Ahok

Ahok menangis karena teringat orangtua angkatnya yang bukan hanya ia cintai dan hormati sepenuh hati, namun juga begitu besar jasanya terhadap hidupnya. Dalam pembukaan surat keberatannya ia mengatakan bahwa ayah kandung dan ayah angkatnya berjanji akan selalu bersaudara. Separuh hidup dan hatinya tertaut pada orang muslim. Menistakan agama adalah hal terakhir, kalau tidak pernah samasekali, terbersit di pikirannya. Namun ucapan dan perasaan ini tenggelam dalam teriakan mengatas-namakan Tuhan yang penuh kemarahan. Bagi mereka ini tidak masuk di akal. Bagi mereka Ahok berbeda. Ia bukan hanya menyembah Tuhan yang berbeda, namun ia juga punya lingkaran keluarga dan sahabat yang berbeda. Ahok pasti hanya akan berpihak pada mereka yang Kristen dan Cina, kalau perlu ia musuhi semua yang bukan Kristen dan Cina. Kepada muslim, Ahok tidak mungkin peduli apalagi menyayangi. Namun manusia memang sering membuat asumsi berdasarkan standar mereka sendiri. Akupun sering begitu. Karena aku licik dan culas, maka orang lain juga licik dan culas. Orang yang mudah selingkuh akan berpikir bahwa pasangannya berselingkuh. Orang yang perasa percaya bahwa orang lain juga seharusnya merasakan hal serupa. Sisanya tidak pernah hidup dengan orang yang berbeda ras dan agama. Sudah punya sosial media tapi yang ia baca hanya yang berasal dari kalangannya saja. Bos-nya mungkin berbeda agama. Tapi hanya ia jilat-jilat kalau sedang di depannya. Dalam hati ia percaya betul bahwa si bos akan masuk neraka karena pergi ke rumah ibadah yang berbeda. Syukur-syukur si bos ditembak petrus karena ia mungkin anggota PKI yang katanya bangkit lagi dan sudah bangun markas di Matraman. Makanya, mana mungkin Andi Baso Amir dan Misiribu Andi Baso Amir memperlakukan Ahok seperti anak sendiri. Mana mungkin ada janji persaudaraan di antara dua keluarga yang sangat berbeda? Mana mungkin kita bisa menghormati agama dan kepercayaan lain seperti kita menghormati agama sendiri? Cerita tentang cinta dan kasih sayang yang tanpa batas itu pun tenggelam, tidak terdengar oleh telinga yang sudah terlebih dulu pekak oleh suaranya sendiri. Hati pun sudah tidur mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s