Keluarga Richardson

Setiap ada kesempatan untuk bercerita, yang saya sebutkan pertama kali bukanlah perjalanan ke Alabama, atau Rhode Island, atau menonton Celtics di Boston, atau New York, atau bertemu Condoleeza Rice di Washington DC. Bukan tempat-tempat wisatanya yang membuat saya ingin kembali ke States, bukan juga saljunya, bukan makanannya, bukan juga gengsinya. Tapi saya selalu ingin kembali ke States untuk pulang, pulang ke rumah keluarga yang saya rindukan sampai terbawa mimpi di Vermont.

Saya tidak tahu apa yang membuat mereka mengambil keputusan untuk menerima pelajar asing di rumahnya. The Richardson bukan keluarga dengan latar belakang akademik atau berwawasan internasional. Ayah saya dulu drop out dari SMA dan sekarang bekerja sebagai tukang reparasi rumah, ibu saya lulus SMA dan bekerja sebagai Guru TK. Keempat saudara saya lebih suka nonton MTV daripada berita. Saya rasa mereka bukan mengadopsi saya dengan alasan-alasan canggih seperti mengenal kebudayaan negara dan agama lain, saya rasa mereka mengadopsi saya dengan tujuan sederhana, yaitu untuk berbagi.

Saya baru memanggil Terry dan Sharon Richardson dengan Dad and Mom setelah kurang lebih satu bulan tinggal bersama mereka. Muka saya bersemu merah ketika memanggil mereka dengan sebutan tersebut, dan sepertinya Mom juga berusaha menahan tawa. Tapi lama kelamaan kami terbiasa dan sebutan ini juga mengubah ikatan kami. Dari yang awalnya hanya orangtua asuh dengan siswa pertukaran pelajar, menjadi orangtua dan anak. Mom akan memarahi saya kalau terlalu manja, tapi dia juga akan naik ke kamar untuk mengantarkan teh dan sup serta membetulkan selimut ketika saya sakit.

Ini adalah foto keluarga saya ketika mereka berrlibur di Maine. Courtesy Amanda Richardson.

Banyak perbedaan di antara kami, itu jelas. The Richardson pada dasarnya adalah keluarga yang sporty. Empat saudara saya–Amanda, Katie, Mary dan Danny–bergabung dengan tim softball, baseball, soccer dan basketball di sekolah. Danny bahkan bisa bermain golf. Sementara saya berteriak-teriak panik, “Please don’t hit me!” saat bermain softball. Karena saya pikir aturan softball itu sama dengan main kasti jaman SD di mana kita akan dilempar keras-keras pakai bola tenis -_- . Ayah saya suka berburu, dan mereka juga selalu heboh tiap musim Superbowl, yaitu semacam liga American Football, yang sampai sekarang saya masih tidak tahu, dan mungkin tidak peduli, bagaimana aturan mainnya. Sebaliknya saya tidak pernah mendiskusikanA Brave New World-nya Aldous Huxley dengan mereka, atau berbagi cerita tentang pergerakan hak-hak kulit hitam di tahun 1960-an.

Tetapi, keluarga memang bukan selalu tentang kesamaan, atau melakukan hal-hal yang sama. Keluarga itu lebih seperti.. tempat untuk berlindung, mencari kenyamanan, keamanan dan kasih sayang. Itulah yang saya dapatkan dari The Richardson. Saya sering stres gara-gara sekolah. PRnya banyak dan kadang-kadang saya tidak dapat bergaul baik dengan teman-teman di sekolah. Beban-beban itu hilang saat pulang ke rumah. Mom dan Dad adalah pendukung terbesar saya, dan saya selalu ingin membuat mereka bangga.

Sudah lima tahun sejak saya bertemu dengan mereka, dan sejak itu pula saya sering memimpikan mereka. Kadang-kadang saya merasa sangat rindu sampai menangis. Saya ingin memeluk Mom dan Dad, dan ingin menemui Kakek saya yang kabarnya sedang sakit. Bulan Juni ini seharusnya saya berangkat ke Amerika untuk mengikuti sebuah program. Akan tetapi sampai hari ini, panitia program tersebut tidak memberikan ijin bagi saya untuk pulang menemui keluarga di Vermont. Sampai sekarang saya belum memberi tahu The Richardson kalau saya tidak diperbolehkan pulang. Karena saya tahu bahwa kabar tersebut hanya akan melukai hati kami semua.

Akan tetapi, sama halnya seperti saya tidak akan pernah bisa terpisah dari Mama, Papa dan Mas Gading, saya juga tidak akan pernah terpisah dari Mom, Dad, Amanda, Katie, Mary dan Danny. Seharusnya saya tidak perlu khawatir, karena pada akhirnya kita semua akan kembali pada keluarga. Kata orang bijak, “Family is the only rock I know that stays steady.”  Dan bagi saya family is the rock that keeping me steady.

Pesan Sponsor: Lihat http://afsyba-jogja.blogspot.com/ untuk kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar! 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Keluarga Richardson

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s