Hidup Nyaman dengan ‘Privilege’

Ada banyak film yang mengisahkan orang kulit putih menjadi ‘inspirasi’ (atau bahkan ‘penyelamat’) bagi orang kulit hitam atau Hispanik yang miskin dan bermasalah. Ada Freedom Writers, The Blind Side, Conrack, Dangerous Mind, Mc Farland USA dan lain-lain. Pola ceritanya mirip-mirip, terutama film yang berlatarbelakang sekolah: Guru kulit putih mendadak mengajar di sekolah kecil, dengan murid-murid yang kasar, malas, tidak tertarik belajar di sekolah karena hidupnya keras. Setelah proses pendekatan yang tidak mudah, guru kulit putih akhirnya mendapatkan kepercayaan dari murid-muridnya yang berbeda ras. Biasanya, hubungan yang sudah harmonis ini akan goyah di tengah film karena ada masalah di lingkungan keluarga atau pertemanan si murid. Namun dengan ketelatenan dan ketulusan, sang guru akan berhasil mengatasi masalah dan memberikan akhir yang bahagia bagi murid-muridnya, setidaknya membuat mereka lulus SMA. Dari beberapa film, yang paling saya suka adalah Mc Farland USA. Adegan favorit saya adalah ketika Pelatih Jim White ikut bekerja di kebun kol bersama murid-muridnya. Di situ ia merasakan sendiri betapa sulit dan melelahkannya pekerjaan memanen kol. Lewat interaksi dengan keluarga Diaz, Jim White juga menyadari bahwa pekerjaan memanen kol adalah pekerjaan penting, sumber finansial keluarga yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja demi latihan cross country. Akhirnya, Jim White pun menyesuaikan jadwal latihan cross country, agar murid-muridnya tetap punya waktu untuk membantu orangtua di ladang. Menurut saya proses inilah yang membuat Jim White berbeda dengan guru-guru lainnya. Ia mencoba memahami pilihan yang dibuat oleh murid-muridnya beserta keluarga mereka—apa alasan dibalik pilihan tersebut, kenapa pilihan ini penting dan seterusnya. Ia tidak mencoba menegaskan bahwa cross country adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan memanen kol. Sementara itu, karakter guru kulit putih lainnya jadi lebih membosankan karena dalam film mereka cukup bersimpati saja, lalu memberikan kata-kata motivasi untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya diakhir film, penonton semakin teryakinkan bahwa pilihan yang ditawarkan oleh si guru kulit putih adalah pilihan yang terbaik, sementara pilihan yang lain harus dikorbankan atau ditinggalkan. Hal semacam ini memang kekhilafannya orang dengan privilege, alias orang yang sudah terbiasa hidup dengan nyaman, dengan hak-hak yang selalu terpenuhi. Orang-orang yang ber-previlege seringkali kesulitan untuk menempatkan diri di posisi orang lain yang berlatarbelakang berbeda dengan mereka.

