Dosen Saya Tidak Pluralis

Saya pernah sangat terganggu dengan seorang kawan yang, menurut saya, banyak menyebarkan kebencian (hatred) melalui status dan postingan-postingannya di facebook. Dia banyak memakai kata kafir, menulis lelucon SARA yang tidak lucu, menghalalkan kekerasan terhadap Syiah dan lain sebagainya. Akhirnya saya hapus akunnya dari daftar teman facebook . Saya memang sering lebay kalau masuk urusan agama, sangat sensitif kalau ada orang yang intoleran. Saya tidak suka FPI dan puas sekali ketika masyarakat adat di Kalimantan Tengah dengan tegas dan galak menolak kehadiran FPI (walaupun setelah saya renungkan, ketidak-sukaan saya ini juga bisa kontraproduktif dengan visi pluralisme dan toleransi yang saya miliki, karena benci FPI juga bisa berarti bahwa saya tidak toleran. Tapi itu urusan nanti lah).

Di jurusan tempat saya belajar ada seorang dosen yang banyak ditakuti, mungkin banyak tidak disukai, tapi saya yakin juga banyak yang mengagumi. Saya sendiri termasuk dalam kelompok yang mengagumi, meski kadang-kadang juga takut. Saya kagum karena Beliau ini adalah satu dari beberapa dosen saja yang tampak antusias dengan pekerjaannya. Saya suka dengan dosen yang antusias dalam mengajar, karena menurut saya antusiasme itu akan menular kepada para mahasiswanya. Biasanya, menghadapi dosen yang berdedikasi dan bersemangat seperti ini, saya akan merasa bersalah apabila masuk kelasnya dalam keadaan yang illiterate alias belum membaca buku sebagai bekal kuliah.

Dosen saya ini sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menarik meski terkadang juga kontroversial. Contohnya: Beliau setengah eksplisit meragukan kebenaran Holocaust, Beliau (setengah eksplisit juga) menuduh adanya keterlibatan pemerintah Amerika Serikat sendiri dalam peristiwa 9/11, Beliau seringkali mengajukan pendapat-pendapat yang menunjukkan ketidak-demokratisannya seperti, “Kalau saya jadi Presiden, acara Sentilan-Sentilun itu tidak akan saya perbolehkan,” atau, “Kalau saya yang jadi rektor UGM, tidak mungkin ada yang berani mengibarkan celana di tiang bendera. Pasti sudah saya jewer,” atau, “Saya tidak menerapkan demokrasi dalam keluarga. Karena mengurangi kedaulatan individu itu justru akan mensolidkan hubungan, seperti Uni Eropa.”

Pernyataan lain dari sang dosen yang juga selalu teringat oleh saya adalah ketika beliau berkata, “Saya mengaku bahwa saya ini bukan pluralis. Karena saya beragama Islam ya saya rasa wajar kalau saya merasa bahwa agama saya paling benar,” kemudian beliau menambahkan, “Tapi kan saya tidak perlu menyakiti orang-orang yang beragama lain dari saya.”

Dosen saya ini tidak pluralis, dan Beliau menyatakannya secara terbuka. Saya tertawa, tidak setuju, tapi juga tidak terganggu. Jantung saya tidak berdegup kencang seperti ketika teman saya menulis di facebook, “Freak Shi’ite.” Saya mencoba berpikir mengapa. Lalu saya ingat ketika saya menonton film The Iron Lady, saya baru benar-benar tahu cerita tentang Margaret Thatcher dan mengapa ia disebut sebagai wanita bertangan besi di film itu. Saya geleng-geleng kepala ketika ia ingin menerapkan pajak yang sama bagi semua warga negara Inggris tanpa terkecuali, ketika ia memutuskan untuk tetap meneruskan perang dengan Argentina di Falkland, ketika ia menyebut para buruh yang mogok kerja sebagai “Pemalas-Pemalas.” Saya merasa bahwa Lady Thatcher kejam sekali. Tapi saya tetap mengaguminya, Lady Thatcher adalah pemimpin yang punya sikap. Ia memang perempuan yang keras, dan ia konsisten dengan karakter itu meski hal tersebut membuatnya banyak tidak disukai dan ditekan oleh banyak pihak. Kebijakan kejam yang dibuat Thatcher juga beralasan; pajak yang setara itu memang untuk memperbaiki perekonomian Inggris yang waktu itu hampir kolaps. Menyebut kaum buruh sebagai pemalas bukanlah sesuatu yang baik, tapi Thatcher toh bukannya berfoya-foya sendiri tanpa mengetahui susahnya jadi pekerja. Sebaliknya, saya yakin kalau yang mengeluarkan pernyataan itu adalah anggota DPR kita yang kursinya saja seharga jutaan, dia pasti akan jadi bulan-bulanan di media massa.

Mungkin dosen saya dan Margaret Thatcher memang tidak bisa dibandingkan. Tapi barangkali saya mengaguminya dengan cara yang hampir mirip dengan cara saya mengagumi Lady Thatcher. Mungkin saya tidak banyak setuju dengan pendapat dan pemikirannya, tapi dosen saya ini adalah seorang perempuan yang punya sikap. Ia keras dan konsisten dengan karakter itu, pendapat dan pemikirannya selalu beralasan terlepas dari benar atau salahnya. Selain itu saya rasa Beliau juga punya cara yang baik untuk menyampaikan pemikiran tersebut, dengan sedikit humor, tersenyum (kadang-kadang hampir seperti evil grin sih, hahaha), cerdas dan tentunya ia tidak hendak menyakiti siapapun.

Siang tadi dosen saya berkata, “Dulu waktu saya di Mesir saya pernah punya tetangga orang Yahudi. Ya memang orangnya ngeselin sekali! Ngeyel, banyak tanya!” Saya memekik lalu geleng-geleng kepala, tapi juga sambil tersenyum.

Wonocatur, 28 Februari 2012

Advertisements

3 thoughts on “Dosen Saya Tidak Pluralis

  1. Kritik terbesar puralisme adalah ketika mereka “harus” menghargai orang-orang yang tidak pluralis. FPI membenci pluralis, tapi pluralis harus menghargai FPI sebagai bagian dari “keberagaman” itu sendiri. Memang susah, kritiknya datang dari dalam, bukan dari luar 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s