Bingungnya Afrika

Ini semua gara-gara David Lamb yang lucu. Sungguh saya tidak bermaksud menertawakan nasib ribuan orang Afrika yang sakit dan kelaparan, sementara Jean-Bedel Bokassa dari Republik Afrika Tengah bangun di pagi hari, kemudian memutuskan untuk mengubah negaranya menjadi kerajaan setelah terinspirasi Napoleon Bonaparte. Atau menertawakan ribuan orang Uganda yang dibuat menderita lalu mati oleh Idi Amin, yang menyatakan dirinya bergelar Doctor of Philosophy dari Universitas Makarere. Saya tertawa saat membaca The Africans, karena gaya menulis Lamb yang dinamis dan humoris. Meski bisa jadi tawa itu juga muncul karena kisah-kisah yang didapatkan oleh Lamb melalui empat tahun pengembaraan di Afrika itu memang lucu. Lucu, karena tidak masuk akal.

Semester ini saya mengambil kelas Politik dan Pemerintahan Afrika, dan setiap minggunya saya hanya merasa dijejali dengan cerita-cerita aneh, yang semakin menunjukkan betapa anomalinya benua Afrika; kudeta bukan peristiwa yang luar biasa, pemimpin korup menggantikan koruptor lainnya, kemiskinan merajalela, HIV/AIDS menjadi penyakit umum, perang saudara dan genosidapun merupakan bagian dari sejarah. Keadaan-keadaan ini tidak cukup membuat rakyat Afrika bersatu untuk menuntut atau membuat gerakan perubahan. Ketika ditanya apa alasannya, kelompok-kelompok yang melakukan presentasi biasanya menjawab, “Karena masyarakat Afrika tidak memiliki kesadaran sebagai sebuah bangsa, mereka masih sangat terikat pada kesukuannya.” Karenanya, bagi mereka, memiliki masalah yang sama dengan suku lain tidak menjadikan masalah tersebut sebagai masalah bersama, yang harus dihadapi secara bersama-sama pula. Menurut saya ini masalah yang sangat mendasar: masyarakat Afrika tidak bisa mengubah nasib negaranya, simply karena mereka tidak memiliki ikatan dengan obyek yang hendak diubah itu. Ironisnya, ketidakmampuan orang Afrika untuk mengubah nasibnya sendiri ini mengakibatkan orang-orang asing datang untuk mencoba mengubahkan nasib mereka. Kata mereka, orang-orang asing ini, “Afrika butuh demokrasi.”

Demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan di mana orang-orang yang menempati posisi pemerintahan bertanggungjawab untuk membuat keputusan yang mengakomodasi kepentingan rakyatnya. Supaya kepentingan rakyat ini bisa diketahui dengan jelas, pemerintah berkewajiban untuk menciptakan lingkungan yang membebaskan masyarakat untuk bisa menyatakan pikiran dan keinginannya. Pola ini terdengar sederhana, akan tetapi tidak semudah itu di Afrika. Bahkan jika pemerintah mengakomodasi kepentingan rakyatnya, ia hanya akan mengakomodasi rakyat yang bersuku sama. Selebihnya akan cukup beruntung untuk diperbolehkan hidup. Karenanya, asumsi bahwa “Afrika membutuhkan demokrasi” menjadi asumsi yang melompat terlalu jauh. Pendapat ini tiba-tiba muncul sebelum pertanyaan “apakah demokrasi bisa diterapkan?”, bahkan “apakah Afrika bisa menjalankan pola negara-bangsa seperti tempat-tempat lain di dunia?”

africa_africa_457075

Jauh sebelum orang Eropa datang untuk membagi-bagi tanah Afrika seperti roti, Afrika adalah tempat bagi kerajaan-kerajaan. Masyarakat Afrika tidak terikat secara wilayah, kebanyakan dari mereka tergabung dalam suku-suku nomaden yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Saya membayangkan cara hidup yang fluid dan laid back. Saya tidak bisa membayangkan keterkejutan mereka ketika mendadak dihadapkan pada konsep negara-bangsa. Tiba-tiba, suku-suku nomaden ini tidak bisa pergi ke semua tempat yang mereka inginkan begitu saja. Mereka dikelilingi oleh batas negara. Mungkin kata mereka, “Apa itu negara?”

Berdirinya negara di tanah Afrika juga menyebabkan tercerai-berainya suku. Salah satu akibatnya adalah kemunculan gerakan iredentisme, alias upaya mengakuisisi sebuah wilayah di bawah bendera suku tertentu. Dari sini darah mengalir, dan lebih banyak lagi darah yang mengalir karena negara menjadi tempat bagi orang-orang untuk berebut kekuasaan dengan cara saling menyingkirkan.

Bagaimanapun, percakapan saya dan seorang kawan di hari itu berhenti di sini. Berhenti pada keluhan akibat terbentuknya negara-bangsa di Afrika. Kami hampir saja merasa jenius dengan menemukan sebuah alternatif bagi Afrika, “Mungkin kita harus menghapus negara-negara di Afrika!”, sebelum akhirnya kami sadar bahwa ide itu amat kekanak-kanakan dan mustahil. Dunia kita sudah berjalan di atas konsep yang kokoh ini, di mana setiap jengkal tanah dan setetes air adalah bagian dari sebuah negara, bukan entitas lainnya. Afrika tanpa negara mungkin menjadi Afrika yang semakin terisolasi.

Akhirnya saya melanjutkan membaca buku David Lamb tanpa mencoba mencari jalan keluar. Saya hanya mengikuti petualangannya, kadang-kadang tertawa, terkesiap karena ketidak-percayaan. Terbersit keingintahuan apakah The Africans tahu bahwa peradaban manusia tertua ditemukan di benuanya. Tapi apa bedanya kalau mereka tahu?

21/12/2012, Yogyakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s