu dan mengelola harapan. Bangsa lain terjebak dalam kelaliman pemimpinnya, karena mereka tidak melawan dengan cukup keras, atau tidak cukup percaya bahwa perlawanan mereka akan berhasil.

Untuk itu, mari berhenti menggunakan tagar #RIPtoDemocracy. Mari. Demokrasi belum mati. Ia mungkin kalah suara dalam rapat paripurna. Namun kita akan memenangkannya kembali, sama seperti kita memenangkannya di era Sukarno, Suharto, SBY dan pilpres Jokowi. Bahkan mungkin kita harus mencontoh kegigihan Koalisi Merah Putih yang kalah dalam pilpres namun melakukan segala cara untuk tetap berkuasa. Kita juga harus sama gigihnya! Tadi malam kita kalah dalam pengambilan suara, tetapi nanti kita bisa bawa keputusan ini ke MK, nanti kita bisa bersama-sama tidak pilih anggota koalisi merah putih dalam pileg selanjutnya (sehingga pilkada tidak langsung akan jadi blunder bagi mereka). Demokrasi belum mati karena kita belum memutuskan menyerah.

Jakarta, 26 September 2014

Ojo Gumunan (karo seks)

Seorang teman membagi link melalui facebook yang memberitakan bahwa sejumlah situs berisi informasi untuk ibu menyusui telah diblokir, sebagai imbas dari peraturan menteri Komunikasi dan Informatika tentang pemblokiran internet bermuatan negatif. Mungkin gara-gara html situs ini memuat frase breast massage. Payudara memang tampaknya sudah mengalami proses peyorasi di negara ini. Kata atau bagian tubuh ini membuat orang terobsesi, mengingini, lalu melakukan tindak perlindungan diri dengan cara mengutuki. Seperti berita jilboobs yang belum lama ini membayangi timeline facebook saya. Padahal sebenarnya ‘fenomena’ ini juga tidak baru-baru amat. Sejak saya masih mengenakan jilbab mulai tahun 2005, orang-orang juga sudah memakai jilbab dengan cara yang sama. Waktu itu, tidak ada yang mencemooh mereka. Namun sekarang, gaya berpakaian ini mendadak jadi serius. Ada yang menanggapinya dengan cara agamis (“cara berpakaian seperti ini menghina Islam dan perempuan, bla bla bla”), banyak pula yang melihatnya dengan cara seksual. Bagi saya sendiri, bukan para pengguna jilbab itu yang menghina perempuan, namun mereka yang menulis artikel dan menyebarkan artikel itulah yang melakukan pelecehan. Foto orang-orang itu disensor mukanya, sehingga hanya bagian dada yang tersisa untuk dilihat. Identitas mereka tidak penting, mereka hanyalah sekelompok makhluk hidup berpayudara. Saya tidak terkejut, tubuh wanita toh sudah dijadikan objek selama berabad-abad lamanya. Artikel yang beredar di media sosial ini hanya salahsatu di antaranya. Bentuk objektifikasi kampungan.

Mengapa payudara wanita, atau seksualitas secara umum menjadi hal yang begitu menghebohkan, namun tercela? Sehingga televisi tidak hanya melakukan sensor pada belahan dada, namun juga pada patung-patung telanjang ala Renaissance (dalam film-film yang kebetulan berlatarbelakang Eropa)? Apakah mudah-terangsang memang menjadi bagian dalam diri kita yang tidak akan terpisahkan? Apakah memang tubuh wanita sengaja diciptakan untuk merangsang? Sesederhana itukah? Lalu mengapa tidak ada pelecehan seksual di Vermont? Di mana tidak ada larangan untuk tampil telanjang di tempat umum?

