Dalam Kenangan Chavez

Suatu hari di tahun 2006, saya terkesima membaca berita di surat kabar tentang seorang presiden bernama Evo Morales. Ia adalah presiden Bolivia—rupanya presiden pertama yang merupakan penduduk asli—yang di hari tersebut, bersamaan dengan Hari Buruh sedunia, menasionalisasi seluruh perusahaan minyak dan sumber daya alam di negaranya. Perusahaan asing masih diperbolehkan berpartner dengan Bolivia, dengan syarat bahwa mereka tidak boleh menguasai lebih dari 18 persen royalti perusahaan. Saya ingat bahwa saya begitu kagum, dan cemburu. Menurut data yang diutarakan Ricklefs lewat bukunya, sejak tahun 1920 sudah ada sekitar limapuluh perusahaan asing yang ada di Indonesia untuk mengeksplorasi kandungan minyak bumi yang ada di sepanjang Aceh hingga pesisir timur Kalimantan. Bahkan perusahaan Shell yang terkenal itu sengaja didirikan untuk membiayai pengeboran di Kalimantan Timur. Pada tahun 1930, ia memproduksi sekitar 85 persen dari keseluruhan produksi minyak bumi Indonesia (Ricklefs: 2005). Royal Dutch Shell masih bertahan hingga kini, omzetnya hanya 0.8 juta dollar lebih rendah dibandingkan pendapatan Turki, dan jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan perkapita Portugal dan Hongkong, dan entah berapa milyar lebih kaya dibandingkan Indonesia.

ImageEvo Morales, presiden yang membuat saya terkagum-kagum ini, mendapatkan inspirasinya dari presiden lain, namanya Hugo Chavez. Chavez menjadi Presiden Venezuela selama limabelas tahun dan ia menginspirasi Morales untuk menasionalisasi perusahaan sumber daya alam di negaranya.

Chavez bukan orang favorit Amerika Serikat dan Eropa. Chavez juga bukan fans berat keduanya. AS dan Eropa mungkin menjadi kiblat bagi kebanyakan masyarakat. Kita semua ingin pergi ke AS dan keliling Eropa. Kita menghargai demokrasi dan menyukai ide-ide kebebasan individu. AS kita pandang sebagai bangsa demokratis yang dewasa, dan kita sudah melupakan penjajahan berabad-abad yang dilakukan oleh bangsa Eropa di seluruh dunia, mereka kini jadi ikon keadilan. Tapi di saat yang bersamaan, AS dan Eropa juga menjadi ikon kapitalisme, dan di sinilah citra itu berubah. Kebebasan itu menjadi penjajahan, keadilan itu berubah menjadi ketidakadilan.

Pasca nasionalisasi perusahaan, setidaknya perusahaan tidak semata berorientasi kepada profit. Karena ia adalah milik negara maka prioritasnya adalah memenuhi kepentingan rakyat. Manfaat dari perusahaan tidak hanya didapatkan oleh segelintir orang, melainkan lebih banyak orang. Namun hal yang lebih penting lagi dari nasionalisasi perusahaan adalah munculnya kebangaan dan harga diri. Indonesia dan negara-negara Amerika Latin mengikuti strata yang diterapkan tatanan internasional, dan di situ mereka ditempatkan sebagai negara dunia ketiga; tingkat literasi rendah, demokrasi yang belum dewasa, merebaknya penyakit menular, dan fakta-fakta lain yang menunjukkan impotensi negara. Hal ini dipertegas dengan ketidakmampuan kita dalam mengurus sumber daya alam sehingga harus diserahkan di tangan asing. Ketidakberdayaan itu membuat kita membiarkan perusahaan-perusahaan kaya melenggang masuk dan pergi membawa kekayaan, tidak meninggalkan apapun kecuali tanah yang rusak pasca pengeboran minyak.

Chavez mengubah ketidakberdayaan itu. Ia mengangkat posisi tawar negaranya, dan menanamkan kepercayaan diri pada bangsanya untuk mengontrol sumber daya alamnya sendiri. Kepergiannya menyesakkan hati dan memunculkan kegelisahan tentang apa yang akan terjadi kemudian. Chavez tentu pergi sebagai sejarah. Itu artinya, sosoknya akan dikenang, namun perjuangannya belum tentu mampu dilestarikan.

Saya menghibur diri dengan masih adanya Morales dan Ahmadinejad. Orang bilang Ahmadinejad gila. Tapi memang perlu kegilaan untuk bisa menantang strata tertinggi dalam tatanan internasional. Lagipula dalam keadaan seperti apapun, kita selalu butuh ikon perlawanan. Terutama saat kekayaan negara Anda sudah dikuasai oleh tangan-tangan asing sejak tahun 1920, dan belum berubah hingga sekarang. Chavez. Semoga sosokmu akan selalu dikenang dan api perjuanganmu terus berkobar.

Image

Yogyakarta, 12 Maret 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s