Perang Melawan Semuanya ala Sosmed

Pernah nonton Where Do We Go Now? Film festival asal Lebanon yang menceritakan sekelompok perempuan di suatu desa terpencil yang berusaha menjaga stabilitas dan perdamaian di desanya, yang dihuni oleh warga Muslim dan Kristen. Bukan tugas yang mudah. Di pekan pertama, Amal, Yvonne dan teman-temannya harus membakar surat kabar. Pekan berikutnya mereka harus merusak radio dan televisi- satu-satunya radio dan televisi yang dimiliki oleh penduduk desa. Selanjutnya, perempuan-perempuan ini masih harus siaga untuk melihat tanda-tanda perpecahan, lalu segera memutar otak untuk mencari solusinya. Mereka harus gerak cepat. Sebelum terlambat. Seolah-olah, setiap satu ‘misi’ selesai, mereka menghela nafas dan langsung bertanya pada diri sendiri, “Where do we go now?”, “Ke mana kita sekarang?” atau, “Opo meneh saiki jal?”

maxresdefault
Tokoh Amal dalam Where Do We Go Now? – sumber: Youtube

Hal ini karena tampaknya, pemicu kemarahan manusia itu tak ada habisnya. Selalu ada saja hal-hal yang menyebabkan darah kita mendidih, membuat segalanya jadi tampak hitam-putih, dan kita hanya boleh menyukai salahsatunya saja. Sisanya harus kita benci, tidak bisa biasa-biasa saja. Dan karena benci, maka kita harus menjauhi, menghina, kalau perlu memukul.

Usai menonton film itu, yang terpikirkan di benak saya adalah: Mereka belum merasakan yang namanya media sosial. Di desa yang terisolasi saja, Amal dan kawan-kawannya sudah kalang kabut menjaga kedamaian. Entah bagaimana jadinya jika mereka berada di kawasan yang penuh sinyal, sehingga provokasi dan hoax hanya berjarak dua ibu jari. Pasti mereka akan menyerah. Fuck this shit. Terlalu sulit. Social media is such a riot.

Kata orang, kita harus toleran dan terbuka. Kata orang juga, perkembangan teknologi saat ini memudahkan kita untuk melihat berbagai sisi yang berbeda. Such an ideal thought of technology and social media, yes? Yang mungkin kita tidak tahu adalah, media sosial seperti facebook tidak memberikan ruang yang sebebas yang kita bayangkan untuk melihat “sisi lain”. Facebook punya sistem tersendiri yang mempengaruhi informasi atau iklan apa saja yang masuk ke timeline kita, termasuk diantara yang mempengaruhi pengalaman kita saat scrolling timeline ini adalah interest, advertisers we’ve interact with dan informasi personal. Saya mencoba mengecek bagaimana aktivitas online saya mempengaruhi timeline facebook. Hasilnya, facebook ternyata memasukkan saya dalam kategori berikut ini: Away From Family, All Frequent Travelers, Smartphone Owners, 3G Connection (Cih, gak tau dia saya baru punya hape 4G dibeliin suami! *pongah*), Close Friends of Expats, dan Family-based Households. Facebook juga mengidentifikasi website yang sering atau pernah saya buka, antara lain: Traveloka, The New York Times, Comedy Central, Rainforest Action Network, The Guardian, The Body Shop, Buzzfeed dan Kumparan. Dari situ, sedikit-banyak saya sudah bisa mahfum tentang alasan di balik sponsored pages yang muncul di timeline saya, yang rata-rata progresif, pro keberagaman, feminis, dan biasanya pro Jokowi dan Ahok. Hasilnya tentu berbeda jika mereka memasukkan saya dalam kategori: Meninist, Anti-Semitics, Islamophobic dan Chinese-haters (LOL just kidding, saya nggak tahu apakah kategori-kategori itu ada). Atau jika saya lebih sering membuka situs panjimas, eramuslim, gemaislam, kiblat.net, atau situs-situs lainnya yang juga diajukan oleh BNPT untuk diblokir. Intinya, facebook sudah secara automatis mengatur agar kita sebisa mungkin hanya membaca dan mendengar apa yang kita mau dengar. (Jika kamu ingin mengecek bagaimana facebook memasukanmu dalam kategori-kategori yang kemudian mempengaruhi timeline, ikuti langkah-langkahnya di sini atau baca penjelasan dari facebook di sini).

Lalu, bagaimana dengan hal-hal yang tidak bisa diatur secara otomatis oleh facebook? You know, seperti om yang homophobic, atau teman SMP yang bersikeras bahwa perkosaan disebabkan oleh pakaian yang seksi? Untuk kasus ini, facebook menyediakan fitur unfollow, unfriend hingga block. Dan mari kita akui bersama, kita sudah sangat sering menggunakan fitur-fitur tersebut. Alasannya karena ingin mengurangi negativitas di facebook, daripada pahala puasanya berkurang yekan? Atau bahkan, demi menjaga silaturahmi. Daripada jadi enggan datang ke arisan keluarga, lebih baik kita block si om X di dunia maya.

