Ojo Gumunan (karo seks)

Seorang teman membagi link melalui facebook yang memberitakan bahwa sejumlah situs berisi informasi untuk ibu menyusui telah diblokir, sebagai imbas dari peraturan menteri Komunikasi dan Informatika tentang pemblokiran internet bermuatan negatif. Mungkin gara-gara html situs ini memuat frase breast massage. Payudara memang tampaknya sudah mengalami proses peyorasi di negara ini. Kata atau bagian tubuh ini membuat orang terobsesi, mengingini, lalu melakukan tindak perlindungan diri dengan cara mengutuki. Seperti berita jilboobs yang belum lama ini membayangi timeline facebook saya. Padahal sebenarnya ‘fenomena’ ini juga tidak baru-baru amat. Sejak saya masih mengenakan jilbab mulai tahun 2005, orang-orang juga sudah memakai jilbab dengan cara yang sama. Waktu itu, tidak ada yang mencemooh mereka. Namun sekarang, gaya berpakaian ini mendadak jadi serius. Ada yang menanggapinya dengan cara agamis (“cara berpakaian seperti ini menghina Islam dan perempuan, bla bla bla”), banyak pula yang melihatnya dengan cara seksual. Bagi saya sendiri, bukan para pengguna jilbab itu yang menghina perempuan, namun mereka yang menulis artikel dan menyebarkan artikel itulah yang melakukan pelecehan. Foto orang-orang itu disensor mukanya, sehingga hanya bagian dada yang tersisa untuk dilihat. Identitas mereka tidak penting, mereka hanyalah sekelompok makhluk hidup berpayudara. Saya tidak terkejut, tubuh wanita toh sudah dijadikan objek selama berabad-abad lamanya. Artikel yang beredar di media sosial ini hanya salahsatu di antaranya. Bentuk objektifikasi kampungan.

Mengapa payudara wanita, atau seksualitas secara umum menjadi hal yang begitu menghebohkan, namun tercela? Sehingga televisi tidak hanya melakukan sensor pada belahan dada, namun juga pada patung-patung telanjang ala Renaissance (dalam film-film yang kebetulan berlatarbelakang Eropa)? Apakah mudah-terangsang memang menjadi bagian dalam diri kita yang tidak akan terpisahkan? Apakah memang tubuh wanita sengaja diciptakan untuk merangsang? Sesederhana itukah? Lalu mengapa tidak ada pelecehan seksual di Vermont? Di mana tidak ada larangan untuk tampil telanjang di tempat umum?

Beberapa kawan saya pun ikut mengomentari artikel tentang jilboobs dengan nada seksual, saya muak. Saya pikir mereka cukup pintar, ternyata segitu aja. Sebenarnya tubuh perempuan itu biasa-biasa saja. Tubuh perempuan tidak memiliki sifat / berkodrat merangsang, konstruksi sosial lah yang membuatnya demikian. Seperti kata Foucault, pandangan kita tentang seksualitas dibentuk oleh relasi kuasa. Kita meyakini bahwa seksualitas sudah melekat pada diri kita sejak lahir, bahwa lekuk payudara adalah suatu hal yang secara otomatis akan membuat pria terangsang. Dengan kata lain, kekuasaan tersebut berhasil membuat orang percaya bahwa tubuh wanita inheren dengan objek seks, sehingga tubuh ini harus disembunyikan. Sebagai konsekuensi, jika kita pulang malam dan tidak memakai pakaian tertutup, maka kita pantas dilecehkan, we’re asking for it, salah sendiri tidak menutup diri sehingga membuat pria ingin menikmati kita. Ada pula yang membuat analogi antara perempuan dengan lollipop. Orang yang membuat komparasi tersebut sudah pasti tidak pernah belajar prinsip perbandingan dalam riset, karena dia berasumsi bahwa wanita dan permen adalah sampling yang sah untuk dibandingkan. Kodrat manusia, baik wanita maupun pria, bukanlah untuk dilecehkan atau melecehkan. Kodrat manusia adalah berjuang.