Beberapa kawan saya pun ikut mengomentari artikel tentang jilboobs dengan nada seksual, saya muak. Saya pikir mereka cukup pintar, ternyata segitu aja. Sebenarnya tubuh perempuan itu biasa-biasa saja. Tubuh perempuan tidak memiliki sifat / berkodrat merangsang, konstruksi sosial lah yang membuatnya demikian. Seperti kata Foucault, pandangan kita tentang seksualitas dibentuk oleh relasi kuasa. Kita meyakini bahwa seksualitas sudah melekat pada diri kita sejak lahir, bahwa lekuk payudara adalah suatu hal yang secara otomatis akan membuat pria terangsang. Dengan kata lain, kekuasaan tersebut berhasil membuat orang percaya bahwa tubuh wanita inheren dengan objek seks, sehingga tubuh ini harus disembunyikan. Sebagai konsekuensi, jika kita pulang malam dan tidak memakai pakaian tertutup, maka kita pantas dilecehkan, we’re asking for it, salah sendiri tidak menutup diri sehingga membuat pria ingin menikmati kita. Ada pula yang membuat analogi antara perempuan dengan lollipop. Orang yang membuat komparasi tersebut sudah pasti tidak pernah belajar prinsip perbandingan dalam riset, karena dia berasumsi bahwa wanita dan permen adalah sampling yang sah untuk dibandingkan. Kodrat manusia, baik wanita maupun pria, bukanlah untuk dilecehkan atau melecehkan. Kodrat manusia adalah berjuang.

download
’cause I’m obviously similar to a dirty lollipop

Terkait kehebohan yang ditunjukkan orang-orang pada payudara dan isu seks, Foucault pun memiliki penjelasan yang sederhana, “We only desire something we can’t have.” Penjelasan ini membuat saya merasa kasihan dengan mereka yang gampang terpana dengan foto payudara, mereka adalah orang-orang yang sangat menginginkan seks namun tidak bisa mendapatkannya. Aww.. L  Get married, guys. Or get laid. Orang-orang juga mungkin masih takjub dan terheran-heran dengan isu seks. Karena selama ini seks ditempatkan di ruang tabu, yang tidak boleh dibicarakan secara terbuka. Seks hanya disebutkan melalui satu kalimat pada saat penyuluhan HIV/AIDS (“Hindari seks bebas!”, tanpa mengetahui definisi “seks bebas” yang sebenarnya, tanpa mendapat klarifikasi bahwa berhubungan seks dengan pasangan sah secara hukum dan agama yang terkena AIDS pun bisa menyebabkan kita terjangkit virus tersebut). Kita menghindari pembicaraan tentang seks karena kita begitu peduli pada moralitas. Kita ingin mencetak orang-orang yang bermoral dengan cara menyembunyikan seks dari pembicaraan kosntruktif, membuat seks jadi hal asing yang mengagetkan.    

Pepatah Jawa Ojo dadi wong gumunan mungkin juga bisa kita terapkan pada seks. Kita lahir dari proses seksual, kita memiliki ketertarikan pada seksualitas dan kita akan melakukan hubungan seks. Kita pernah meminum susu dari payudara ibu, payudara adalah bagian dari tubuh yang melekat pada tubuh wanita (juga pria). Hal lain yang tidak kalah penting, kita harus belajar menghormati orang lain dan keputusan yang mereka ambil atas tubuh mereka. Tidak seorangpun yang boleh dinegasikan hak-nya atas tubuh mereka sendiri. Ditindik atau tidak ditindik, berambut panjang atau pendek, berjilbab atau tidak, semua manusia pantas dan harus mendapatkan penghargaan.    

Jakarta, 14 Agustus 2014

Kita Pembajak Agama

Ikut pengajian bukan merupakan salah satu kegiatan favorit saya. Jika boleh membela diri, saya tidak suka ditakut-takuti dengan api neraka, atau dilarang melakukan ini-itu karena semuanya dosa. Hidup dalam ketakutan tidak membuat saya nyaman. Saya ingin hidup senang dan tenang. Saya juga tidak hobi ke pengajian, karena isinya yang repetitive. Minggu lalu saja, ustadzah di masjid samping rumah menyampaikan kultum tentang orang-orang yang berhak menerima zakat. Tema yang sudah jadi bahan pelajaran dan bahan ujian agama Islam sejak saya duduk di bangku SD-SMP-SMA, seolah-olah perihal agama hanya berada seputar ibadah, surga dan neraka. Itu saja. Sesempit itukah? Sinisme terhadap ajaran agama semakin lengkap dengan perilaku para pemeluknya yang hobi “bermain Tuhan.” Macam teman saya yang baru-baru ini menjadi korban politisasi agama, lantas mengata-ngatai Quraish Shihab sebagai sesat. Semakin didesak, semakin ketahuan betapa ia tidak memiliki dasar yang cukup. Ia adalah korban provokasi, yang kemudian menjadi provokator. Saya lelah melihat bagaimana pemeluk agama mempergunakan agama atau keyakinan mereka menjadi sesuatu yang tidak produktif, bahkan cenderung destruktif.