Apapun motivasinya, akibatnya sama. Timeline kita berisi berita dan orang-orang yang sependapat, satu pola pikir. Saat ada yang masih belum di-unfollow, rasanya mengganggu, karena kita begitu terbiasa dengan lingkaran yang berpersepsi sama, hingga persepsi itu terasa seperti kebenaran. Kebenaran yang menyenangkan. Padahal kebenaran biasanya tidak menyenangkan.

Saya pernah memutuskan untuk tidak mengakses media sosial selama beberapa minggu. Hal ini saya umumkan di facebook karena yaa.. sok ngartis aja sih, publisitas gitu. Waktu itu, ada juga teman yang tidak sepakat dengan rencana saya dengan alasan yang cukup idealis, “justru karena banyak racun di media sosial, maka kita harus melawan racun-racun itu dengan berada di medan pertempuran.”

Teman saya memang benar. Terutama tentang racun. Racun-racun. Banyak racun. Berbagai macam racun, dan media sosial memaksa kita untuk bertempur dengan semuanya. Hari ini kita menulis petisi untuk membebaskan Ahok, esok hari kita mengomentari kriminalisasi LGBT, sorenya menyempatkan diri menulis kata-kata simpati untuk Afi yang kena rundung orang dewasa bodoh, malamnya membagi link tentang tragedi di konser Ariana Grande, lusa pagi mengutuk Donald Trump karena mencabut komitmen Amerika Serikat dari Piagam Paris, siangnya memblock dan unfollow teman-teman yang menyebalkan, lalu menghias profil picture dengan tulisan Aku Pancasila. FIUH. Minggu yang sibuk!

Saya sendiri bukan superhero yang bisa memerangi semua kebatilan, bahkan jika alat perangnya hanya berupa keyboard yang berada di depan mata. Bahkan sejujurnya, kadang-kadang saya merasa lebih buruk dengan menulis status di media sosial untuk menanggapi peristiwa atau tragedi tertentu. Sebanyak apapun paragraf yang saya tulis, saya tidak bisa menyelamatkan Ahok dari vonis bersalah. Meski saya menggunakan caps lock, Ibu Baiq Nuril Maknun tetap dikriminalisasikan dengan UU ITE. Karena mungkin, menulis status memang tidak cukup. Menulis status mungkin membuat kita lega, because we need to get this anger out of our chest somehow, kan. Tapi selain itu, bisa jadi kita hanya masturbasi, menghilangkan rasa bersalah karena belum bisa berbuat lebih. Atau setidaknya, kita bisa memberitahu orang-orang yang berbeda pendapat di facebook, bahwa opini mereka sampah. I’m not saying that this is wrong, by the way. This is a free country. OR NOT. HAHA. Lihat Ahok, Ibu Nuril, bahkan HTI dan Rizieq Syihab.

Jika kita berpikir bahwa media sosial adalah tempat kampanye dan edukasi yang strategis, mungkin kita harus memikirkan strategi yang lebih strategis. Karena ingat, banyak dari kita yang hanya mendengar apa yang ingin kita dengar.    

Hingga saat itu tiba, media sosial akan menjadi tempat kekacauan dan pertempuran yang fana – virtual riot, yang dihadapi dengan virtual struggle. Di mana yang hitam dan yang putih menumpuk, makin tebal warnanya, makin menunjukkan perbedaan diantara keduanya.

Coba ada Amal, Yvonne dan teman-temannya. Mungkin kita bisa bertukar-pikiran, sabotase macam apa yang harus dilakukan sekarang. Opo mene saiki jal?

Advertisements

One thought on “Perang Melawan Semuanya ala Sosmed

  1. Sebagai orang yang mencari nafkah lewat media sosial dan serius mau belajar menggunakan teknologi ini untuk sesuatu yang baik, this post got me thinking hard, and somewhat renders me helpless. Terutama bagian ini: “Jika kita berpikir bahwa media sosial adalah tempat kampanye dan edukasi yang strategis, mungkin kita harus memikirkan strategi yang lebih strategis. Karena ingat, banyak dari kita yang hanya mendengar apa yang ingin kita dengar.”
    Banyak dari kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar.. hm.. kayaknya aku harus mulai masuk ke area tersebut, beyond social media, behind it, how informations can be distributed equally, without bias, dan gimana orang gak cuma disendokin berita-berita yang ingin mereka dengar?
    Mau numpang komentar juga soal social media detox. I’ve been off Facebook for most two months, because I figure I can’t say something nice nor I can refuse to join the bandwagon of social media wars so I decided just to shut it off completely. I deleted Facebook, Path, Twitter – which I have to install back due to work, damn it – and leave only the less harmless platform that I could think of: Instagram. Even that, I still think that I waste so much time fighting the virtual war without changing completely nothing. People is not going to be open-minded just because we preach them to do so, people is not going to be more soft-hearted just because we encourage them through tweet series.
    Anyway, thank you post-nya Kak Gita, I will definitely remember this post and keep me close to my heart every time I decided to study more about this so-called-liberating technology: social media. Memikirkan cara yang lebih strategis..hm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s