Batari Durga: yang Dihukum, yang Dipuja

Seorang kawan berkata bahwa kesan pertamanya terhadap saya adalah mengerikan dan tidak bersahabat. Iapun mengidentifikasi saya sebagai Batari Durga. Beberapa lama kemudian ia mengirim foto patung Durga Mahisasuramardini, dengan keterangan pose menjambak anak kecil itu mirip kamu. Meski akan lebih bangga jika dilihat sebagai Saraswati, saya mengambil kesempatan untuk mengenal Durga lebih dekat.

Menurut bahasa Sansekerta, Durga (dur + gam) berarti benteng (Kumar: 1974, dari The Goddess Durga in the East-Javanese Period oleh Hariani Santiko) yang bisa juga diterjemahkan sebagai tidak tersentuh atau terisolasi. Sementara itu Ensiklopedi Wayang Purwa I mengartikan gelar Durga sebagai kecewa / jelek / tidak menyenangkan. Ia adalah jelmaan dari Dewi Uma (Parwati) yang cantik jelita. Mengenai bagaimana Durga berubah wujud dari wanita cantik menjadi raksasi, ada beberapa versi cerita. Versi pertama, ia dikutuk oleh suaminya, Batara Guru, karena menolak bercinta di atas lembu Nandi. Versi kedua, ia dikutuk suaminya karena ketahuan selingkuh dengan seorang pemerah sapi (padahal pemerah sapi itu sebenarnya merupakan jelmaan dari Dewa Siwa sendiri yang tengah menguji kesetiaan Dewi Uma. Dewi Uma memutuskan untuk tidur dengan sang pemerah sapi demi mendapatkan susu sapi yang sangat dibutuhkan oleh suaminya). Semenjak kutukan itu, Dewi Durga berubah tampilan menjadi mengerikan dengan mata dan hidung besar serta bertaring. Ia hidup terisolasi di Setra Gandamayu, kuburan paling mengerikan di seantero bumi.

Durga memang kecewa. Kekecewaannya disebabkan karena kesetiaan dan dedikasinya yang sangat besar kepada Siwa diacuhkan. Siwa masih merasa perlu mengetesnya dengan berbagai cara, hingga akhirnya ujian itu menjerumuskan dirinya, dan ia harus mendapat hukuman. Hukuman, seperti kata Foucault, memang bukan hanya perkara yudisial, tapi lebih dari itu, adalah ritual politik. Karena itulah hukuman yang diberikan terhadap Uma bersifat fisik, ia diubah menjadi Durga yang berpenampilan mengerikan. Harapannya, orang lain akan melihat Durga sebagai tokoh yang berperilaku menyimpang, dan karena itu menghindari perbuatan yang sama (tentu banyak yang beranggapan bahwa peristiwa ini bermuatan patriarki. Mungkin saja). Bagaimanapun, menurut Foucault juga, hukuman memang akan membuat tubuh menjadi pesakitan, namun jiwa yang ada di dalamnya dapat memberikan kemungkinan lain. Hukuman yang diterima Durga tidak membuatnya mengaku salah. Alih-alih, ia menunjukkan resistensi. Malah dalam beberapa versi, ia dikisahkan balik mengutuk Batara Guru yang ia anggap memperlakukannya secara tidak pantas. Yang pasti, resistensi ini membuatnya bertransformasi dari dewi lembut yang tidak berdaya, menjadi penguasa Setra Gandamayu. Bersama para pengikutnya yang berwujud raksasa dan dedemit, ia menunjukkan kekuasaan serta kekuatannya. Dikisahkan, sebelum Perang Bharatayudha dimulai, Dewi Kunti meminta Arjuna untuk terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Durga agar bisa mengalahkan Kurawa. Kisah ini rupanya menginspirasi Raja Airlangga yang dikenal menjadi raja yang sangat memuja Durga untuk bisa memenangkan perang melawan musuh-musuhnya.