Tentu saja saya sendiri menyadari bahwa saya adalah orang yang ber-previlege. Saya mulai menyadari hal ini umur 9 tahun, ketika papa bercerita bahwa jaman kecil dulu ia pergi ke sekolah—yang jaraknya belasan kilometer naik-turun bukit—dengan berjalan kaki, bahwa ia harus bagi-bagi makanan yang jumlahnya terbatas dengan sebelas orang mbak dan mas, bahwa ia tumbuh besar tanpa listrik apalagi android, bahwa ia harus pura-pura ketiduran di bis dari Yogya ke Kulon Progo supaya tidak dimintai ongkos oleh kernet bis. Saya tahu bahwa meskipun saya perempuan, saya tetap punya hak istimewa karena kedua orangtua saya masih hidup, mereka berdua bekerja dan meskipun akhir tahun 90an adalah waktu yang cukup mengerikan secara finansial untuk pasangan muda dengan dua orang anak kecil, mama-papa masih bisa membayar uang sekolah saya sampai dengan kuliah S1. Seiring dengan berjalannya waktu, saya bertemu dengan lebih banyak orang dengan lebih banyak cerita, dan saya menyadari bahwa ternyata saya lebih ber-previleged dari yang saya bayangkan. Saya adalah orang Jawa muslim di Indonesia dan oleh karenanya, saya tidak pernah dihakimi sebagai orang yang kasar dan tukang mabuk. Beberapa tahun lalu, saya juga baru sadar bahwa saya adalah seorang muslim sunni, dan ternyata menjadi sunni juga adalah hak istimewa karena sekelompok orang Indonesia tidak bisa hidup dekat-dekat orang Syiah atau Ahmadiyah (iya memang lucu. Kami sudah hidup berdampingan dengan mereka selama bertahun-tahun tanpa ada masalah, tanpa pengkotak-kotakan dan tanpa kekerasan. Bahkan lagu nasional Indonesia Raya digubah oleh seorang Ahmadi. Lalu tiba-tiba ada goncangan politik di Timur Tengah dan bum, tiba-tiba kami JUGA membenci syiah, dan tentunya aliran-alliran lain). Anyway, untung saja saya sunni. Tidak terbayang bagaimana rasanya lahir dan besar di keluarga non-sunni, lalu dibenci, dicaci-maki, diancam dibunuh dan diusir, semuanya karena latarbelakang pemberian dari Allah, sesuatu yang tidak bisa saya pilih. Alhamdulillah kan? Hal lain yang membuat saya bisa hidup nyaman adalah karena saya bukan gay atau lesbian atau transgender atau transeksual atau aseksual.

Anyway, cerita tentang Jim White dan pengalaman pribadi saya hanya bertujuan untuk memberikan ilustrasi tentang arti privileged serta bagaimana orang ber-previleged mengatasi masalah orang atau kelompok lain yang tidak ber-previleged. Tidak banyak yang seperti pelatih Jim White. Reaksi pertama dari orang ber-previlege dalam interaksinya dengan orang yang tidak ber-previlege seringkali bukanlah usaha untuk mengenal dan memahami, tapi reaksi membela diri. Contohnya: (1) Ketika kampanye Black Lives Matter di Amerika Serikat muncul, sekelompok orang merespon dengan mengatakan All Lives Matter. (2) Ketika muncul gerakan feminisme, sekelompok laki-laki merespon dengan “Kalau laki-laki dan perempuan setara, kenapa harus ada feminisme? Kenapa harus ada aksi afirmatif? Kenapa harus ada kebijakan khusus perempuan?” (3) Ketika orang-orang ramai membela Ibu Saeni di bulan Ramadhan lalu, sekelompok orang berkata “Bagaimana dengan penghormatan untuk orang yang berpuasa?!”, (4) Ketika para buruh melakukan demonstrasi untuk meminta kenaikan gaji, sekelompok orang berkata, “Kita aja nggak pernah minta macam-macam,” dan lain-lain.

Sifat narsisme dan self-centered ini membuat kita merasa bahwa dunia beserta segala permasalahan di dalamnya hanya berputar di sekitar kita. Ketika kelompok minoritas atau marjinal mengangkat masalah yang berkaitan dengan haknya, kelompok ber-previlege akan berfokus pada posisi mereka. Ada rasa takut untuk kehilangan hak yang selama ini dimiliki, takut dilupakan juga takut untuk disalahkan. Padahal, Black Lives Matter tidak berarti bahwa nyawa orang kulit putih tidak penting, feminisme tidak menjadikan laki-laki sebagai warga kelas dua, tidak adanya perda yang memerintahkan penutupan warung tidak akan menghancurkan kejayaan Islam, menaikkan kesejahteraan buruh tidak akan menurunkan kemapanan kelas menengah. Memastikan bahwa orang lain mendapatkan hak-nya, tidak akan membuat kita kehilangan hak kita sendiri.

Tidak ada yang salah dengan memiliki privilege, bahwa saya terlahir sebagai muslim, jawa, berkulit sawo matang dan heteroseksual adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Bagi saya, hal yang penting untuk diperhatikan adalah mengakui bahwa saya punya privilege, dan mencoba lebih sensitif dengan pengalaman orang lain yang berbeda latarbelakang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s