Pernikahan Hari Ke-120

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel di The Telegraph berjudul Couples Who Share the Houseworks are More Likely to Divorce, Study Finds. Saya memang agak ketinggalan jaman karena artikel ini ternyata sudah diunggah sejak tahun 2012. Studi yang dilakukan di Norwegia ini menunjukkan bahwa tingkat perceraian pada pasangan yang berbagi pekerjaan rumah tangga 50% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat perceraian pada pasangan dimana istri mengerjakan sebagian besar pekerjaan rumah. Studi ini memang patut dipertanyakan karena berkebalikan dengan hasil penelitian di tempat lain. Pada tahun 2014, Dailymail memberitakan hasil penelitian di University of Illnois yang menunjukkan bahwa pasangan yang berbagi pekerjaan rumah tangga justru terbukti lebih bahagia. Terlepas dari perbedaan dan ke-valid-an masing-masing penelitian, artikel The Telegraph tersebut tetap berhasil membuat saya tercenung. Sebagai perempuan yang baru menikah, saya cukup serius memikirkan bentuk keluarga yang akan saya miliki. Keseriusan itu bukan tanpa didasari kegelisahan.

Tidak, saya tidak pernah punya keraguan sedikitpun sebelum menikah dengan Hardya. Saya tahu bahwa ia adalah “jodoh” saya, setidaknya empat hari setelah kami memutuskan untuk bersama. Saya juga tidak mengalami sindrom-sindrom bridezilla seperti yang dibicarakan di film-film. Tapi bukan berarti saya tidak mengalami kegalauan sama sekali. Saya katakan pada Hardya, bahwa satu hal yang saya khawatirkan dari pernikahan adalah terjebak dalam standar gender yang selama ini terkonstruksikan dalam masyarakat. Jauh sebelum hari H, saya galau memikirkan ritual tradisional yang harus saya lalui. Saya katakan pada Hardya dan papa-mama, bahwa saya tidak mau melalui tradisi dimana saya harus mencuci kaki pengantin laki-laki ataupun kucar-kucur (yang berarti bahwa tugas Hardya adalah menafkahi dan tugas saya adalah menerima nafkah). Gayung bersambut, mama dan papa—sebagai master mind dan juga, ehm, decision maker upacara pernikahan—tidak kepingin pakai prosesi panggih, yang berarti bahwa saya tidak perlu mencuci kaki siapa-siapa. Menjelang pernikahan, ketika saya dan Hardya diharuskan mengikuti kelas pranikah di KUA setempat, kami khawatir—atau lebih tepatnya su’udzon—nantinya harus mendengarkan ceramah yang bias gender. Prasangka kami ternyata tak terbukti. Petugas KUA Banguntapan yang memberikan “kelas pranikah” rupanya sangat netral dan obyektif. Tips dan trik berkeluarga yang beliau berikan cukup imbang, membutuhkan mutual effort dari suami maupun istri. Kalaupun ada nasehat yang nyrempet-nyrempet berat sebelah, beliau tidak menggunakan justifikasi agama apapun, namun justru dengan fair menambahkan kalimat, “Itu kalau menurut saya.”

Kekhawatiran saya baru terbukti setelah resmi menikah, ketika orang-orang mulai bertanya, “Kamu masakin apa buat Hardya?” dan “Udah ‘isi’ belum?” Tebak apa respon dari beberapa orang ketika saya jawab bahwa saya tidak bisa memasak? Mereka bilang “Tunggu saja sampai suamimu mencari perempuan lain. Karena laki-laki kan ingin dilayani.” Belum lagi soal anak, kalau saya jawab bahwa saya dan Hardya ingin menunggu beberapa tahun sebelum punya anak, respon mereka adalah, “Nanti malah nggak bisa punya anak lho..Baru empat bulan jadi istri, saya sudah disumpahi ditinggal suami dan mandul. Human being are so amazing. Hal-hal seperti inilah yang membuat saya semakin gelisah, semakin ingin melawan, semakin takut untuk terjebak dalam harapan dan konstruksi orang-orang yang tidak punya andil samasekali dalam hidup saya maupun Hardya.

Minggu-minggu awal setelah pernikahan, saya mengajak Hardya untuk membuat perjanjian tentang pembagian pekerjaan rumah dan alokasi keuangan kami berdua. Ketika ada hal-hal yang membuat pembagian kerja ini tidak bisa berjalan sesuai kesepakatan, saya akan merasa terganggu. Setiap saat, saya juga terus mempertanyakan, apakah yang saya lakukan ini alami, ataukah hasil dari konstruksi gender yang melekat pada alam bawah sadar? Apakah bangun lebih pagi dari Hardya adalah sesuatu yang alami? Apakah pembagian kerja kami sudah setara? Apakah saya tetap bisa menjadi feminis dan istri pada saat yang bersamaan? Dan seterusnya, sampai akhirnya saya sadar, bahwa saya memperlakukan pernikahan kami seperti hubungan kerja kontraktual.