Chamundi di Museum Trowulan. Photo taken by Ahlul Amri Buana

Selain Airlangga, Kertanegara juga dikabarkan memberi perintah pada keluarga kerajaan untuk melakukan pemujaan terhadap Chamundi demi melanggengkan posisinya di tampuk kepemimpinan. Chamundi adalah bentuk persatuan sakti (kekuatan) dari para dewa yang bertransformasi menjadi pasangan wanita mereka. Termasuk di dalamnya adalah Kali (Durga) yang merupakan sakti dari Dewa Siwa. Chamundi, karenanya, dikenal sebagai bentuk terkuat dari Batari Durga. Pemujaan Chamundi diidentikkan dengan ritual Tantrayana yang memang dipraktekkan oleh Kertanegara setelah ia mendengar bahwa Kubilai Khan menganut aliran tersebut yang membuatnya selalu memenangkan perang (akhirnya Kertanegara justru terbunuh dan Singasari runtuh akibat Kediri yang menyerang di saat Kertanegara dan keluarga kerajaan tengah melakukan ritual seks Tantrayana).

Di sisi lain, Durga juga digambarkan sebagai dewi penyebar penyakit dan kematian. Hal ini dikisahkan dalam lakon Calon Arang, seorang penyihir yang murka karena anaknya yang cantik, Ratna Manggali, tak kunjung menerima lamaran. Alhasil Calon Arang mengadakan ritual pemujaan pada Durga dan memintanya menyebarkan penyakit mematikan di seluruh desa. Sementara itu, masyarakat di beberapa wilayah di India melihat Durga sebagai dewi pelindung, bahkan dewi yang memberi kesuburan pada sayuran! Meski sebagian dari mereka juga memuja Durga karena takut akan kutukan penyakit mematikannya ketika sang dewi merasa tidak puas.

Meski begitu, lakon Durga yang paling terkenal tetaplah kisah heroiknya yang berhasil mengalahkan Mahisasura, raja raksasa berbentuk banteng besar yang telah lama mengganggu kehidupan para dewa. Tokoh anak kecil dalam patung Durga Mahisasuramardini yang dikirim oleh kawan saya itu sebenarnya adalah sosok asura, raksasa dalam bentuk manusia, hanya saja ukuran tubuhnya memang masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan Durga. Jadi, kalau saya adalah Durga, saya sebenarnya menjambak rambut raksasa.

Durga Mahisasuramardhini. Photo taken by adrian
Durga Mahisasuramardhini. Photo taken by adrian

 

Durga adalah dewi yang terhukum karena kesetiaannya.Karakternya memang berubah bersamaan dengan wujud fisiknya (entah kenapa tidak seperti Anoman yang, justru karena menyadari wujudnya yang seperti kera, atau memang kera, berusaha untuk selalu berbuat baik dan bersifat kesatria untuk membuktikan jiwanya yang sama baik, bahkan lebih baik, dari manusia biasa). Namun sebenarnya, seperti tokoh epos Mahabharata lain, Durga tidak hitam atau putih. Ia garang, tapi ia juga pelindung. Ia korban, tapi ia juga bertahan.

Yogyakarta, 15 Mei 2013

 