Namun sore itu, saya terduduk tegak mendengarkan kultum dari Ibu Athiyatul Ulya di acara buka bersama jejaring perempuan. Tema yang dia angkat adalah bagaimana perspektif Islam dapat merekatkan dan memperkuat gerakan perempuan (ketika pembawa acara menyebutkan tema ini, saya bergairah namun bertanya-tanya dengan rasa tidak yakin, “Hah? Islam bisa disambungkan dengan hal begituan?”). Ia bercerita bahwa pada suatu hari di jaman Nabi, para wanita mengadakan pertemuan. Mereka menceritakan kekerasan yang mereka terima dari suami-suaminya. Salah seorang wanita dalam pertemuan ini pun memutuskan untuk mewakili teman-temannya, mengunjungi Rasulullah dan menceritakan isi pertemuan yang mereka selenggarakan. Esoknya, seperti diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda di depan umatnya, “…para suami yang memukul istrinya bukanlah termasuk orang-orang baik di antara kamu.”

Perwakilan perempuan pernah pula mendatangi Rasulullah untuk menyampaikan hal lain, kali ini pasca peristiwa hijrah, “Rasulullah, saya tidak mendengar Allah menyebutkan perempuan sedikitpun dalam hal yang berkaitan dengan hijrah!” Setelah peristiwa tersebut, segera turun ayat 195 surat Ali-Imran yang artinya,  ” Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.’”

Ada beberapa moral cerita yang disampaikan Ibu Athifatul Ulya, salahsatu yang melekat dalam ingatan saya adalah bahwa perempuan memang harus bersatu dan memperjuangkan nasib mereka sendiri. Konstruksi kebudayaan yang selama ini ada seringkali melupakan atau mengabaikan kepentingan perempuan. Sengaja ataupun tidak disengaja, kita harus bersatu padu untuk mengubahnya.

Sang Ustadzah selesai bicara dan sayapun tertegun menyadari bahwa saya baru saja mendengarkan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadist tanpa sedikitpun berkeinginan untuk menarik diri. Sebaliknya, saya baru saja mendapat inspirasi. Dan bukankah begitu semestinya agama atau keyakinan kita bekerja? Menginspirasi. Memotivasi, alih-alih menjadikan kita pembenci.

Islam sendiri tumbuh sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Hingga Muhammad meninggal pada tahun 632, banyak wahyu yang turun, banyak gagasan yang muncul, banyak interaksi yang ia lakukan, banyak ajaran yang ia contohkan, banyak hal baru yang ia pelajari. Dari rentang waktu dan peristiwa tersebut, benarkah ia hanya mengajari kita tentang aqidah dan tata cara ibadah? Bukankah ia juga menunjukkan pada umatnya perihal kasih sayang? Bukankah ia, yang kabarnya begitu dicintai oleh Tuhan itu, tidak pernah menggunakan posisinya untuk meneriaki orang lain dengan kata sesat atau kafir?

Sayangnya, saya, beberapa ustadz sebelah rumah dan teman-teman saya memilih untuk membajak agama ini. Kami membuatnya tampak seperti keyakinan kaku dan sempit, yang tidak mengijinkan manusia berbuat banyak hal, alih-alih mendorongnya untuk mencurigai dan menghakimi sesama. Teman saya bahkan berkata bahwa ia tidak bisa memperdebatkan Islam dengan menggunakan “teori2 demokrasi, perdamaian, ham, dll.” Ia, secara tidak langsung (atau langsung?) mengklaim bahwa Islam bukanlah agama yang damai dan humanis.

Jika kita berpikir bahwa agama harus dipisahkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, perdamaian dan HAM, maka jangan-jangan kita sedang menyepelekan agama itu sendiri. Karena agama yang sudah tumbuh sejak lebih dari seribu tahun yang lalu itu, punya banyak inspirasi yang bisa ditawarkan pada kita. Surprise surprise!

 

Jakarta, 17 Juli 2014