Seperti ditulis dalam artikel di The Telegraph, “These people are extremely sensitive to making sure everything is formal, laid out and contractual. That does make for a fairly fraught relationship. The more you organize your relationship, the more you work out diaries and schedules, the more it becomes a business relationship than an intimate, loving spontaneous one.”

Dan saya, adalah bagian dari these people yang disebutkan oleh Profesor Sosiologi University of Canterbury bernama Dr. Frank Fuerdi itu. Saya berpikir bahwa “kontrak kerja” dalam pernikahan akan menghindarkan kami dari jebakan patriarki dan konstruksi gender. Padahal gender adalah soal pembagian peran, dengan menggunakan mitos maskulin dan feminin.

Apakah berbagi pekerjaan dalam keluarga itu penting? Hell yes. Bagi saya, salahsatunya untuk alasan praktikal; karena suami bisa memasak sedangkan istri tidak, karena istri bisa bersih-bersih sedangkan suami tidak, dan seterusnya. Berbagi tugas adalah cara agar keluarga bisa berfungsi dengan baik. Apakah pembagian tugas yang rigid itu diperlukan?

Saya ingin mengutip gagasan Manneke Budiman. Tidak seperti istilah rumah tangga, istilah keluarga masih lebih netral. Rumah tangga identik dengan tanggungjawab perempuan sebagai pihak yang bertugas untuk mempersiapkan kesehatan fisik dan psikologis laki-laki yang bertugas di ranah publik untuk mencari pendapatan. Jika peranan ini tidak terbagi seperti pada umumnya, istilah yang dilekatkan pada suami dan istri pun ikut diubah, “bapak rumah tangga” dan “ibu yang bekerja”. Kemudian kita harus ramai-ramai melakukan pembelaan pada sang bapak, bahwa dia tidak lantas dilucuti dari harga diri dan maskulinitasnya karena mengurus rumah tangga. Juga harus melakukan pembelaan pada sang ibu, that she’s not a bitch. Istilah keluarga, sementara itu, lebih netral. Tidak ada istilah “ibu keluarga” atau “bapak keluarga” yang mengasosiasikan masing-masing pihak dengan peranan spesifik. Oleh karenanya, keluarga menjadi arena yang strategis untuk melakukan dekolonisasi gender.

Mengutip Manneke Budiman dalam tulisannya di Jurnal Perempuan 76, Maret 2013:

“…Keluarga tidak lagi dipersepsikan sebagai sebuah unit sosial-ekonomi, melainkan sebagai benteng terakhir yang memberikan perlindungan kepada individu-individu yang menyatukan diri di dalamnya dari dikotomi-dikotomi dan pemaksaan peran-peran sosial oleh norma dominan yang ada di luar rumah, yakni dalam masyarakat.”

Atas dasar itu, kita berkesempatan untuk membentuk makna keluarga  kita sendiri, yang terbebas dari konstruksi rumah tangga yang dipaksakan oleh masyarakat. Langkah pertamanya adalah dengan mengubah paradigma tentang peranan tradisional  yang melekat pada status suami dan istri. Hardya dan saya sama-sama punya tanggungjawab untuk memprioritaskan keluarga, mengelola keuangan, menjaga agar rumah tetap rapi dan bersih, merawat yang lelah dan sakit, dan nantinya sama-sama bertanggungjawab atas tumbuh-kembang anak.

Saya juga ingin melihat keluarga dan pernikahan saya sebagai teamwork yang relax, dimana setiap orang saling mengobati, menolong dan saling mendukung, sambil tetap menjadi dirinya sendiri yang berhak untuk mengaktualisasikan diri, mengejar mimpi dan punya determinasi.

3R
Writing our shared value on couple t-shirt 😀
Advertisements

3 thoughts on “Pernikahan Hari Ke-120

  1. I could not agree more 🙂 Aku juga paling sebel dengan pendapat orang lain yang suka menghakimi urusan – urusan personal. Aku harap kamu berbahagia dengan keluarga kecilmu. Salam kangen.
    – Hana AFS YES 50 –

  2. Hahahah gw geli baca yang “Baru empat bulan jadi istri, saya sudah disumpahi ditinggal suami dan mandul.”! Emang yeee sosayeti ini bisa aja bikin kita keder LOL. Jangan dengarin mereka! Your marriage is your own! You do what you think is right for you and your partner, even everyone’s negative about it 🙂

  3. Ini paling kusuka….”saling mengobati, menolong dan saling mendukung, sambil tetap menjadi dirinya sendiri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s