download
’cause I’m obviously similar to a dirty lollipop

Terkait kehebohan yang ditunjukkan orang-orang pada payudara dan isu seks, Foucault pun memiliki penjelasan yang sederhana, “We only desire something we can’t have.” Penjelasan ini membuat saya merasa kasihan dengan mereka yang gampang terpana dengan foto payudara, mereka adalah orang-orang yang sangat menginginkan seks namun tidak bisa mendapatkannya. Aww.. L  Get married, guys. Or get laid. Orang-orang juga mungkin masih takjub dan terheran-heran dengan isu seks. Karena selama ini seks ditempatkan di ruang tabu, yang tidak boleh dibicarakan secara terbuka. Seks hanya disebutkan melalui satu kalimat pada saat penyuluhan HIV/AIDS (“Hindari seks bebas!”, tanpa mengetahui definisi “seks bebas” yang sebenarnya, tanpa mendapat klarifikasi bahwa berhubungan seks dengan pasangan sah secara hukum dan agama yang terkena AIDS pun bisa menyebabkan kita terjangkit virus tersebut). Kita menghindari pembicaraan tentang seks karena kita begitu peduli pada moralitas. Kita ingin mencetak orang-orang yang bermoral dengan cara menyembunyikan seks dari pembicaraan kosntruktif, membuat seks jadi hal asing yang mengagetkan.    

Pepatah Jawa Ojo dadi wong gumunan mungkin juga bisa kita terapkan pada seks. Kita lahir dari proses seksual, kita memiliki ketertarikan pada seksualitas dan kita akan melakukan hubungan seks. Kita pernah meminum susu dari payudara ibu, payudara adalah bagian dari tubuh yang melekat pada tubuh wanita (juga pria). Hal lain yang tidak kalah penting, kita harus belajar menghormati orang lain dan keputusan yang mereka ambil atas tubuh mereka. Tidak seorangpun yang boleh dinegasikan hak-nya atas tubuh mereka sendiri. Ditindik atau tidak ditindik, berambut panjang atau pendek, berjilbab atau tidak, semua manusia pantas dan harus mendapatkan penghargaan.    

Jakarta, 14 Agustus 2014

Advertisements

11 thoughts on “Ojo Gumunan (karo seks)

  1. bagus sekali artikelnya, mungkin beberapa tahun kedepan perlu adanya pendidikan seks, atau bahkan mungkin pendidikan cinta dan kasih. Mungkin adanya pengenalan sejak dini, bisa menjadikan kita “tidak gumunan”

    1. Setuju sekali.. Lebih baik memberikan pendidikan seks yang benar pada generasi muda, daripada membiarkan mereka belajar/berasumsi lewat budaya populer. Pendidikan yang baik pasti bisa membawa manfaat pada kesehatan, kedewasaan berpikir bahkan moralitas. Terimakasih atas apresiasinya, Bundaily. Semoga selalu memberi tips-tips bermanfaat bagi wanita dan ibu hamil!

    1. ya kalo kita percaya bahwa tubuh kita ini adalah milik kita sendiri ya terserah aj kita mo melakukakan ap aj terhadap tubuh kita, krn tubuh kita adalah wilayah kekuasaan kita. tapi kalo kita percaya tubuh kita ini milik tuhan, dan kita hanya dititipi, maka kita musti mempelajari kitab2 suci/ajaran agama kita untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan terhadap tubuh kita ini, sesuai dengan kehendak pemilik tubuh kita ini…..

      1. Dan sudut pandang untuk melihat tubuh kita itu–apakah milik sendiri atau titipan Tuhan, apakah mandiri atau harus mengikuti kitab suci–adalah kemerdekaan tiap-tiap orang, tanpa boleh saling memaksakan.

  2. Bagus. Itu aja cukup untuk menggambarkan tulisanmu. “Saya tidak terkejut, tubuh wanita toh sudah dijadikan objek selama berabad-abad lamanya.” Nah kalo poin ini menurutku malah yang udah dijadikan objek itu bukan hanya tubuh wanita sih. Tapi wanita secara keseluruhan. Bukan hanya tubuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s