Kita Pembajak Agama

Ikut pengajian bukan merupakan salah satu kegiatan favorit saya. Jika boleh membela diri, saya tidak suka ditakut-takuti dengan api neraka, atau dilarang melakukan ini-itu karena semuanya dosa. Hidup dalam ketakutan tidak membuat saya nyaman. Saya ingin hidup senang dan tenang. Saya juga tidak hobi ke pengajian, karena isinya yang repetitive. Minggu lalu saja, ustadzah di masjid samping rumah menyampaikan kultum tentang orang-orang yang berhak menerima zakat. Tema yang sudah jadi bahan pelajaran dan bahan ujian agama Islam sejak saya duduk di bangku SD-SMP-SMA, seolah-olah perihal agama hanya berada seputar ibadah, surga dan neraka. Itu saja. Sesempit itukah? Sinisme terhadap ajaran agama semakin lengkap dengan perilaku para pemeluknya yang hobi “bermain Tuhan.” Macam teman saya yang baru-baru ini menjadi korban politisasi agama, lantas mengata-ngatai Quraish Shihab sebagai sesat. Semakin didesak, semakin ketahuan betapa ia tidak memiliki dasar yang cukup. Ia adalah korban provokasi, yang kemudian menjadi provokator. Saya lelah melihat bagaimana pemeluk agama mempergunakan agama atau keyakinan mereka menjadi sesuatu yang tidak produktif, bahkan cenderung destruktif.

Namun sore itu, saya terduduk tegak mendengarkan kultum dari Ibu Athiyatul Ulya di acara buka bersama jejaring perempuan. Tema yang dia angkat adalah bagaimana perspektif Islam dapat merekatkan dan memperkuat gerakan perempuan (ketika pembawa acara menyebutkan tema ini, saya bergairah namun bertanya-tanya dengan rasa tidak yakin, “Hah? Islam bisa disambungkan dengan hal begituan?”). Ia bercerita bahwa pada suatu hari di jaman Nabi, para wanita mengadakan pertemuan. Mereka menceritakan kekerasan yang mereka terima dari suami-suaminya. Salah seorang wanita dalam pertemuan ini pun memutuskan untuk mewakili teman-temannya, mengunjungi Rasulullah dan menceritakan isi pertemuan yang mereka selenggarakan. Esoknya, seperti diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda di depan umatnya, “…para suami yang memukul istrinya bukanlah termasuk orang-orang baik di antara kamu.”

Perwakilan perempuan pernah pula mendatangi Rasulullah untuk menyampaikan hal lain, kali ini pasca peristiwa hijrah, “Rasulullah, saya tidak mendengar Allah menyebutkan perempuan sedikitpun dalam hal yang berkaitan dengan hijrah!” Setelah peristiwa tersebut, segera turun ayat 195 surat Ali-Imran yang artinya,  ” Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.’”

Ada beberapa moral cerita yang disampaikan Ibu Athifatul Ulya, salahsatu yang melekat dalam ingatan saya adalah bahwa perempuan memang harus bersatu dan memperjuangkan nasib mereka sendiri. Konstruksi kebudayaan yang selama ini ada seringkali melupakan atau mengabaikan kepentingan perempuan. Sengaja ataupun tidak disengaja, kita harus bersatu padu untuk mengubahnya.

Sang Ustadzah selesai bicara dan sayapun tertegun menyadari bahwa saya baru saja mendengarkan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadist tanpa sedikitpun berkeinginan untuk menarik diri. Sebaliknya, saya baru saja mendapat inspirasi. Dan bukankah begitu semestinya agama atau keyakinan kita bekerja? Menginspirasi. Memotivasi, alih-alih menjadikan kita pembenci.

Islam sendiri tumbuh sejak lebih dari seribu tahun yang lalu. Hingga Muhammad meninggal pada tahun 632, banyak wahyu yang turun, banyak gagasan yang muncul, banyak interaksi yang ia lakukan, banyak ajaran yang ia contohkan, banyak hal baru yang ia pelajari. Dari rentang waktu dan peristiwa tersebut, benarkah ia hanya mengajari kita tentang aqidah dan tata cara ibadah? Bukankah ia juga menunjukkan pada umatnya perihal kasih sayang? Bukankah ia, yang kabarnya begitu dicintai oleh Tuhan itu, tidak pernah menggunakan posisinya untuk meneriaki orang lain dengan kata sesat atau kafir?

Sayangnya, saya, beberapa ustadz sebelah rumah dan teman-teman saya memilih untuk membajak agama ini. Kami membuatnya tampak seperti keyakinan kaku dan sempit, yang tidak mengijinkan manusia berbuat banyak hal, alih-alih mendorongnya untuk mencurigai dan menghakimi sesama. Teman saya bahkan berkata bahwa ia tidak bisa memperdebatkan Islam dengan menggunakan “teori2 demokrasi, perdamaian, ham, dll.” Ia, secara tidak langsung (atau langsung?) mengklaim bahwa Islam bukanlah agama yang damai dan humanis.

Jika kita berpikir bahwa agama harus dipisahkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, perdamaian dan HAM, maka jangan-jangan kita sedang menyepelekan agama itu sendiri. Karena agama yang sudah tumbuh sejak lebih dari seribu tahun yang lalu itu, punya banyak inspirasi yang bisa ditawarkan pada kita. Surprise surprise!

 

Jakarta, 17 Juli 2014

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Kita Pembajak Agama

  1. Islam itu komplit klo Menurutku. Banyak cakupannya walau terkadang, Tema bahasannya berkisar itu2 saja. Beberapa memberi alasan, ” tak ada Kata bosan dalam mengulang2 agama”, Sebagian lagi “Selama hal2 yg sering kita dengan itu Blom sempat kita aplikasikan secara baik, gak ada salahnya mengulang2”. Pernah denger kutipan seorang ulama besar d sby (saat Sy Masih kuliah dsana). “banyak para penyampai agama sering membedakan Antara Urusan dunia Dan akhirat. Urusan dunia berkutit pd hal2 yg “dianggap ” Tdk memiliki “nilai pahala” sedangkan Urusan akhirat adalah sebaliknya. Padahal salah Satu fungsi dtunjuk nya Muhammad sbg model manusia (yg telah banyak mengalami problematika hidup) adalah agar manusia2 lemah spt kita dpt menjadikan Beliau sbg “sudut pandang” (melihat semua hal dr kacamata muhammad) dlm pelbagai persoalan. Shg mematahkan partisi Urusan dunia -akhirat tadi. Terkadang, terlalu cepat berkesimpulan thd sesuatu hanya dg Pengetahuan yg parsial, adalah sebuah kebodohan. 😀
    Agama itu hidayah Dan hidayah itu harus diraih…

    1. Wah iya, bagus ini. Muhammad, beserta wali / nabi / rasul lainnya, diutus sebagai penyampai pesan bukan hanya karena mereka bisa bicara, tapi juga untuk menginterpretasikan wahyu dengan sudut pandang manusia. Terimakasih atas komentar dan masukannya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s