Kaus Kaki dan Bulu Kelinci

Dulunya saya sudah haqul yakin mau jadi penulis. Email pertama yang saya buat saya namai im_author@doramail.com. Dilihat dari perspektif masa kini memang agak alay, tapi dulunya email itu mencerminkan harapan dan identitas saya. Identitas, karena memang pada saat itu saya sudah mengidentifikasi diri saya sebagai penulis. Agak sombong ya. But I was just a kid, can I just get an excuse?

Saya yang dulu merasa penulis ini paling sering menulis cerpen untuk dikirim ke KR minggu. Hari ini saya menengok kembali klipingan cerpen-cerpen itu (yang disimpan rapi dalam sebuah map oleh mama saya). Tema cerita saya adalah kehidupan sehari-hari. Ini beberapa judul yang pernah saya buat: Membuat Kebun di Halaman, Merangkai Mainan dari Sisa, Tidak Mau Menyisakan Makanan Lagi, dan Kaus Kaki Hasil Menebak.

Terakhir kali saya menulis cerpen mungkin kelas satu SMP. Setelah itu, mungkin istilahnya saya terkena writer’s block. Atau mungkin, saya hanya berhenti berimajinasi. Atau mungkin juga, hal-hal di sekitar saya sudah tidak terlalu menarik lagi. Meski sebenarnya bukan “hal-hal di sekitar saya” yang salah. Maksudnya, saya pernah menulis cerpen tentang kaus kaki! Bayangkan, kaus kaki! Sejak tahun 1990 sampai 2012 benda ini tidak berubah fungsi dan bentuk dasarnya. Tapi dulu, dulu sekali, saya bisa terinspirasi oleh benda itu.

Alberto Knox, guru filsafat Sophie dalam Dunia Sophie pernah berkata bahwa kebanyakan manusia seperti berada di pangkal bulu-bulu kelinci. Dan mereka merasa nyaman di situ, sehingga enggan memanjat naik ke ujung bulu untuk melihat apa yang sebenarnya berada di luar mereka? Di bulu apa atau siapa mereka sebenarnya berada? Dan ada apa lagi selain apa atau siapa yang berbulu itu? Barangkali itulah yang terjadi kepada saya. Semakin dewasa, saya semakin nyaman berada di dalam dunia dan kehidupan saya yang nyata. Saya punya banyak teman di sekolah, naksir bertepuk sebelah tangan, suka main ke mall, cemas dengan kulit yang tidak putih dan jerawat dan lain sebagainya. Akibatnya saya tidak lagi menaruh perhatian pada hal-hal kecil dan sepele, seperti kaus kaki.

kita harus memanjat keluar dari bulu kelinci. foto ini courtesy Tiyaz Nurlaili.

Saya tidak menaruh perhatian, tidak juga mengajukan pertanyaan. Padahal dosen saya Bu Menik pernah berkata bahwa “Pengetahuan baru dimulai dari sebuah pertanyaan.” Saya rasa, cerpen dan tulisan lain juga begitu, diawali dengan sebuah pertanyaan. Contohnya cerpen kaus kaki saya, mungkin diawali dengan pertanyaan, “Apa yang mungkin dilakukan oleh Youri (nama tokoh saya) apabila salah satu kaus kaki putihnya hanyut di sungai, padahal besok Senin ada upacara bendera?” atau apalah sejenisnya.

Saya masih tidak tahu bagaimana caranya membuat diri saya mau untuk memanjat keluar dari bulu kelinci, lalu mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi. Mungkin membuat blog ini adalah sebuah awal, tapi mungkin juga tidak.

Wonocatur, 26 Februari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s