Nyadran

Pak Lurah bilang, sebaiknya kami datang ke acara nyadran di masjid, dengan demikian kami dapat berkenalan dengan penduduk desa. Ini acara yang diadakan sekali saja dalam satu tahun setiap menjelang bulan Ramadhan. Idenya adalah untuk mendoakan orangtua dan leluhur yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kita. Ini menunjukkan seberapa kuat ikatan kami, orang Indonesia, dalam cerita ini khususnya orang Jawa, dengan leluhur kami. Seperti banyak peradaban lain, spiritualitas di tempat ini dimulai dengan ancestor worship, atau pemujaan terhadap leluhur. Leluhur memiliki andil yang sangat besar dalam menciptakan kehidupan saat ini. Kematian tidak menghapus andil mereka, jiwa mereka masih ada, bahkan kekuatannya bertambah karena leluhur sudah berada di tempat yang lebih tinggi, artinya, mereka memiliki peran yang lebih besar dalam kehidupan kita yang masih hidup. Mereka bisa memberikan berkah kepada anak cucu dan keturunannya, akan tetapi juga bisa memberikan kesengsaraan apabila para keturunan ini melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma yang seharusnya. Doktrin monotheisme memberikan alternatif berupa pemujaan terhadap satu Pencipta, yang berarti bahwa leluhur tidak lagi memiliki peran yang sangat besar yang bisa mengubah nasib manusia, akan tetapi penghormatan terhadap mereka tidak serta merta luntur. Dan salah satu tradisi Muslim Jawa adalah secara khusus mendoakan orangtua serta leluhur mereka sebelum memulai bulan Ramadhan. Barangkali karena bulan Ramadhan dipercaya sebagai bulan yang suci dan penuh berkah, sehingga doa akan lebih mudah didengarkan dan dikabulkan. Selain itu, semua orang ingin memulai bulan Ramadhan dengan pikiran, hati dan diri yang bersih. Nyadran menjadi salah satu sarana untuk membangun komunikasi dengan leluhur, dengan demikian selain memohon pengampunan Tuhan bagi leluhur, mereka juga memohon pengampunan dari Tuhan dan leluhur bagi diri mereka sendiri. Nantinya kami juga punya tradisi lain bernama padusan, di mana orang-orang akan pergi ke pemandian umum, kolam renang, atau di kamar mandi pribadi mereka sendiri, untuk membersihkan fisik (lebih secara simbolis) sebelum menjalani bulan suci.

Kembali kepada soal nyadran, tradisi ini ternyata sudah dimulai sejak jaman Majapahit. Informasi tentangnya dapat ditemukan di dalam kitab Negarakartagama, di mana orang-orang pada jaman tersebut menjalankan prosesi nyradan di candi-candi yang tersedia, dengan tujuan yang kurang lebih sama. Oleh Muslim Jawa, hal inipun diadopsi. Kata nyradan diganti menjadi nyadran yang lebih nyaman di lidah, dan lokasi candi diganti menjadi masjid. Hari ini, warga desa mulai memenuhi masjid jam setengah 9 pagi. Ketika pertama kali datang, mereka menyalami satu persatu warga lain yang sudah terlebih dahulu tiba di tempat. Selanjutnya, salah seorang panitia nyadran memberikan sambutan, dilanjutkan oleh Pak Kades, dan Pak Kaum yang memberikan ceramah. Dari Pak Kaumlah kami tahu soal asal usul tradisi nyadran. Pak Kaum, dengan humoris, memberi contoh hal-hal Jawa lain yang juga diadopsi dari istilah asing. Permainan tradisional kami gobag sodor, katanya, diadopsi dari istilah go back to door.  Istilah pretengseng seperti dalam, “Ojo kakehan pretengseng!” sebenarnya berasal dari istilah Inggris pretension, yang juga bisa diartikan bertingkah. Validnya informasi ini mungkin masih bisa didiskusikan, akan tetapi semua bahasa toh memang berakar dari bahasa yang lain, jadi bukan tidak mungkin kalau yang beliau contohkan itu memang benar. Lebih dari itu, Pak Kaum menunjukkan bahwa kebudayaan yang kita miliki pada saat ini merupakan hasil campuran maupun pengaruh dari kebudayaan lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, justru proses inilah yang kemudian memperkaya sebuah  kebudayaan.

Jumoyo, 10 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s