Advertisements

6 thoughts on “Batari Durga: yang Dihukum, yang Dipuja

  1. Parwati
    Parwati ( Sanskerta : पार्वती; Pārvatī )
    adalah salah satu dewi dalam agama
    Hindu. Menurut mitologi Hindu, Parwati
    merupakan puteri dari raja gunung dari
    Himalaya bernama Himawan , dan
    seorang apsari bernama Mena . Parwati
    dianggap sebagai pasangan kedua dari
    Siwa , Dewa pelebur dan penghancur
    dalam agama Hindu.Dalam perjalanan
    menuju Dewa Siwa , Parvati seringkali
    mendapat kesulitan.Namun , Parvati
    selalu tertolong oleh para Dewa. Parvati
    mempunyai 2 putra , yang menjadi dewa
    besar di Agama Hindu , yaitu Ganesha
    dan Agni .Namun , beberapa meyakini ,
    bahwa Agni bukan anak Parvati ,
    melainkan Kartikeya lah anak dari
    Parwati.Dewi Parwati sering disamakan
    dengan istri Siwa yang lain , yaitu Durga
    , Uma , Adi Shakti , Sati , dan Dewi Kali
    Beberapa aliran meyakini parwati
    sebagai adik dari Wisnu dan adik dari
    Gangga banyak pengikut aliran filsafat
    Shakta meyakininya sebagai dewi yang
    utama. Dalam susastra Hindu, Parwati
    juga dihormati sebagai perwujudan dari
    Sakti atau Durga .
    Dalam bahasa Sanskerta, kata Pārvatī
    berarti “mata air pegunungan”. Parwati
    juga dikenal dengan berbagai nama,
    antara lain: Umā, Gaurī, Iswarī, Durgā,
    Ambikā, Girijā, dan lain lain.
    Dalam beberapa foto , Dewi Parwati
    sering digambarkan memegang Bunga
    Teratai dan Koin Emas.Dalam beberapa
    foto yang lain , Dewi Parwati juga sering
    digambarkan memegang Kapak kecil dan
    ditemani 2 gajah , dan duduk bersama
    Siwa dan Ganesha.Parvati juga
    merupakan perwujudan dari Durga , yang
    bersenjatakan Trisula , Cakra , dan
    Sangkakala , serta menaiki wahana Singa
    atau Macan
    Lihat pula
    Siwa
    Ganesha
    Kartikeya
    Artikel bertopik agama Hindu ini
    adalah sebuah rintisan . Anda
    dapat membantu Wikipedia
    dengan mengembangkannya

  2. Haiiii… paramesti
    Salam kenal. Sukaaa sama blognya.
    Tulisannya soal durga bkn saya mikir. Secara ada org mempersonifikasi sy dengan perumpamaan yg sama.

  3. Swastiastu
    Maaf sebelumnya saya rasa ada yg salah dalam arti pengertian tentang dewi durga,
    Dewi durga adalah dewi maha sati,
    Tergambar di tautan di atas dewi durga hanya sebagai dewi yg menyebarkan keburukan
    Sebenarnya beliau bukan lah seperty itu
    Beliau menurunkan ilmu kepada pengikutnya ya itu dalam titik 0,
    Dan kembali lagi jika di bawa ke jalur yg negatif maka akan berdampak negatif dan keangkara murkaan lah yg datang
    Pi jika di bawa ke jalur positif maka niscaya keindaahn lah yg datang
    Semuanya kembali pada jalur masing2 tingkah laku manusia itu sendiri
    Jika di banding2kan dengan pemujaan arjuna, prabu erlangga,bahkan sampai kisah calonarang, mereka semua bukanlah durga pi mereka semuanya adalah pemuja durga
    Pi masing2 ketika arjuna memuja durga ia mengiinkan kemenangan pandawa melawan kurawa yg artinya kebenaran melawan kejahatan, dan ketika di kisah calonarang sama ia jg memuja durga pi dalam jalur pembelaan diri sendiri untuk membuat penyakit,
    Posisi beliau adalah sama dibawa kejalur yg mana saja bisa tergantung dari yg menyembahnya atau yg menganut aliaranya
    Dan pada hakikatnya kita pun seperty itu, kembali lagi kepada diri kita masing2, mau di bawa kemana ilmu yg kita gunakan, bukan karna ia tidur dg pemerah sapi hingga ia dikutuk,
    Itu presepsi terlalu berlebihan
    Dan bagi pembaca percaya atau tidaknya anggp ini sebagai 1 pelajaran
    Karna pesan durga ia dapat memberikan ilmu sebesar apapun pi semuanya di kembalikan pada diri kita masing2, tergantung jalur mana yg kita pilih dan siap menerima karma dari hasil perbuatan yg kita lakukan
    Om santy,santy,santy om

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s